Segaris wajah ayu tampak di antara kaca jendela yang berjajar di lantai dua. Jari-jari lentik yang tampak sesekali memainkan sendok, kemudian menopang dagu, termangu memandangi iringan awan di langit, yang mulai memudar. Langit siang itu tampak tak bersahabat. Cuaca yang semula cerah perlahan goyah, musnah , terpecah menjadi kepingan bulir - bulir air kecil yang perlahan berjatuhan ke bumi. Bulir bening pembawa kehidupan bagi setiap yang tersentuh.
Wajah ayu itu kini tampak cemas. Dipandanginya jam di tangan kiri, sesekali diiringi desahan nafas panjang penuh kecewa. Daftar panjang rencana yang telah disusunnya rapi di kepala, lenyap sudah. Setiap kata yang sempat ia pendam kini telah mengalir pergi, bersama tetesan bening yang bergerak turun di balik jendelanya.
Semenit, dua menit, ia masih bersabar menunggu. Lima menit dan selanjutnya, tak ia dapati tanda-tanda kehadiran sesosok yang berhasil mengusik pikirannya hingga detik ini. Sosok yang tiba-tiba tertangkap oleh bola matanya beberapa waktu lalu, yang berhasil memancing pikirannya untuk menghadirkan jawabannya sendiri. Jawaban yang sebetulnya selalu ia nantikan, bahkan sampai kini. Sosok yang siang ini sangat ia harapkan betul kehadirannya, tak ada maksud apa, hanya sekedar untuk memastikan bahwa dugaannya itu salah.
Jarum jam ditangannya terus berputar semakin cepat, hujan yang turun pun kian lebat. Jam makan siangnya telah terlewat. Sampai gadis itu akhirnya menyerah. Setelah menyesap sisa teh hangat terakhirnya, ia lalu bangkit dari bangkunya, menarik tas, dan beranjak pergi dengan hati penuh kecewa. Pergi bersama jawaban yang telah pupus dan harapan yang juga ikut terputus.
Entah apa yang membuatnya selalu datang ke cafe itu. Cafe sederhana yang terletak tak jauh dari kantornya. Cafe yang sebelumnya sangat jarang ia sambangi. Namun, semenjak hari itu, saat ia tak sengaja menangkap sosok seseorang yang mampu membuat jantungnya terus berdebar, pikirannya sedikit kacau, dan hatinya tak pernah tenang, ia ingin selalu kembali lagi ke cafe tersebut. Sosok yang memang tak sengaja ia tangkap beberapa hari lalu, kini semakin mengganggu pikirannya, membendung logikanya dengan semua praduga yang tak pasti, yang berhasil menimbulkan rasa penasaran tak berkesudahan.
Ada sedikit rasa takut yang timbul. Rasa takut jikalau nanti hatinya akan berusaha kembali, mengejar, mencari, dan terus menggali kenangan manis yang sengaja ia kubur dalam-dalam. Kenangan yang sangat manis yang pernah ia alami di dalam hidupnya. Teramat manis hingga ia sendiri tidak sanggup jika harus mengenangnya kembali. Kenangan akan mimpi, harapan, dan cintanya yang saat ini masih terkunci rapi di dalam lubuk hati terdalamnya. Kenangan indah yang selalu ia dekap erat, enggan untuk melepasnya.
Kenangan tentang semua masa lalunya. Tentang satu rasa yang sempat berbekas jelas, menghias tiap jengkal dan memberikan warna khusus dalam kehidupannya. Kenangan yang.., ah sudahlah. Biarlah rasa itu mendapatkan tempatnya sendiri, tempat yang sulit untuk ditemukan dan berharap dapat perlahan tergerus oleh derasnya aliran waktu.
YOU ARE READING
Jingga Untuk Senja
Romance#2 novelromantis 16/1/19 Hidup menantang kita untuk berani. Atau bahkan memilih untuk hanyut dalam buaian mimpi. Karena hidup tak selamanya seindah imajinasi. Tak senyata harapan hati. Pun tak kuat terus untuk berdiri. Seperti senja yang tak selaman...
