First Time

7 0 0
                                        

Suasana malam ini begitu menenangkan. Terlebih lagi hamparan bintang di langit membuat malam ini terasa begitu indah. Aku memang selalu menyempatkan diri untuk menikmati malam yang indah di rumah sakit. Memang benar, aku adalah salah satu pasien tetap di rumah sakit Seoul.

Aku Lee Hani. Aku menganggap rumah sakit adalah tempat tinggalku karena aku menghabiskan hari-hariku di dalam rumah sakit. Aku mengidap suatu penyakit langka di tenggorokan. Saat aku berbicara akan terbata-bata seperti suara robot atau orang menyebutnya gagap. Hanya saja sesekali aku tidak dapat mengeluarkan suaraku sama sekali. Karena hal itu, aku dirawat di rumah sakit.

Aku memandang langit malam sambil menggambar yang merupakan hobiku. Aku memandang langit malam di sebuah danau di belakang rumah sakit. Danau itu cukup ramai pada siang hari tapi sunyi saat malam. Aku memang sangat senang menyendiri. Hal itu karena jika aku berkerumun bersama orang lain, mereka akan menertawakan suaraku.

Hembusan angin malam dan kunang-kunang yang berterbangan sangat menenangkan hatiku. Aku mulai membuat sketsa pada selembar kertas di pangkuanku dengan penerangan lentera dan cahaya kunang-kunang. Hal itu sudah menjadi rutinitasku di malam hari.

"Gambar yang bagus" seru sebuah suara yang membuatku terkejut.

Aku mengedarkan pandanganku mencari sumber suara tersebut. Namun, aku tidak melihat siapapun di sekitar danau. "N..n..nu..gu..seyo?" tanyaku dengan terbata-bata.

Namun tak ada jawaban. Apakah suara itu hanya halusinasiku? Tidak. Aku mendengarnya dengan jelas. Aku kembali mengedarkan pandanganku namun tetap tidak menemukan siapapun. Aku mulai merasa takut. Aku bergegas meraih lenteraku dan pergi.

Tiba-tiba seseorang menggenggam tanganku dan membuatku terkejut bukan main. Aku sangat ingin berteriak tapi suaraku tidak keluar. Aku berusaha untuk melepas cengkaraman tangan tersebut sambil berteriak.

"AAAAAA" teriakku dengan lantang yang berhasil membuatnya melepas cengkramannya pada tanganku.

Aku benar-benar sangat takut. Saat aku membalikkan badan, tiba-tiba seorang pemuda muncul dihadapanku. Hal itu membuatku terkejut hingga aku terjatuh. "Nuguseyo?" tanyaku yang entah kenapa tidak gagap.

Pemuda itu menunduk dan mendekatkan wajahnya padaku. "Tidak perlu takut. Jangan berteriak. Tenanglah." ucap pemuda itu dengan lembut padaku.

Aku pun berusaha menenangkan diriku yang sangat ketakutan. Aku berusaha berdiri dan hendak pergi. Karena aku pikir pemuda itu pasti hanya imajinasiku saja. Namun, pemuda itu kembali mencegahku agar tidak pergi. Ia menarik tanganku dan memelukku.

Astaga! Ada apa dengan pria ini? Dengan cepat aku melepas pelukannya dan menampar pipinya. "K..ka..kau.. B..be..ber..beraninya-" belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, jari pemuda itu menempel di bibirku.

"Sstt.. Sudah jangan berbicara lagi atau aku akan menciummu." ucap pemuda itu yang kembali membuatku terkejut.

Apa dia sudah gila? Pemuda macam apa dia ini? Sangat lancang! Aku menepis jarinya dari bibirku dan menatapnya dengan tajam. "K..k.ka-" aku terkejut bukan main saat dia tiba-tiba menciumku.

Aku mendorong tubuhnya menjauh dan berusaha menenangkan diriku. Dia sungguh sudah gila. Aku melihatnya tersenyum sambil mulai berjalan mendekatiku.

"Menjauh! Jangan mendekat!" teriakku.

Tunggu... Kenapa aku bisa berbicara selancar itu? Aku terdiam menyadari perkataanku yang lancar. Ini adalah pertama kalinya aku bebicara selancar ini. Apa aku sedang bermimpi?

"Kau tidak sedang bermimpi" sahut pemuda itu yang sudah berada dihadapanku.

"Kau ini siapa? Kenapa kau tiba-tiba melakukan hal seperti itu? Apa maumu?" tanyaku dengan begitu lancar.

Pemuda itu kembali tersenyum dengan manis padaku "Jadilah pacarku" jawabnya yang membuatku bingung dan terkejut.

Oh Tuhan... Sungguh, ada apa dengan pria ini? Dia sungguh sudah tidak waras. "Kau gila?" tanyaku secara langsung.

Aku sangat senang karena aku dapat berbicara selancar ini. Entah ini hanya mimpi atau nyata yang pasti aku sangat senang.

"Ya... Aku tergila-gila padamu. Jadilah pacarku dan kau akan dapat berbicara selancar ini. Apa kau mau?" tanyanya dengan penuh harap.

Aku terkekeh tak percaya mendengar pertanyaannya itu. "Aku tidak tau siapa kau sebenarnya. Dan tiba-tiba kau memintaku untuk menjadi pacarmu? Sudahlah aku ingin kembali. Jangan mencegahku!"

Aku memutuskan untuk menghiraukan pemuda itu. Aku yakin saat ini aku sunggug sedang berhalusinasi. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar inapku. Tak kusangka ternyata pemuda itu mengikuti aku sampai di kamar inapku.

"Kenapa kau mengikutiku?" tanyaku dengan kesal.

"Kau akan tidurkan? Aku ingin melihatmu tidur"

Aku termenganga mendengar jawabannya itu. Sungguh... Dia sudah kehilangan akalnya. Aku pun segera tertidur dan berharap yang terjadi itu hanyalah sebuah mimpi. Aku berharap saat aku terbangun pemuda gila itu tidak muncul lagi dihadapanku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 07, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Endless LoveStories to obsess over. Discover now