New World

19 2 0
                                        

Pov Amara

  Hari ini, hari terakhirku di Jakarta kota kelahiran sekaligus kebanggaanku. Lulus dari SMP aku harus pindah karena masalah orang tuaku, dan terpaksa aku harus ikut saran mereka untuk sekolah di kampung halaman ayahku di Ciamis. Dan malam ini aku dan sahabat sahabatku  ketemuan untuk terakhir kali ditempat tongkrongan biasa.

"Def... lu yakin mau pindah?" (Tanya flora *sahabat gue)

"Jangan pindah dehh def... hasil UN lo kan bagus, pasti kan keterima di SMA negri disini ga perlu ke kampung kan?" (Ujar hera memelas)

"Bukan masalah gue keterima atau ngga di SMA negri disini her, tapi ini masalah keluarga yang gabisa gue jelasin sama kalian". (Jawab gue meyakinkan)

"Nanti lu jadi anak kampung dong def?" (Ledek flora)

"Daf def daf def... Amara gitu!!" ( ujarku protes)

Nama lengkap ku emang
Defanya Amara Aurin, tapi aku ga suka aja dipanggil defanya. Dan sedari kecil juga orang tua ku manggil aku mara. Anak anak kelas dan guru sih manggil aku defa tapi ya sudahlah, aku udah males ngelarang mereka manggil aku dengan nama itu.

07:30 am

Aku mengemas semua barang-barang ku dan mencoba mengiklaskan semuanya.
Selamat tinggal kenangan,kawan,impian..

06:18 pm

Akhirnya aku tiba di ciamis, tempat yang masih asing untuk ku dan aku harus mulai membiasakan diri disini.

Untuk sementara aku tinggal di rumah nenek dan kakek ku. di rumah nenek susah signal.
"Ya ampun gimana cara ngehubungin flora sama hera nihh" ( ucapku sambil menggoyang goyangkan ponselku ke atas).

hari pertama sekolah pun tiba.
Aku memakai seragam pramuka dengan lengan pendek dan rambutku yang ku ikat dengan rapih. Perasaan ku tak karuan, senang,sedih,exited,nerveous, semua tercampur menjadi satu. 

Aku mulai mencari kelompok MPLS (semacam ospek) dan mulai berkenalan dan berbincang. Dan baru kusadari bahwaaa... aku adalah satu satunya siswa yang tidak memakai "jilbab" . Jadi di daerah Ciamis ini khususnya SMAN 1 Ciamis (*sekolah baruku) di wajibkan memakai jilbab untuk siswa perempuan muslim.

Dengan kejadian kemarin, akhirnya aku berangkat sekolah dengan memakai jilbab, dan lengan pendek ku tutupi dengan manset.

Aku masih canggung karena rata-rata dari mereka menggunakan bahasa sunda. Tapi lama kelamaan aku menikmatinya dan tak segan bercanda dengan mereka.

Aku dan teman teman kelompok pun berkumpul diruangan kelas, dan mulai memperhatikan apa yang di intruksikan oleh kakak-kakak kelas,

"jadi kelompok kita harus memiliki  nama dan yel-yel..." ujar kakak kelas

"Abdi punya ide jogedan ang." (Ucap anak laki-laki sambil mengangkat tangan kananya?)

"Iya kamu coba maju, contohin ke temen temennya". ( jawab kakak kelas).

"Tapi isin ang eyy". (Ucap anak laki laki itu sambil menggaruk kepalanya)

Akhirnya dia pun menggoyangkan badan nya dan membuat orang orang di dalam kelas tertawa.

Akhirnya pertunjukan yel-yel dimulai, setiap kelompok harus mempertunjukan yel-yelnya. Semua kelompok di kumpulkan di lapangan upacara. Disaat aku sedang memperhatikan yel-yel dari kelompok lain tiba tiba ada kakak kelas yang membawa kamera berkata

"De de... senyum dong". (Ucap kakak kelas).

"Siapa kak? Aku?". (Jawabku bingung)

"Iya dee senyum..". (Jawabnya sambil memotret ku)

Entah aku bingung sekali kenapa hanya aku saja yang ia potret?
aku sangat terpesona dengan senyumanya kepadaku. Dia sangat manis,
" uhh... aku sangat terbawa perasaan". (Ucapku dalam hati)

Hari penentuan jurusan pun tiba.
Aku sangat bingung harus memilih IPA atau IPS. Dan akhirnya terpaksa aku memilih IPS dan tak di sangka ternyata banyak yang berubah pikiran untuk pindah jurusan dari IPA ke IPS. Termasuk si laki-laki pecicilan itu (laki-laki yang mengusulkan jogedan)

Akhirnya aku berhasil masuk ke jurusan IPS dan aku ditempatkan di kelas X IPS 4. Aku sangat berharap ada seorang saja yang ku kenal dari kelompok ku. Dan ternyata tidak ada.

Akhirnya berteman dengan mira dan mulai akrab dengannya, aku mulai terbiasa dengan logat dan bahasa yang temanku pakai.

Menyesuaikan diri dengan dunia baru memang tidaklah mudah tapi jika kita menikmatinya semua tersa sangat ringan.

Aku tau bahwa si cowo pecicilan itu adalah tetangga kelasku, dia selalu bolak balik di depan kelasku.

Hingga suatu hari ketika aku sedang terdiam dia lewat di depan kelas ku dan aku menatapnya sedang menatapku. Setelah itu aku merasa kejadian itu terulang terus menerus. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar nyatanya.








shadow of truthStories to obsess over. Discover now