Genre: fantasy
Aku terus berjalan cepat di sepanjang koridor sekolah, orang-orang menatapku heran mungkin karna wajah pucat pasiku. Aku berhenti di depan pintu ruang musik lantas memutar handle pintu melangkah masuk ke dalam. Kakiku terus melangkah menuju salah satu alat musik bernama biola. Aku memainkannya begitu lancar, nada yang indah terdengar mengalun merdu menembus indra pendengaranku.
Aku terus bermain sambil menatap sekeliling, mencari keberadaannya.
"Hai larin, mencariku?"
Kala sebuah suara menembus indra pendengaranku aku segera menghentikan permainan biola ku.
"Bisakah kau membantuku?"
Aku menatap sosok yang sedang duduk sambil memainkan kakinya di atas lemari, ia bernama Venus kakak kelas ku yang meninggal seminggu lalu, yang pasti ia bukanlah manusia. Sehari setelah ia dikabarkan meninggal ia muncul di hadapanku mengatakan bahwa ia akan mengabulkan permintaanku dan membuat keinginanku tercapai dalam waktu satu minggu, awalnya aku merasa takut sekaligus tak percaya namun seiring berjalannya waktu akhirnya aku menerima tawarannya. Sebenarnya ini hari terakhir lagi pula keinginan ku sudah tercapai tapi ada satu masalah yang tidak bisa aku selesaikan seorang diri walau aku tahu ada konsekuensinya jika melanggar perjanjian tapi aku akan tetap meminta bantuannya.
"Tapi permintaanmu sudah habis, lagi pula aku sudah menyelesaikan tugasku hari ini hari terakhirku berada di dunia, kau tahu itu larine?"
"Yaa aku tahu sangat tahu. Tapi kumohon kali ini sajaa, aku akan melakukan apapun sebagai gantinya yaa?" Aku merengek persis seperti anak kecil kepadanya.
"Kau yakin akan melakukan apapun yang harus kau lakukan?"
"Ya, ya. Aku akan melakukan apapun, tapi tolong bantu aku yaaa?"
"Baiklah apa yang harus kulakukan?"
"Aku membutuhkan pendonor darah golangan AB untuk adikku, tapi dirumah sakit stoknya kosong baru ada minggu depan sedangkan adikku membutuhkan itu sekarang"
"Kau melakukan ini demi adik tiri mu?"
"Aku menganggapnya sebagai adik kandung" ucapku penuh penegasan
"Walau dia tak menganggapmu?"
"Ya,Iya. Sekarang tolong bantu aku!" Ucapku menaikan nada suaraku
"Ya Ya Ya tidak sabaran sekali kau"
***
Aku menghela nafas lega kala adikku telah mendapatkan donor darah, walau mereka --adik tiriku,ibu,dan ayah tiriku-- tidak memperlakukanku dengan baik tapi aku tetap menyayangi mereka. Walau terkadang merasa sangat lelah dengan perlakuan mereka yang semena-mena.
Oh iya. Aku baru ingat kalau aku harus menemui venus untuk menjalankan kutukan atau lebih tepatnya menerima kutukan yang ku dapat akibat melanggar perjanjian.
Aku berjalan mengelilingi gedung rumah sakit, tapi tak kunjung menemukan Venus. Aku tidak tahu harus mencarinya dimana setahuku dia tidak bisa pergi sebelum melepas tato tanda perjanjian yang berada di keningku namun kenapa dia tidak ada sekarang?. Aku memutuskan untuk terus mencarinya sampai akhirnya aku tiba di rooptof. Nah, akhirnya aku bisa menemukannya. Venus, pria tampan itu kini sedang tidur terlentang.
"Ven" panggilku
"Untuk apa kau kesini?" Ucapnya dingin berbeda dengan hari-hari sebelumnya
"Kau ini kenapa Ven?" Aku bertanya namun ia tak kunjung menjawab
"Hhh, bukankan aku harus menerima kutukan itu?" Tanyaku lirih
"Tidak perlu" ucapnya masih dengan wajah dinginnya. Oh, kenapa aku merindukan wajah hangatnya?, yang terlihat semakin tampan ketika tersenyum?.
"Kau mendengarku? Kau tak perlu menerima kutukan itu" ucapnya membuatku tersentak
"Hah?,kenapa?. Kau bilang sang dewi menghukummu tidak bisa masuk ke alam roh karna suatu kesalahan dan kau hanya bisa masuk ke alam roh jika kau membantu seorang manusia mewujudkan keinginannya dalam waktu satu minggu, dan jika si manusia meminta permintaan lebih dari batas dia akan mendapat kutukan. Dan aku melewati batas permintaan ku itu berarti aku harus mendapat kutukan kan Ven?"
"Tidak perlu! Kubilang tidak perlu apa kau tak mengerti?" Ucapnya membentakku
"Ta..tapi kenapa?" Tanyaku takut takut
"Karna aku mwncintaimu" sebenarnya ucapannya cukup pelan bahkan tak sekeras hembusan angin namun aku tetap bisa mendengarnya. Dan kini aku hanya terdiam tak tahu harus melakukan apa.
"Venus kumohon beri tahu aku kutukan apa yang harus kudapat?"
Dia menatapku penuh arti sebelum menjawab
"Kutukan ini bukan kutukan biasa larine, kutukan ini kutukan abadi" ucapnya lirih
"Memangnya apa itu?"
"Kau harus memberikan jiwamu padaku. Itu artinya kau mati dan aku akan hidup, kembali menjadi manusia, dan aku tak ingin itu terjadi"
"Dan jika aku tidak menerima kutukan itu apa yang akan terjadi padamu?" Aku bertanya dengan mencoba menstabilkan nada suaraku agar tidak bergetar
"Kau tidak perlu tahu"
"Kalau begitu aku ingin menerima kutukan itu!" Ucapku penuh penegasan
"Apa maksudmu larine?" Ucapnya membentakku
"Kau mencintaiku? Aku sangat mencintaimu entah sejak kau masih hidup atau sudah tiada dan entah sampai kapan. Venus, kumohon aku ingin menerima kutukan itu! Lagipula Kau masih punya satu janji yang belum kau tepati semasa hidup, itu bisa kau jadikan sebagai alasan hidup. Berbeda denganku yang tak punya alasan hidup!" Ucapku dengan air mata yang perlahan mengalir membasahi pipiku
Brukk
Venus, dia menarikku kedalam dekapannya. Dekapan hangatnya yang akan selalu ku rindukan.
"Aku mencintaimu" ucapnya disela pelukan kami
"Kalau begitu ambil jiwaku" ucapku memerintah
Perlahan ia melepaskan pelukan itu memandangku tepat dimanik mata.
Cupp.
Setelah mengecup keningku. Perlahan sebuah belati muncul ditangan kanannya, dengan perlahan ia menusukkan belati itu tepat dijantungku walau dengan mata tertutup ia dapat menusuk dengan tepat. Lalu sebuah cahaya putih keemasan menguar di sekelilingku hingga akhirnya cahaya ini terbang menuju Venus, masuk kedalam raganya.
THE END
Terimakasih atas kunjungannya ;)
Love I,❤
Fini mulyawati
YOU ARE READING
Antologi Cerpen Fini
RandomSebuah kumpulan imajinasi,khayalan, dan sedikit dibumbui harapan.
