Keputusan

9 0 0
                                        

Aku benci diriku ketika aku berada dititik terlemah.
Aku benci diriku ketika aku tidak bisa menghadapi semua ini.
Aku benci diriku ketika aku tidak punya alasan untuk apa hidup.
Aku benci diriku ketika aku mencoba menahan semuanya tapi tangis lah yang menyapaku duluan.
Aku benci diriku ketika aku berusaha untuk menjadi yang terbaik tapi mereka memandangku rendah.
Aku benci diriku ketika aku ingin bahagia lalu tanpa sengaja aku merusak segalanya.

Kehidupan yang dulu aku dambakan kini hilang ditelan bumi. Menjadi angan-angan yang siap diterbangkan kapan saja.

Angin semilir berhembus menyingkap anak rambut dipipiku. Aku menatap sekitar, mengingat masa-masa kelam yang membuatku semakin terpuruk. Satu tetes cairan bening meluncur bebas dipipiku. tidak tidak, aku tidak menangis, yah hanya terfikir kenapa semua ini menjadi rumit.

"Sudah berapa lama aku disini" ucapku pada angin
Sekarang aku berada di bukit tempat tinggalku dulu. Disini dulu aku menjadi sosok periang, tak berhenti tersenyum, tak bisa diam bahkan dengan polosnya meng-iya-kan orang yang menyuruhku untuk jangan dekat-dekat denganya.

"Aku harap kesedihanku cukup sampai disini. Pergilah kau dengan semua kenang buruk dan manis itu. Jangan kembali lagi, sudah cukup aku sudah hidup denganmu selama 20 tahun. Saatnya kini aku hidup dengan layak" ucapku sendu, kembali menatap sekitar sebelum satu kotak sebuah kenangan hangus terbakar.

Aku pergi meninggalkan sejuta kenangan, berharap bisa melupakan semuanya. Berharap esok aku hidup menjadi seorang yang baru lahir.

Selamat tinggal semua, mulai saat ini, aku bukanlah seseorang yang dulu bisa kau hina, bisa kau siksa, bisa kau patahkan hatinya, bisa kau hancurkan harapanya.
Mulai sekarang, aku adalah Mey!

Catatan HatiHistórias para pegar e não largar. Descubra agora