In the Middle of August
"Jadi, ini malam minggu pertama kita ya?" tanyamu. Lalu aku tertawa saja menanggapinya. Teman-teman kita yang lain sedang asik menikmati kopi dan mie rebusnya. Sambil sesekali melontarkan kata "cie" dan memotret kita. Katanya mengabadikan kenangan.
Kenangan ya? Ngomong – ngomong soal kenangan, aku bukan tipe orang yang sering mengenang lewat gambar. Meski sesekali memang pernah. Umumnya kenangan yang kumiliki adalah yang tersimpan dalam memori. Biasanya aku tidak pernah lupa pembicaraan bahkan suasana sebuah momen yang kuanggap spesial. Itulah yang kusebut kenangan. Pembicaraan kita malam ini contohnya. Kurasa memang sepele, tak ada obrolan penting yang terjadi, tapi bagiku benar-benar berarti. Kita baru tiga hari jadian, dan kita memutuskan untuk jalan-jalan bersama teman-teman.
Malam ini kamu duduk tepat di sampingku, di sebuah mobil yang isinya kita ber-delapan. Ada aku, kamu, Bang Iko, Bang Ari, Bang Fatih, Kak Ara, Bang Roz, dan Kak Ika. Malam ini, Bang Ari yang menyetir. Kita melewati Kelok 44, tujuan kita adalah melihat danau Maninjau dari ketinggian. Menurut pengakuan Bang Ari, dia baru pertama kali bawa mobil melewati kelok 44 yang ekstrim. Jadilah Bang Iko selaku sopir profesional memberi instruksi untuk Bang Ari. Beberapa kali suasana sempat menegangkan dan sesekali sangat - sangat menegangkan. Kak Ara dan kak Ika bahkan sempat terpekik, sedangkan aku otomatis terpejam seperti biasa. Jantungku dag-dig-dug tidak karuan, aku benar-benar takut terjadi kecelakaan. Tapi kemudian, tanganku terasa hangat, setelah kuperhatikan, ternyata kamu menggenggamnya.
Katamu, "tak apa, kita baik-baik saja. Jangan takut ya..."
aku terdiam, melihat matamu yang lambat - lambat kembali terpejam. Kamu tidur sambil bersandar di kursimu, dan kita, kembali diam.
Mobil kita berhenti di sebuah pondok makan di kelok yang ke-28. Di sanalah kita duduk berdua, Bang Ari PDKT dengan Kak Ika, sisanya merecoki suasana. Haha. Melihat danau Maninjau dari ketinggian memang indah ya? Kerlip lampu di sekeliling danau menambah kesan romantis, bersama kamu tentu saja jadi lebih romantis. Aku bercerita padamu bahwa Maninjau menjadi suatu tempat yang sangat spesial bagi Ayukku (Kakak). Dulu dia KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Maninjau, setiap pagi melihat danau Maninjau, dan jatuh cinta pada kilau Maninjau. Kamu juga bercerita, sejak kita KKN, kamu lebih suka pulang ke Rumahmu lewat Maninjau. Meski lebih jauh, bagimu perjalanan pulang lewat Maninjau termasuk ke dalam daftar jalan-jalan.
Ah, ada-ada saja. Aku hanya tersenyum simpul mendengarmu bercerita. Agaknya kamu adalah orang yang sederhana, bahagiamu juga sederhana, tak perlu mewah, cukup hal-hal kecil saja. Sejak malam ini aku semakin suka padamu, dan ingin menyelam lebih jauh ke dalam hidupmu. Semoga kau tak keberatan dan mengizinkanku.
Beberapa jam berlalu, di perjalanan pulang, posisi duduk kita berubah karena aku masuk mobil duluan. Meski Kak Ika sempat memintaku turun lagi supaya aku duduk di sebelahmu, aku tidak mau. Gengsi tahu kalau mereka sampai tahu aku memang ingin duduk di sebelahmu. Akhirnya, Kak Ika menyerah, dan kamu duduk di sebelahnya. Lagi – lagi kamu tertidur sambil bersandar di kursimu, sedangkan kak Ika dan Kak Ara meringkuk di pahaku. Seperti yang dilakukan seorang ibu pada anaknya, kulanjutkan mengelus-elus pundak mereka agar tertidur pulas. Hingga selang beberapa waktu, kepalamu jatuh hampir mengenai Kak Ika.
"Nara...Liat Digo Ra." Katanya.
Aku langsung mengangkat kepalamu, dan membenarkan lagi posisi tidurmu. Beberapa menit kemudian aku minta dicarikan masjid atau kios bensin terdekat. Aku mau pipis, kataku. Jadilah mobil itu berhenti di depan sebuah masjid. Ketika aku turun, kamu juga ikut menemaniku atas permintaan teman - teman. Hanya beberapa menit saja, kamu menungguiku di depan masjid dengan wajah mengantuk, tapi kemudian kamu memintaku untuk menungguimu, katamu kamu juga ingin pipis.
Kita kembali ke mobil tanpa kata. Ketika memasuki mobil, ternyata posisi duduk kita kembali seperti semula. Yes ! mission complete. Ssssttt....kamu diam saja ya. Aku sengaja minta turun, supaya bisa duduk di sebelahmu lagi. Hehe.
YOU ARE READING
Time to Remember
RomanceAku terdiam di sudut bandara, menggenggam buku biru yang terlihat lusuh. Tangisku tertahan, pandanganku berkunang-kunang. Dalam waktu terdiam yang cukup lama, otakku hanya mampu mengenang dan tenggelam di masa silam.
