Part 1

14 1 0
                                        


Cerita ini hanyalah sebuah fiksi belaka. Seluruh nama tokoh dan gamabar dalam crita ini adalah milik hero dalam sebuah game Garena, Arena of Valor.

-


Lagi dan lagi seperti hari-hari sebelumnya, aku tak pernah berniat untuk membuka mata. Karena aku tau tidak akan ada hari istimewa yang akan kujalani, atau mungkin hari ini bisa saja akan menjadi lebih buruk. Menyebalkan! Seharusnya lebih baik aku mati juga. Aku berharap tak pernah membuka mata lagi.

Ketika matahari mulai menyentuh kulitku, disitu juga aku selalu menaruh tanganku ditelinga. Berharap suara berisik dari mesin penghancur besi bisa kuredam. Namun setiap hari ada satu suara yang selalu memekakkan telinga, yang tak akan pernah bisa ku redamkan suaranya.

"Oooiiiiii kak banguuun... selamat pagi Max! Dasar pemalas! Udah jam berapa ini? Bukannya bangun dan bekerja, tapi malah bermalasan disini! Banguuuuuuuunn!!!!" teriak Wisp tepat disebelah telingaku.

"Dasar cerewet! 5 menit lagi aku akan bangun!" jawabku sambil menutup erat telinga.

"Yaudah terserah. Nih, tadi aku nggak sengaja ngeliat roti di sebelah kotak diujung gang. Kuharap ini masih bagus. Aku taruh sini ya. Cepat bangun dan bekerjalah agar kita bisa bangun rumah yang besar! Jangan lupa dimakan ya. Aku akan menunggumu di depan pintu" kata Wisp sambil menaruh roti yang memang baunya cukup lezat.

"Berisik kau Wisp!!" teriakku.

Setiap hari juga tak pernah aku merasakan bangun siang yang damai tanpa ocehan bocah cilik yang terlalu bersemangat. Tetapi, mungkin kalau bukan karena adikku satu-satunya, aku tak akan bertahan di dunia ini. Bukankah sangat aneh jika seorang anak kecil yatim piatu sepertiku harus bertahan hidup dengan susah payah di tengah kota yang mereka sebut sebagai kota para orang-orang genius? Ironis. Dan lagi karena adikku, Wisp. Dialah satu-satunya hartaku yang paling berharga didunia ini.

Setiap hari aku dan Wisp selalu menyelusuri tumpukan sampah besi tua dan peralatan mesin yang sudah tak terpakai. Aroma besi berkarat yang mungkin sudah seperti parfum bagi tubuh kami. Yah, inilah duniaku dan adikku. Mencari sisa karya yang gagal dari orang-orang hebat. Karena sudah menjadi sampah, dijualpun juga tetap akan menjadi sampah. Jadi mau atau tidak, aku berusaha membuat sesuatu hal yang berguna dari sampah tersebut agar uang kami sedikit lebih banyak daripada para pemulung lainnya.

"Max, kemarin aku menemukan beberapa besi silinder yang masih bagus dan juga generator portable. Tapi sayang, generatornya rusak. Bisakah kau perbaiki?" tanya Wisp.

"Aku tak punya alatnya. Jika kau menemukan alat yang masih berfungsi mungkin aku bisa memperbaikinya. Aku juga butuh las Wisp." jawabku sambil memilah pipa tua yang kuharap masih banyak yang tidak bocor.

"Las? Bukannya kau punya las listrik yang kau temukan di tepi sungai? Memang kenapa kau butuh las lagi" tanyanya lagi dengan suara imutnya.

"Kau tanya kenapa aku butuh las lagi? Hah? Kau pikir siapa yang membakar motor listrik yang kubuat kalau bukan karena las yang kau pinjam lupa kau matikan? Kau masih tanya siapa? Hiiiih! jangan buat aku marah lagi deh wisp!" aku berusaha menjawab dengan sabar dan menahan amarah, walaupun jika teringat motor listrik yang siap dijual, aku memang agak sedikit marah pada Wisp.

"Aaa iyaaa. Hahahahaha. Aku ingat kak. Wuahahahaha maaf. Habis aku lihat tupai ambil kacang gorengku, jadi aku spontan lari untuk mengusirnya. Maaf . pfft! Hahahaha. Baiklah! Nanti akan kucari las yang masih berfungsi." Jawabnya sambil entah kenapa dia malah tertawa.

Karena melihat wajahnya yang selalu riang, membuatku tak tega jika marah pada Wisp. " hahaha dasar ceroboh! Jangan kau ulangin lagi."

Hari sudah mulai sore. Dan disinilah, tepat di tengah pusat tumpukan sampah. Lapangan kecil yang sangat kering. Beberapa pengepul besi dan pemulung berkumpul untuk menjual belikan besi yang ditemukannya. Dan disinilah juga aku selalu menawarkan karyaku pada pengepul besi. Kami sebagai golongan yang disebut 'pestor' atau pemulung besi kotor, mengantri, menunggu giliran untuk menukarkan apa yang dia dapat hari ini dengan sejumlah koin emas. Dan kini giliranku untuk menukarkan jerih payahku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 25, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The WunderkindStories to obsess over. Discover now