Ti Amo

114 7 13
                                        

CAST

 Mackenyu Arata As Ken Arata

 Suzu Hirose As Leann Miura

***

Desauan angin mebawa helaian rapuh mahkota hitamku. Mengalunkan lantunan larik-larik berirama, seirama dengan hembus nafasku yang menoreh ruang lepas.

Diatas puncak hijau, pijar cahaya kemerahan dari sang mentari melatari tempatku berpijak saat ini.

Lembah memori.

Untuk menunggunya.

"Tunggu aku disana."

Sejenak, aku tersenyum untuk sekedar mengucapkan terima kasih pada alam yang masih setia menemaniku sehingga aku tak merasa sendirian.

Angin menyapu senja, menampakkan kemerahan langit senja. Aku selalu menikmatinya, menikmati sensasi alam yang begitu memabukkan.

Dan untuk alasan lain, karena tak berapa lama lagi aku dapat menggapai tubuhnya tuk ku rengkuh.

Suara derak rumput terinjak menyapa indera pendengaranku. Seolah meneriakiku bahwa seseorang telah datang.

Dan kupastikan itu adalah dia.

"Leann.." panggilnya lembut.

Entah mengapa tiba-tiba senyumku meluruh, merapuh lalu hilang. Bibirku lebih memilih mengkhianati abjad. Beralih dengan pacuan jantung sebagai panggilannya.

Derap langkah itu semakin mendekat. Suaranya makin menyambar gendang telingaku. Aku dapat mendengar desir darahku mengisi kebisingan lain. Hingga kedua tangan melingkar seutuhnya menguasaiku, memaksaku menurutinya bersandar pada dada lapangnya.

Aku tauh dia tersenyum. Pipinya melebar menampilkan deretan gigi putihnya. Sekali lagi, dinamika hembusan nafasnya membelai puncak kepalaku.

"Aku merindukanmu, Leann."

Akupun sama seperti itu, kataku dalam diam lalu kembali memohon maaf dalam hati, karena bibirku masih tak mau berdamai dengan abjad.

Dan hanya sebatas ini kemampuanku, aku tersenyum membelai lembut tanganya. Jangan salahkan dirimu, ini semua adalah salahku yang begitu bodoh tak mampu menguasai perasaanku sendiri.

Haruskah aku berteriak pada sang langit kalau moment ini adalah saat yang paling membahagiakan?

Ku rasa itu tidak!

Ini hanya salah satu dari sekian banyak adegan bersamamu yang telah kita lalui sebelumnya. Tapi tetap saja aku akan menyebutnya hal terindah. Jangan sebut aku pujangga roman picisan, karena perasaan ini murni tak sebanding dengan roman aneh yang pernah kau baca.

"Kau baik-baik saja?"

Tidak, Jika itu mengenai kau.

Kurasa keselamatan jantungku menjadi prioritas saat ini. Hanya mendengar kau menghembuskan nafas saja, pacuannya semakin memuncak.

Jangan terlalu berlebihan menganggap ini, Leann.

"Maafkan aku, aku meninggalkanmu terlalu lama."

Tak apa. Haruskah aku meminta maaf untuk hal bodoh seperti ini?

Maaf harusnya aku tak menyebut perasaan rindu pada kekasihmu sebagai "hal bodoh". Maksudku, biarlah itu berlalu sekarang kita nikmati saja waktu yang ada.

"Tidak apa."

Baiklah Leann. Berapa kata 'Haruskah' kau tanyakan pada dirimu sendiri? Haruskah ku katakan bahwa jawabanmu sungguh tidak diharapakan? Berulang kali kau sebutkan kata 'tak apa' dalam hati berikut sederet penjelasannya lalu mulutmu hanya mengucap 'tak apa'?

About Us!Where stories live. Discover now