#1 Amazing 22

74 4 1
                                        

"Selamat ulang tahun.... Selamat ulang tahun.... Selamat ulang tahun anakku, semoga panjang umur" Ayah dan Ibu masuk kamarku sambil bernyanyi dan membawa kue ulang tahun dengan lilin angka 22, aku cukup kaget karena aku sedang fokus menyelesaikan desain yang malam ini harus disubmit ke bosku.

"ayah.... Ibu... aku kira ayah sama ibu lupa hari ulang tahunku, padahal aku sudah menunggu ucapan dari ayah dan ibu sejak pagi."

"ibu sama ayah sengaja ngerjain kamu, dan kejutaaaannn...."

"eeeemmmmhh....." aku pura-pura memasang muka cemberut

"sudah... ayo tiup lilinnya Jyen." Perintah ayahku, dan aku langsung bersiap menggembungkan mulutku, tapi tiba-tiba...

"eiittss.... Make a wish dulu dong anak ayah." Ayah sambil menutupi lilinnya dengan tangan, takut kena sembur oleh nafasku *hehehe

"ohh iya, lupa yah." Aku langsung memejamkan mata dan berdoa, lalu meniup lilinnya.

Ayah dan ibu bertepuk tangan dan menghujaniku dengan ciuman.

"anak ayah udah 22 tahun.... Udah siap nikah nih."

"ehh ayah.... Jyen harus lanjut S2 dulu tahun depan."

"nikah terus S2 kan juga gapapa bu...."

"ayah.. ibu.. kok malah berdebat soal nikah sih, lagian ayah nih, Jyen mau nikah sama siapa emang?? Oppa kan belum datang ngelamar... hahahahha"

"yaudah.... Suruh kang Daniel buruan ngelamar kamu kalo gitu."

"kang Daniel siapa yah?"

"itu lo bu.... Mas-mas korea yang Jyen suka ceritain, itu fotonya gede banget gitu." Ayah menunjuk dinding kamarku yang hampir semua tertutup dengan poster Kang Daniel

"ohh si mas ganteng ini.... Kalo ini ibu mau banget punya mantu ganteng kayak gini."

Mendengarkan percakapan ayah dan ibu, aku hanya bias garuk-garuk kepala. Aku memang sangat menyukai segala hal tentang Korea, dan kedua orang tuaku juga sangat mengerti itu. Ayahku pun cukup paham dengan oppa-oppa yang aku idolakan, tapi kalau ibuku sering lupa dan kadang tidak bisa membedakan mereka. Aku sangat beruntung terlahir dikeluarga yang sangat mendukung passionku dan penuh keceriaan seperti ini.

"ayah... ibu... kenapa ayah sama ibu jadi ikut-ikutan halu gini sih, ngarepin Kang Daniel jadi suami Jyen. Padahal aku udah mulai menyadarkan diri lo."

"hahahaha..... kan kita berdua mendukung kehaluan kamu nak."

"huuu.... Dasar ayah." aku memukul lembut ayahku

"ehh... ibu sama ayah punya sesuatu lagi buat kamu, dan ibu jamin kamu pasti bakal seneng setengah mati."

"emang apaan bu??" aku mengrenyitkan dahi

Ibuku kemudian memberikan sebuah amplop berwarna merah marun yang dari tadi diselipkan dibalik kerudungnya.

"tadaaaaa....." ayah dan ibu kompak berteriak

Dengan perasaan heran melihat tingkah konyol kedua orang tuaku, aku mengambil amplop itu.

"emm.... Kalo dirasa-rasain kayaknya tipis nih isinya. Ini cek ya yah... bu..?"

"e... ee... eem.... Lebih dari itu." Ayahku menggeleng-gelengkan kepalanya

Aku memutuskan untuk membuka dan melihat isi dalam amplop tersebut. Didalam amplop itu berisi sebuah kertas HVS yang dilipat, aku membaca isinya perlahan, hal pertama yang menarik perhatianku, di lembar kertas HVS itu ada gambar member WANNA ONE dan tulisan ONE THE WORLD. Oh my GOD, ini adalah e-tiket konser Wanna One, dan yang membuatku lebih semangat lagi itu bukan konser mereka di Indonesia tetapi di Singapura.

"uwaaaaaaaaaa......... " seketika aku melonjak kegirangan dan membanjiri ayah-ibuku dengan ciuman.

"ayahhh.... Ibuu..... ini bener-bener lebih indah daripada cek 1 milyar."

"tuhh kan, ibu bilang apa kamu pasti senengnya gak ketulungan."

"ayah sama ibu kok bias punya ide ini sih??? Aku terharu banget" aku memeluk ayah dan ibuku lagi

"kamu kemarin kan sempet cerita kalo kang Daniel mau datang ke Indonesia buat ngelamar kamu, ehh... maksud ayah buat konser. Tapi kamu bilang kamu gak bias liyat soalnya pas tanggal itu kamu ada presentasi sama investor Jepang kan. Nah makanya itu ayah sama ibu dapet ide buat ngasih kamu hadiah tiket konser ini." Ayahku cekikikan pas bilang kang Daniel datang mau ngelamar *emang dasar ayah J

"iyaa.... Terus ibu minta tolong deh sama anaknya tante Mira, temen ibu yang tinggal di Siangapura buat nyariin tiketnya. Tiket ini dapetnya susah lohh... Sisil sampe begadang katanya."

"ohya bu.... Jadi Sisil yang nyariin tiket. Wahh... aku ntar musti bilang makasih sama dia nih."

Sisil itu temen anak tante Mira, kita dulu pernah sekelas waktu SMP lalu dia dan keluarganya pindah ke Singapura setelah lulus SMP.

Your NameWhere stories live. Discover now