Dunia ini diciptakan dengan segala kesempurnaan oleh Yang Maha Besar dan Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, tidak ada satupun diantara makhluk-Nya yang sempurna. Tidak satupun. Semua makhluk terutama manusia tau akan hal itu. Mungkin tidak semua, tapi sudah seharusnya mereka tau. Berbeda dengan Viona. Gadis cantik berambut panjang bergelombang berwarna cokelat tembaga itu bukan hanya tau, tapi juga mengerti. Ia benar-benar tau dan mengerti bahwa tidak ada mahkluk Tuhan yang sempurna. Terlebih saat ia memikirkan tentang dirinya. Meski tubuhnya ramping dari leher sampai ke ujung jari kakinya yang panjang sehingga ia selalu terlihat menawan mengenakan pakaian apa saja, rambutnya selalu terlihat indah dan berkilauan dibawah terpaan sinar matahari meski tanpa sampo mahal apalagi kondisioner, hidungnya mancung dan terlihat unik, bola matanya biru keabu-abuan mirip orang Rusia meski ia asli keturunan Amerika Selatan, dan kulitnya putih pucat dan penuh bintik-bintik merah khas orang latin, tapi...
"Kalau jalan lihat-lihat dong! Apa kamu tidak lihat kalau ada orang di depanmu? " bentak pria tua dengan kasar meski Viona sudah berkali-kali mengucapkan kata 'maaf' sambil menundukan kepalanya tanda rasa bersalah. Pria tua kasar itu pergi begitu saja meninggalkan dengusan kesal seakan sama sekali tidak menyadari permintaan maaf yang begitu tulus yang keluar dari bibir Viona.
"Maafkan Viona, Tuan. Viona tidak bisa melihat," batin Viona sambil menghembuskan nafas pasrah perlahan kemudian kembali melangkah pelan di atas trotoar yang menurutnya begitu ramai. Ya, ia tau dari ramainya suara hentakan kaki yang membuatnya agak ragu untuk melanjutkan perjalanannya mencari pekerjaan. Tongkat kayu yang ia temukan di pinggir jalan setia menemani setiap langkah pelannya yang penuh kekhawatiran barangkali ia akan menabrak orang lagi. Meski buta sejak tujuh tahun yang lalu, Viona masih saja tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia masih suka menabrak orang lain di sekitarnya meski sudah dituntun dengan tongkat. Itulah yang kadang membuatnya merasa sangat putus asa menjalani hidup. Terlebih dengan kepergian yang ibu saat berumur sepuluh tahun, tepat beberapa hari setelah kecelakaan yang membuatnya buta seumur hidup dan kepergian sang ayah saat pemakaman ibu yang membuat Viona mempunyai pikiran kalau sang ayah memiliki hubungan dengan wanita lain. Sejak saat itu, Viona berjuang sendiri menjalani hidupnya yang penuh rintangan, dengan prasangka buruk terhadap sang ayah.
"Permisi, apakah Anda membutuhkan pelayan tambahan?" tanya Viona penuh harap sambil memegangi tangan seseorang saat memasuki salah satu kafe tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Ditunggu beberapa detik, sama sekali tidak ada jawaban yang Viona dengar. Yang terdengar hanyalah suara jeritan para pelanggan yang lelah mengantri diselingi suara ramah para pelayan yang membuat rasa harap dalam diri Viona semakin besar. "Maaf, bisakah saya bicara dengan pemilik kafe? Ada yang ingin saya bicarakan."
Lagi-lagi tidak ada jawaban yang Viona dengar. Viona melepaskan genggamannya perlahan, bukan karena lelah didiamkan melainkan karena ia sadar bahwa yang ia genggam sedari tadi adalah tangan seorang pria.
"Hei! Ngapain kalian berdiri berdua di depan pintu begini? Kalian membuat para pelayan pergi! Sana pulang! Mengganggu saja!" bentak seorang pria sambil mendorong punggung Viona dan pria itu dengan kasar hingga tongkatnya terjatuh. Wajahnya berubah gugup. Perlahan ia membungkukan badan dan menjulurkan lengannya untuk mencari tongkatnya.
"Ya Tuhan... Dimana tongkat Viona?" ujar Viona dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba seseorang meraih kedua bahu kurusnya kemudian perlahan mengangkatnya seolah memberitaunya untuk bangkit. "Aku harus mencari tongkatku." Ucapan Viona tidak membuat pria itu melepaskan cengkeraman halusnya. Meras tidak enak dengan pria itu yang terus saja mencengkeram bahunya, Viona pun bengkit perlahan. Ia terkejut saat tiba-tiba ia meraih tongkatnya lagi. Ya, pria itu yang memungutnya untuk Viona.
"Vio, namaku Vio Agredolf," ucap pria itu ramah. Hati Viona terenyuh saat mendengar suara lembut Vio. Suara pria yang sangat berbeda dengan suara sang ayah yang suka minum alkohol dan mengisap cerutu hingga bibirnya menghitam. Meski tidak bisa melihat, Viona merasa bahwa pria bernama Vio itu adalah orang baik yang kebetulan bertemu dengannya.
"Viona, Viona Botherhood," balas Viona. "Karena kamu bisa mengambilkan tongkatku, kurasa kamu bisa melihat." Vio tersenyum miris mengetahui gadis di hadapannya tidak bisa melihat. Padahal matanya begitu indah hingga aku terpikat karenanya, batin Vio masih dengan senyum mirisnya yang perlahan pudar karena senyuman tulus Viona.
"Ya, aku bisa melihat. Apakah ada yang bisa kubantu?" tanya Vio.
"Viona sedang mencari pekerjaan. Majikan di tempat Viona bekerja sebelumnya memecat Viona seminggu yang lalu dan sampai saat ini Viona belum mendapat pekerjaan lagi. Apakah Vio keberatan jika Viona meminta bantuan untuk mencarikan Viona pekerjaan?" tanya Viona agak ragu. Bagaimana tidak? Vio yang kini berdiri (mungkin) di hadapannya adalah pria yang baru saja ia temui. Bukankah seharusnya Viona tidak begitu saja percaya dengan Vio yang baru saja ia temui mengingat prasangkanya buruknya terhadap sang ayah?
"Aku tidak keberatan," balas Vio cepat. Viona menghembuskan nafas lega sambil terus mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan lirih. "Aku ada pekerjaan bagus untukmu. Pekerjaannya mudah kok. Meskipun kamu harus mengorbankan hal paling berharga yang kamu punya dalam hidupmu untuk mendukung pekerjaanmu. Akan tetapi, tenang saja. Kamu akan mendapatkan hasil yang sepadan."
"Mengorbankan hal paling berharga yang Viona punya? Apa maksudnya?" bantin Viona.
"Bagaimana, Viona? Kau yakin mampu melakukannya?" tanya Vio. Viona merasa agak ragu menerima tawaran Vio yang terkesan 'agak' aneh baginya. Akan tetapi, entah kenapa, suara lembut Vio yang terdengar tulus membuat Viona tidak tega menolak niat baik Vio.
"Baiklah, Viona akan ikut dengan Vio. Viona percaya Vio,"
YOU ARE READING
(Vio)lin Untuk Viona
Teen FictionPerjuangan gadis buta bernama Viona Botherhood memerangi hidupnya yang rumit seorang diri, hingga bertemu Vio Agredolf. Berawal dari sebuah biola tua, ia mulai mengetahui sedikit demi sedikit rahasia dalam hidupnya.
