Hujan,
Selamat datang hujan,
Lama aku merindukan senyawamu. Senyawa dengan wangi angin, air, tanah, dan rerumputan. Senyawa "petrichor" yang menyejukkan relung paru-ku.
Selamat datang musim pembawa kenangan. Dalam setiap rinai-nya, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu. Dan hari ini, aku merindukanmu. Rindu di masa itu.
Kamu berkali-kali mempertanyakan perasaanku padamu yang sesungguhnya saat itu. Saat dimana kita menghabiskan hari libur kita untuk sampai ke air terjun di kaki gunung itu. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaanmu. Senyumku entah mengapa terasa membuatmu semakin penasaran, tak sabaran. Tapi, kamu akhirnya tersenyum juga. Bagiku, kamu pasti tahu apa yang aku rasakan saat itu. Perasaan yang tercermin di senyumku saat kamu menggenggam tanganku, membawaku, menjagaku di setiap pijakan langkah kaki kita di jalan setapak yang berundak-undak.
Tepat di depan telaga biru itu, aku menghentikan langkah. Kamu beranjak ke aliran air yang jernih dan meminumnya. Aku mengikuti setiap apa yang kamu lakukan, dan merasakan air yang begitu sejuk mengalir di tenggorokanku, membasahi mukaku. Kamu tersenyum lagi melihat tingkahku dan mulai mendekatiku.
"Entah berapa puluh kali aku mempertanyakan ini padamu," katamu dengan suara yang sama sejuknya dengan udara gunung ini. Ia diam sejenak, membiarkanku mencerna perkataannya, membiarkanku meresapi suara burung-burung yang bercengkrama, meresapi suara-suara serangga yang memekik-mekik ria di setiap pepohonan.
"Telaga ini bisa berubah-ubah warna," lanjutnya mengalihkan pembicaraan sambil memandangi genangan air yang luas. "Biru, hijau, atau merah, tergantung dari plankton-plankton dan ganggang air yang hidup di dalam air-nya," katanya lagi. Suaranya sangat tegas. Setegas ia bercerita padaku kalau dulu ia seorang pecinta alam, pembuka jalan bagi para pendaki di Gunung Lokon, Manado, Sulawesi Utara.
"Air telaga saja bisa berubah-ubah, maka tak ada keniscayaan perasaan seseorang pun dapat berubah," lanjutnya, sambil tersenyum. Lesung pipi-nya membuatnya terlihat manis dan lebih muda daripada usianya. Aku tahu, pasti ujung-ujungnya menjurus kembali lagi pada pertanyaannya.
Aku hanya terkekeh pelan. "Kamu bertanya padaku berpuluh-puluh kali," jawabku sambil menimbang perasaan. "Dan berkali-kali pula pasti aku menjawab dengan jawaban yang sama," jelasku. Sambil lalu, aku meneruskan langkah kakiku berlalu meninggalkan Telaga Biru dan dirimu yang hanya diam disana. Beberapa waktu sejenak, kamu mengejarku.
Dua ribu enam ratus meter jalanan yang menanjak, akhirnya kita lalui. Meski kedua kaki terasa berat, dan nafas terasa pekat, aku bahagia sekali bersamamu. Bahagia memandangi air terjun dengan dinding bukit berwarna merah. Dindingnya berwarna merah karena ditumbuhi lumut-lumut berwarna merah. Sungguh indah.
Paru-paruku terasa lega. Hidungku sepuas-puasnya menghirup udara dari setiap percikan-percikan halus air terjun. Dan kamu, tak henti-hentinya tersenyum memandangku yang kagum dengan keindahan alam ciptaan Tuhan.
Selepas bermain air satu jam lebih lamanya, kamu menuntunku lagi untuk turun. Langit saat itu mendung. Entah bahagia atau merasa sedih, aku tak peduli dengan kondisi. Yang terpenting bagiku saat itu adalah bersamamu, meski kamu tak pernah mendengar perasaanku yang sebenarnya dari mulutku.
Titik-titik air mulai jatuh. Butir-butirnya membasahi tanah yang melicinkan jalan setapak yang menurun. Kamu berkali-kali memperhatikanku. Mengawasi setiap kaki-ku dalam berpijak. Mengarahkanku, batu yang mana yang harus aku lalui.
Kita harus berhenti sejenak, memberikan langkah pada penduduk-penduduk setempat untuk kembali ke tempat mereka masing-masing dari puncak sana. Kita juga memberikan ruang bagi para pendaki yang sudah turun dari gunung. Baru kemudian, kita melangkah lagi, melangkah lagi dengan hati-hati.
"Sedikit lagi sampai," katamu. Tapi, hujan tak meredakan tetesan airnya, malah hujan semakin membasahi setiap apapun di hutan ini. Aku merasakan jaketku sudah berat terbasahi air. Tetesan-tetesan air pun bergulir satu per satu dari rambut ikalku. Tetesan-tetesannya meresap ke dalam bajuku, menempel di kulitku. Dan gigiku tak henti-hentinya bergemeretak kedinginan.
Kamu membawaku ke sebuah pos di pinggir jalan setapak. Kamu tahu aku kedinginan. Aku melihatmu basah kuyup. Tetesan-tetesan air jatuh dari rambutmu, dan aliran-aliran air berada di wajahmu. Kita berdua basah kuyup dan kelelahan. Aku duduk di pinggir pos sambil mengambil nafas. Kamu juga menyenderkan badanmu di dinding pos di sebelahku.
Diam semakin membuatku kedinginan. Dan kamu mendekati-ku. Matamu memandang mataku dalam. Ia tersenyum simpul. Ibu jarinya mengusap aliran air hujan di pipiku. Aku tersenyum dan seketika membeku saat wajahmu mulai mendekati wajahku. Aku hanya kaku dan mata terpejam, mulai menimbang-nimbang membalas atau tak membalas kecupan bibirmu nanti. Sementara, aku mulai merasakan nafasnya di wajahku. Aku masih terpejam, menunggu dengan jantung yang berdetak dengan hebat.
Sejenak kemudian, ia melepaskan sentuhan di pipiku. Nafasnya pun tak dapat lagi aku rasakan di wajahku. Sesaat kemudian, aku mendengar sayup-sayup suara mendekat. Terdapat dua penduduk desa yang turun dari puncak lagi melewati pos kami, ketika aku membuka mata. Keduanya memakai daun pisang untuk menghela hujan yang masih deras.
Kamu sudah tak berdekatan lagi denganku. Kamu sudah berada di ambang pintu pos dan menyapa kedua penduduk itu dengan ramah. Kamu kemudian tersenyum padaku dan memintaku melanjutkan perjalanan menuruni gunung ini.
Aku mengikutimu sambil tersenyam-senyum sendiri. Setibanya di bawah, kamu mempersilakan aku untuk menggunakan kaos setengah lengan dan jeans abu-abu milikmu untuk aku pakai. Ia tahu, bajuku sudah habis basah semua. Sementara kamu saat itu hanya memakai basic pants- hitammu dan jaket tebalmu.
Saat itu, aku sangat menyukai hujan. Setelahnya, aku menghirup wangi angin, tanah dan rerumputan. Senyawa petrcihor yang sangat menyejukkan, membuat paru-paruku lega. Dan kamu, bagiku adalah senyawa yang membuat hatiku lega.
------------------------------------------------bersambung ke part 2---------------------------------------------------
YOU ARE READING
Hujan dan Nyamuk Nakal
RomanceAku mengingat lagi semua kisah tentang kamu. Kisah bagaimana sang petrichor mampu membawa lagi semua kenangan-kenangan indah di awal aku mengenalmu. Tapi, seekor nyamuk nakal selalu menggangguku dengan dengungannya di telingaku. Aku tak bisa menepuk...
