Sebuah pistol ditodongkan tepat di kepalaku. Sosok seorang pria berjubah hitam, terlihat buram karena membelakangi rembulan. Pria tersebut mencengkeram erat kerah jubahku. Tangan kananku menjatuhkan pistol yang tadinya kugenggam, dan langsung menyibukkan tanganku, mencoba melepaskan cengkeraman pria tersebut.
Nafasku memburu, kepalaku pusing, tubuhku melemas. Terlihat jelas senyuman keji pria tersebut. Ugh... Jika pria ini tidak melepaskan cengkeramannya, sebentar lagi... Nafasku...
Dorr
Seseorang menembak pistol yang ditodongkan padaku. Menyebabkan pria tersebut melepaskan cengkeraman. Kakiku tak lagi sanggup menompang tubuhku, badanku terhempas ke tanah.
Semampuku kukumpulkan tenaga yang masih tersisa untuk berdiri dan berlari menjauh. Secepat yang kubisa, selagi masih ada kesempatan.
Suara sepatuku menggesek dedaunan lembab yang bertebaran ditanah, memecahkan keheningan pada malam yang sunyi itu. Cahaya temaram rembulan, menjadi satu-satunya penerang yang kumiliki. Aku terus berlari tanpa henti.
Sudah berapa lama aku berlari?
Aku ingat, tepat sebelum pelarian yang memakan waktu hampir tiga per empat malam ini, aku disuruh mengejar "makhluk-tak-dikenal" yang mirip dengan hewan dalam buku yang mereka sebut dengan, babi liar? Entahlah, yang menyelinap masuk ke ladangku.
Haha... Rasanya lucu, sebelumnya hidupku biasa-biasa saja. Mulai merawat tanaman sampai mengumpulkan sayur-sayuran yang siap panen.
Entah siapa yang harus disalahkan. Jika saja makhluk itu tidak memasuki ladangku. Jika saja pak tua itu tidak menyuruhku mengejar makhluk itu. Jika saja aku pulang lebih cepat. Semua ini tak akan terjadi!
Karena pak tua itu (ayahku) menyuruhku mengejar makhluk itu, bukannya disambut dengan "selamat datang kembali" diiringi senyuman dan pelukan.
Aku harus disambut dengan pemandangan pintu yang rusak, rumah yang berantakan, dan darah berceceran dimana-mana.
Hal itu diperparah oleh pemandangan terakhir yang kulihat dari rumah itu.
Ayahku ditembak berkali-kali tanpa ampun tepat di hadapanku. Dan kata perpisahan yang berbunyi "lari! Pergi dari tempat ini!"
Sebenarnya saat itu aku tidak ingin lari dan ingin menetap, meringkuk, memeluk tubuh ayahku yang berlumuran darah itu.
Namun, orang tua itu benar-benar bersikeras menyuruhku pergi. Sampai mengerahkan seluruh tenaganya-diasaat terakhirnya-hanya untuk menyelamatkanku.
Aku bahkan belum sempat mengucapkan "selamat tinggal" padanya.
Sakit, nafasku sesak, menahan isakan tangis. Tubuhku semakin melemas. Kepalaku pusing. Pandanganku berputar-putar. Keseimbanganku mulai berkurang. Sampai akhirnya aku jatuh tersungkur karena akar pohon yan hb sangat besar. Tas ransel yang tadinya terasa ringan bagai kapas, kini terasa seberat 5kg besi.
Tubuhku mengkhianatiku, karena tidak dapat digerakkan lagi. Kenangan pilu itu terus menerus terbayang dalam pikiranku bagai sebuah kaset rusak.
Aku mendengar suara gemerisik dari balik semak disebelah kananku. Mataku menangkap bayang-bayang seseorang.
"ah, apa yang dilakukan seorang gadis di hutan tengah malam begini?"
aku memutuskan untuk tidak menjawabnya, lagi pula suaraku sepertinya tidak bisa keluar lagi. Tenggorokanku terasa sangat kering saat ini. Aku masih belum memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhku saat ini.
"hei? Apa kau masih hidup?"
kudengar ia menghela nafas. Perlahan bayangan itu mendekat ke arahku. Aku tak dapat melihat wajahnya, karena tak mampu mendongakkan kepalaku.
Mataku terasa semakin berat setiap detiknya, sehingga membuatku menutup mataku perlahan.
Aku merasa tubuhku diangkat. Awalnya aku khawatir, karena bisa saja orang ini adalah anggota komplotan tadi.
Tapi mau bagaimana lagi, tubuhku sudah tak terasa seperti tubuh lagi, jadi aku terpaksa pasrah. Karena tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dengan keadaan seperti ini, apalagi yang dapat kuperbuat?
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, sangat gelap.
TBC
Hi guys, mohon maaf kalau ada kesalahan kata dan kalimat, soalnya ini cerita partama ku hehe...
Kalau ada kata & kalimat jangan segan-segan bilang ke aku ya! Mohon bimbingannya. 😊
BINABASA MO ANG
From Ten to One
FantasyDunia ini memang tidak adil. Terkadang, Apa yang kita perjuangkan, tidak pernah tercapai. Apa yang kita inginkan, tidak dapat tercapai. Apa yang kita impikan, tidak pernah terwujud
