Tepatnya saat aku pulang dari kampus disebuah metromini yang selalu membawaku pulang. Tiba-tiba metromininya mengerem dengan kasar. Kupikir ada yang tertabrak. Ternyata ada yang ingin naik.Ia duduk disampingku sambil memetik benda itu, petikannya sungguh indah namun aku tahu dibalik petikan indah itu ada sebuah luka yang sangat dalam, Itu tergambar dari wajahnya.
Jika orang normal pasti akan mendengarkannya dengan seksama, bukan? tapi aku malah mengambil earphone diransel dan memasangkannya.
Saat metromini berhenti, aku turun begitu juga dengan orang itu. Dia mengikutiku sampai ke taman yang sering ku kunjungi, aku duduk dibangku itu lagi. Hampir setiap hari, melihat anak-anak bermain terkadang aku melihat sepasang kekasih yang bergandengan tangan seakan mengejekku. Ah sial, dia pikir aku tidak pernah bergandengan tangan.Lalu dia tanpa permisi ikut duduk disampingku.
Melihat ada makhluk-asing yang berani menduduki kursi yang sudah kuanggap sebagai milikku. Dengan sengaja aku memasang wajah tak suka dengan makhluk-asing itu.
Setelah beberapa menit dan secara tiba-tiba ia bersuara “saint,” sambil menawarkan tangannya untuk dijabat seraya tersenyum.
Masih dengan wajah yang sama. Aku hanya mendengarkan tanpa menggubris ucapannya.
Ia kembali bersuara “ jika tak ingin tak apa, aku hanya ingin duduk disini, boleh kah?”
Dan lagi-lagi aku tak menggubrisnya.
“Diam kuanggap iya.” suaranya kembali mengganguku. Ia mulai memetik benda itu lagi dan aku memasang kembali earphoneku yang sempat kulepas ketika turun dari metromini.
“Jika tak hari ini maka besok, jika tak besok maka lusa.” katanya seraya mencabut sebelah earphone yang terpasang ditelingaku. Lalu dia pergi dan menoleh seraya tersenyum.Tentu kata itu membuat alis semakin menyerinyit heran.
Tanpa terlalu memikirkan kata-katanya aku pun berdiri dan kembali ke rumah dengan berjalan kaki walau jaraknya cukup jauh. Kebiasaan yang tak pernah lepas hampir 2 tahun.
Sesampainya dihalaman rumah, tercium aroma kopi. Ingin rasanya berlari dan menyeruputnya walau seteguk. Terlihat punggung ibu dari kejauhan, tanpa permisi aku mengamit kopi dari meja dan menyeruputnya lalu mencium kening ibu. Ibu sudah hampir satu tahun hanya diam diatas kursi rodanya.
“Bu, hari ini aku bertemu dengan orang yang aneh. Di metromini dia duduk disampingku lantas memetik gitar. Iya gitar bu, benda yang teramat aku benci lalu dia mengikuti sampai aku berhenti di taman. Trus dia bilang, jika tak hari ini maka besok jika tak besok maka lusa.” Aku berceloteh riang selalu saja begitu setiap pulang dari kuliah.
“Eh, non Ale udah pulang ?” pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh bi asih. Bi asih sudah lama bekerja di rumah beliau sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Walau sebenarnya ingin sekali aku mendengar pertanyaan yang selalu ditanyakan bi asih dari mulut ibu sendiri.
“Iya bi. Ibu sudah makan belum bi?” dan itu juga pertanyaan yang selalu aku tanyakan setiap pulang kuliah.
“Sudah non, tapi hari ini ibu makannya sedikit.” Mendengarnya saja membuat lesu.
“Saya keatas ya bi, capek sekali.” Tanpa menunggu jawaban dari bi asih aku berlalu begitu saja.
Tanpa kupinta bayangan makhluk asing itu muncul lagi dan terngianglah kata kata yang diucapkannya. Kugoreskan setiap kata yang diucapkannya diatas kertas.
Ah tunggu sebentar, saint ya? Masa namanya malaikat? Timbul lah pertanyaan-pertanyaan aneh dikepala.
“Baiklah jika besok dia datang lagi, akan kutanya ah.” gumamku yang mungkin hanya didengar oleh semesta.
“Tidak. Tidak untuk apa aku menanti dia, jangan jangan dia orang jahat.” Lagi lagi aku bergumam tak jelas.
Ah semesta apa yang sebenarnya kau
rencanakan.
#tbc
Maafkan typo yang berhamburan. Diriku hanyalah penulis ulung.
ESTÁS LEYENDO
Saint & Ale
Ficción GeneralSetelah beberapa menit dan secara tiba-tiba ia bersuara "saint," sambil menawarkan tangannya untuk dijabat seraya tersenyum. Masih dengan wajah yang sama. Aku hanya mendengarkan tanpa menggubris ucapannya. Ia kembali bersuara " jika tak ingin tak a...
