"Anjir hujan." Ucap Edgar lantang sambil berlari kecil.
"Mau duduk?" Tawar Yena.
"Nah gitu dong. Capek gue tadi habis lari lari." Ucap Edgar.
"Gue suka hujan." Ucap Yena sambil memandangi air hujan. Memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Kok sama,"
"Jangan jangan jodoh nih." Lanjut Edgar santai.
"Jodoh palalu." Ucap Yena, memutar bola matanya malas.
"Kalo kita emang jodoh gimana?" Ucap Edgar asal.
"Baru juga ketemu. Ngaco lo ah." Ucap Yena cuek.
Hening.
"Lo," Ucap Edgar.
"Lo," Ucap Yena.
Ucap mereka berbarengan. Edgar menggaruk tengkuk nya. Yena menundukkan kepalanya. Suara air terdengar, tanda bahwa suasana mendadak hening lagi.
"Lo duluan." Ucap Edgar, memecahkan keheningan diantara mereka.
"Lo aja duluan."
"Ladies is first." Ucap Edgar tegas.
"Lo darimana? Kok baru keluar. Biasannya anak anak kalo tau cuaca mendung gitu langsung cabut pulang." Jelas Yena.
"Tadi gue dipanggil ke ruang guru." Jawab Edgar.
"Oh. Lu tadi mau nanya apa?"
"Lo kok belum pulang? Nunggu jemputan?" Tanya Edgar heran.
Yena diam.
"Hey! Kuping lo lagi bermasalah?" Ucap Edgar sambil menepuk bahu Yena.
"Eh,"
"Tadi lo tanya apa?" Lanjut Yena.
"Jadi daritadi gue ga didengerin gitu?" Sindir Edgar.
"Bukan gitu."
"Eh lu mau hujan hujanan nggak?" Ucap Yena. Mengalihkan pembicaraan.
"Ga."
"Ayolah, enak loh main hujan hujan."
"Kayak anak kecil lu." Ledek Edgar. Yena cemberut. Edgar yang melihat itu tertawa.
"Yaudah kalo lo gamau hujan hujan, gue aja ." Ucap Yena.
Yena meletakkan tas nya di tempat duduk yang tadi ia duduki. Detik kemudian, Yena berjalan kecil menuju lapangan. Rambut hitamnya yang indah mulai terkena rintihan hujan.
Yena tersenyum ke arah Edgar. Sedangkan, Edgar terkekeh pelan melihat Yena. Yena melambai lambaikan tangannya ke arah Edgar, mengajak Edgar untuk bergabung bersamanya. Edgar menggeleng pelan sambil terkekeh.
Yena melangkahkan kakinya ke arah Edgar. Disana Edgar masih terkekeh melihat rambut Yena yang sudah berantakan terkena air hujan.
"Lo gamau temenin gue hujan hujanan?" Tanya Yena.
"Gue gamau tuh." Ucap Edgar. Dengan nada menantang.
"Tapi gue ga nerima penolakan tuh." Ucap Yena tegas. Tanpa aba aba, ia menarik tangan Edgar. Edgar dengan cepat melepaskan tas nya ke udara.
Tubuh Edgar sudah terkena derasnya hujan. Yena tertawa, rencananya berhasil. Edgar memasang wajah tidak terima.
"Awas ya lo." Ucap Edgar sengit. Yena sontak tertawa. Edgar mencubit pipi gembul Yena.
"Sakit bego." Ucap Yena sambil mengelus ngelus pipinya. Edgar sontak tertawa. Yena memukul punggung Edgar berkali kali. Edgar meringis kesakitan.
"Rasain nih." Ucap Yena lantang.
"Sakit anjir, Udah woi." Ucap Edgar kesakitan. Edgar menoleh ke arah Yena, begitupun sebaliknya.
Mereka saling pandang.
Kemudian..
"Heh."
"Hah?"
"Ada ulat bulu di rambut lo." Ucap Edgar.
"MANA HAH?"
"Tapi boong." Ucap Edgar, kemudian tertawa terbahak bahak.
"ANJIR! BEGO LU AH!!" Ucap Yena samnil memukul bahu Edgar. Edgar meringis kesakitan, berusaha meminta ampun pada Yena.
Yena berhenti memukul Edgar. Mungkin Yena sudah lelah. Edgar bersorak senang.
"Eh btw kita belum kenalan." Ucap Edgar sambil tersenyum ke arah Yena.
"Terus? Mau kenalan gitu?" Sengit Yena.
"Lo nya mau kenalan apa nggak?"
"Kalaupun gue gamau, lo pasti bakal ucap nama lo." Ucap Yena. Edgar tersenyum.
"Itu tau. Nama gue Edgar, lo?"
"Yena."
"Nama itu..." Ucap Edgar pelan.
"Napa?" Tanya Yena.
"Kayak nama pembantu gue." Ucap Edgar jahil. Edgar tertawa, dan seperti yang tadi Yena kembali memukuli Edgar.
Hujan menjadi saksi atas pertemuan mereka. Dibawah hujan Yena berdoa agar kehidupannya membaik. Edgar juga senantiasa berdoa agar kucing kesayangannya punya pacar, biar ga jomblo lagi.
^_^_^_^
A/n
Annyeong haseyo.
Ini cerita pertama aku. Semoga kalian suka (●>∪<●)
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL VOTE YA :)
Sekian dari adeknya selena.
YOU ARE READING
SECRET
Teen FictionEdgar Brillian Grissham. Cowok genius yang dikagumi para wanita. Paras wajahnya yang menawan membuat semua orang terpukau melihatnya. Sang pembuat onar yang mengikuti banyak olimpiade, menjadikan ia murid teladan bagi para guru. 'king handsome' 'per...
