Konon katanya, setiap pertemuan selalu punya caranya sendiri.
Tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, hanya dari percakapan yang sepele. Dari candaan yang tak disengaja. Dari topik yang bahkan tak pernah terpikir akan mengubah hidup seseorang.
Hari itu, kami berkumpul dengan perbincangan sederhana tanpa ekspektasi apa pun.
Suasananya hangat. Tawa dan obrolan saling bertaut, seolah tak ada yang terburu-buru mengakhiri sore itu. Sampai sebuah celetukan iseng tentang pesta perayaan yang akan segera digelar mengubah arah percakapan.
Ide-ide mulai bermunculan, saling bersahutan tanpa aturan. Membahas panitia, konsep acara, bahkan hal-hal kecil yang sepele. Aneh, justru dari obrolan sesederhana itulah, sebuah pertemuan yang tak pernah direncanakan diam-diam menemukan awalnya.
Di tengah obrolan itu, seorang teman memperkenalkannya kepadaku.
Perkenalan yang sederhana.
Tidak ada tatapan yang terlalu lama. Tidak ada percakapan yang langsung membuat dunia terasa berhenti. Hanya saling menyebut nama, bertukar senyum, lalu ikut larut dalam pembahasan yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Aneh, ya.
Justru dari obrolan yang tak memiliki arti apa-apa itulah, kami mulai menemukan alasan untuk terus berbicara.
Hari-hari berikutnya, topik tentang pesta perayaan perlahan menghilang. Berganti cerita tentang kesibukan, mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan, dan hal-hal kecil yang tak pernah kami ceritakan kepada orang lain.
Barangkali memang benar.
Takdir tidak selalu mempertemukan dua orang melalui momen yang megah.
Kadang, ia hanya membutuhkan sebuah percakapan iseng agar dua orang asing lupa bagaimana rasanya kembali menjadi orang asing.
YOU ARE READING
Muara Cerita
RomanceBerawal dari obrolan iseng tentang sebuah pesta perayaan, dua orang asing dipertemukan tanpa sengaja. Tak ada yang menyangka, percakapan singkat itu akan berubah menjadi tempat pulang bagi dua hati yang perlahan saling menemukan. Karena terkadang, m...
