Sudah ku katakan, aku benci dengan pesta. Yeah, meski aku akui dekorasi pesta ulang tahun sahabat karibku ini sungguh mewah dan indah.
Lampu-lampu perak dan emas berkerlap-kerlip di sepanjang pepohonan di taman belakang hotel ini. Lampu-lampu berbentuk hati dan lampion juga mengambang di pinggir-pinggir kolam renang. Lampu-lampu kerlap-kerlip berwarna putih kebiruan melilit kayu-kayu dari gazebo di sudut taman.
Suasananya tentu saja ramai dengan banyak celotehan para wanita yang bergaun indah dan para pria yang memakai jas dengan dasi kupu-kupu mereka. Ada yang berangkulan, ada yang saling menggenggam tangan, dan hanya berdiri berpasangan saja. Yang membuat pikiranku terganggu adalah Sherly yang bergaun pink lembut dengan bahan sutra dan berdada rendah itu sedari tadi dirangkul oleh pria yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Sejak kapan Sherly punya pacar? Aku tak tahu atau memang aku yang belakangan tak peka dengan sahabatku sendiri?
Aku hanya duduk di bangku gazebo yang terlilit lampu-lampu putih kebiruan. Aku malas untuk menghambur dan bercengkrama dengan mereka, tapi Sherly mendapatiku ketika aku memperhatikannya dengan pria itu. Sherly dengan lembut berjalan ke arahku dan merentangkan tangannya menyuruhku mendekatinya. Aku hanya menggeleng kepadanya, namun Sherly segera mendekat dan kini menarik tanganku untuk bangkit dan mengikutinya.
"Gals, ini sahabat terbaikku yang pernah ada, Annavita Zaen," kata Sherly kepada tiga gadis berpasangan dengan pria mereka dan satu pria yang ada di sisinya. Tiga gadis yang dikenalkan Sherly memandangku dari atas sampai bawah. Hei, memang ada yang salah dengan penampilanku? Rambut ikalku hanya aku kuncir satu ke atas, dan aku memang tidak memakai gaun seperti mereka, aku memakai rok shiffon berwarna toska yang senada warnanya dengan blues lengan buntung berkerah. Dan satu lagi, mereka berekspresi ngeri ketika melihat kacamataku yang tebal.
"Anna," aku memperkenalkan diriku sendiri untuk menutupi ketidakpercayaan diriku pada tiga gadis yang cantik-cantik itu. Mereka bertiga hanya tersenyum pada ku, namun salah seorang pemuda yang merangkul gadis bergaun silver mulai membuka obrolan.
"Halo Anna, senang ketemu kamu. Kau berkerja kah atau masih kuliah?" tanyanya lembut. Dari wajahnya aku sudah mengetahui kalau pria ini suka flirting dengan cewek lain, jadi dia fine-fine saja menyapaku.
"Ya, aku bekerja di sebuah majalah wanita, Belle," jawabku. Ketiga gadis dihadapanku sontak menoleh kepadaku. Ekspresi mereka antara kagum, tidak menyangka dan tidak senang mendengarnya. Ya, siapapun tahu Belle adalah majalah wanita terkemuka di kota ini.
"Benarkah?" tanya si gadis bergaun silver agak ramah dari sebelumnya. Aku hanya mengangguk senang. Diam diam aku merasa wajahku sedari tadi dihunus tatapan seseorang. Sambil menjawab pertanyaan si gadis bergaun silver itu, aku agak melirik ke sumber pandangan. Astaga! Ternyata yang dari tadi memandangiku pria di sisi Sherly.
"Iya, benar, Anna sangat pandai menulis. Tulisannya sudah beribu-ribu di majalah Belle," Sherly menambahkan. Sementara pandanganku memang sekilas ke arahnya namun langsung terfokus pada pria di sebelahnya.
Pria itu setinggi kurang lebih 175cm, rambut hitamnya mengkilap, wajah cerah dan hidungnya mencuat. Namun, alis tebal dan bola mata cokelat muda-nya seperti aku pernah lihat sebelumnya. Aku yakin pernah melihatnya sebelumnya. Pria di sisi Sherly yang aku pandangi itu, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku lupa!" kata Sherly membuyarkan pandanganku ke pria itu. Kenalkan, ini Eric, pacarku, kata Sherly sangat antusias dan senang. Pria di sisi Sherly itu tersenyum dan mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. Alis tebal dan bola mata cokelat muda-nya itu membuatku teringat pada pertemuanku dengan pria yang hampir mirip dengan Eric ini. Tapi, aku yakin ini adalah orang yang sama.
"Pacarmu mana, Ann?" tanya si gadis bergaun silver. Pertanyaannya membuatku tersontak dan menyadari bahwa hanya aku satu-satunya yang tidak mempunyai pasangan di lingkaran percakapan ini.
"Anna menjomblo sudah hampir tiga tahun," kata Sherly. "Dia terlalu sibuk berkencan dengan tulisan-tulisannya, hehehe." Tambah Sherly sambil terkekeh dan disambut dengan kekehan semua teman-temannya itu. Aku hanya tersenyum, namun tak tersinggung pada ucapan Sherly, karena memang benar itu adanya.
----------- bersambung part 2 ------------
YOU ARE READING
3 HARI CINTA
ChickLitAnna dituntut untuk meliput "Kekasih Sewaan" yang sedang trend. Awalnya, Ia menolak, namun orangtuanya mengancam akan menjodohkannya dengan pria pilihan. Menyewa kekasih menjadi sebuah pilihan. Tapi, ternyata ketika Anna sudah menaruh hati pada Eric...
