The Cure|Mengenaskan

33 7 9
                                        

Cuma ngingetin untuk semua makhluk yang baca cerita ini. Apa hayo? Itu bintang disebelah kiri bawah! Okai, don't forget! 💕💕💕. Ngasih suara itu gratis, ko, ngak pake data internet juga.

                Let's enjoy the story, Guys!

    Sebagai manusia, pembuat cerita tidak akan lepas dari kesalahan/typo🙏🙏🙏 

OLIVE POV

Hari yang sangat berat bagiku, mungkin sebagian dari kalian bahagia pada Hari Minggu, karena kalian semua akan berkumpul dengan keluarga, menghabiskan waktu tertawa dengan orang tercinta atau lebih tepatnya bagi remaja saat ini—kencan bersama kekasih.

Ya, itu kegiatan menyenangkan. Lain halnya dengan aku yang tidak menyukai Hari Minggu. Alasanku, karena saat hari Minggu tiba,aku tidak bisa beristirahat. Aku harus menyelesaikan tugas kuliah ku yang menumpuk. Skripsi seperti cucian menggunung, tugas matkul belum kelar, dan lagi harus beres-beres rumah. Haduh, capek dah!

Kalian pasti tahu mengapa tugas matkul, dan skripsi ku menumpuk seperti gunung. Karena, sebentar lagi aku lulus! Yeay!. Tapi kelulusan ini membutuhkan perjuangan yang lebih keras daripada di SMA. Extra penuh dan kebut belajar, ngerjakan tugas ngebut.

Hari ini aku berencana untuk belajar sekaligus mengerjakan tugas di cafe dekat dengan komplek rumahku.This my habits

Berpindah dari negara zamrud khatulistiwa ke negara gingseng memang membuatku harus menahan diri untuk menahan godaan dari semua segi kebutuhan. Semua ini harus kuterapkan pelan-pelan meskipun sulit. Jajanan yang menggoda untuk disantap, minuman yang menyegarkan dahaga, pernak-pernik yang lucu, dan juga jangan lupakan para superstar yang tampan dan seksi dari Korea Selatan.

"Olive! Cepat turun ke bawah dan sarapan," ya, itu suara wanita yang melahirkan aku ke dunia ini. Suaranya sangat nyaring sampai terdengar ke kamarku yang letaknya di lantai dua.

Jika sudah berteriak seperti ini, aku tidak berani untuk berlama-lama di dalam kamar. Bisa-bisa Ibuku tidak akan menyapaku, tidak memberiku jajan, dia akan membiarkanku terlantar.

Ibuku sangat sering marah, dia selalu memasang wajah datar atau sangarnya, dia menjadi seperti ini setelah pendamping hidupnya pergi selamanya, Danu Remindra—Ayahku. Ibuku sangat menyayangiku, meski cara memberi kasih sayang padaku beda dengan orang tua lainnya.

Satu hal yang aku suka dari sikap datar ibuku, dia adalah wanita tangguh yang bisa mengurus semua pekerjaan rumah tangga, maupun kasus di pengadilan. geuneun naui yeoghal model-ida.

Sebenarnya, Ibuku bersikap seperti ini bukan karena ayahku pergi, dia ingin aku menjadi mandiri dan juga bertanggung jawab dalam hal apapun.

Akupun berjalan cepat menuruni tangga dan sampai di meja makan. Ibuku sedang duduk sambil menyiapkan semangkuk oat dan juga susu dengan telaten.

Ibuku selalu berkata, disiplin bisa dimulai dari hal kecil, bahkan hal yang sangat kecil. Semua hal kecil itu akan berdampak pada dirimu, contohnya kau selalu bangun awal di pagi hari, saat kau jauh dari Ibu, kau akan terbiasa bangun pagi, tanpa Ibu bangunkan dan kau bisa memulai aktivitasmu lebih dulu daripada temanmu yang masih terlelap.

Itu adalah hal yang selalu Ibu katakan saataku masih berumur 10 tahun

"Duduk dan makanlah," perintahnya tanpa melihat kearahku. Ouh, yang benar saja, ibuku benar-benar marah.

"Ibu," panggilku setelah menarik kursi dan duduk di sebelah kiri Ibuku.

Tak ada sahutan dari Ibuku, dia tetap sibuk dengan sarapannya. "Boleh aku keluar?" tanyaku dengan hati-hati. Jika dalam situasi begini, jangan menambah kemarahan Lita,atau tidak habis semuanya.

The CureWhere stories live. Discover now