kelulusan

116 13 80
                                        

#Part1

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

#Part1

       Menggapai cita-cita yang tinggi adalah hal yang diinginkan setiap anak. Namun, tidak bagi Airin atau sering di sebut Alin ia adalah gadis desa berumur enam belas tahun. Tidak bisa melanjutkan sekolah.
    Sang Ibu dan Ayah yang hanya penjual sayuran di pasar tidak bisa berbuat banyak. Karena memang uang yang di hasilkan jualannya tak cukup untuk menyekolahkan kedua anaknya.

"Yeeeeaaaahhh akhirnya kita lulus ya kawan," teriak Nabila pada teman sahabatnya.

"Yooii ke kantin yuk ah, gue traktir nih," sahut Caca bergembira.

"Cuuss laah," teriak Airin dan Syifa.

Mereka adalah empat sahabat yang baik. Di sekolah tak pernah bolos atau berbuat onar.

"Eh eh kalian mau pada lanjut sekolah di mana nih?" tanya Nabila.

"Gak tau nih aku bingung males sebenernya tapi Ayahku kekeh suruh aku sekolah di SMA dua," jawab Caca.

"Tau ga siih aku di suruh mamah ku sekolah sambil pesantren tau. Kan puyeng," timbal Syifa.

Airin hanya tersenyum mendengar cerita teman-temannya, lalu segera menunduk karena bingung.

"Kamu mau lanjut kemana, Lin?" tanya Caca

"Hmm, gak tau aku bingung." Kini tangan Airin menompang kedua pipinya.

"Bingung kenapa, Lin?"  Nabila mengerutkan dahinya.

"Apa mau langsung menikah ya," ejek Syifa dan yang lain tertawa.

"Tahun ini adeku juga lulus dari sekolah Dasar, Ibuku hanya bisa melanjutkan sekolah salah satu anaknya atau tidak sama sekali." Suara alin merendah.

"Trus trus?" Syifa penasaran.

"Sepertinya aku mengalah deh untuk tidak melanjutkan sekolahku. Kasihan adeku kalo dia hanya sampai sekolah dasar saja. Jadi biar Ibuku adil menyekolahkan anak-anak nya, sama sama sekolah menengah pertama." Airin menangis.

"Yah lin gimana dengan cita-citamu, lin?" Caca menghelakan napas.

"Iya lin katanya kita bakal sekolah disatu sekolahan yang sama kita bareng-bareng lagi lin," ucap Nabila

"Aku juga ingin seperti itu, tapi apalah daya. Aku sekolah disini aja dapet beasiswa." Isak tangis Alin makin deras.
Suasana jadi sunyi kantin terasa redup saat mereka memeluk erat tubuh Airin dan menangis bersama.

#######

"Bagaimana sudah di rundingkan siapa yang mau lanjut sekolah?" tanya Ibu santai.

"Ka Alin aja"
"Chika aja"
Mereka saling melempar suara bersamaan.

"Loooh kalo dua-duanya Ibu tidak sanggup nak kamikan hanya mengandalkan hasil jualan kami di pasar," jawab ibu bersedih.

"Ka Alin aja bu Chika males sekolah enakan di rumah bebas gak punya Pr dari Sekolah haha." Chika tertawa lebar.

AirinStories to obsess over. Discover now