Prolog

257 16 2
                                        

Setelah kami para siswa-siswi akuntansi berpusing-pusing ria akibat mempertahankan dan memastikan bahwa tidak ada angka nol '0' yang tertinggal ketika ujian kopetensi keahlian. Akhirnya kami semua dinyatakan lulus 100%. Dan kini tibalah saat yang paling ditunggu, pengumuman kelulusan perguruan tinggi negri sekaligus acara pelepasan siswa-siswi kelas 12.

———

Aku, Mutiara Saputri. Salah satu makhluk paling beruntung dimuka bumi ini. Yang saat ini sedang merayakan hari pelepasan.

Hari pelepasan terkesan ramai. Para siswi berlomba-lomba merias wajahnya, menggunakan kebaya dengan warna sesuai jurusannya. Siswa pun tak kalah berpenampilan menarik. Dengan kemeja berwarna-warni sesuai jurusan dibalut jas berwarna hitam. Terkesan gagah dan menawan. Dan pada saat ini pula semua berubah. Dari yang terlihat biasa saja, menjadi luar biasa. Dari yang tak pernah berdandan, pada saat ini berkesempatan menunjukkan wajahnya yang selama ini terpendam dibalik debu jalanan.

Disinilah aku sekarang, disebuah gedung serba guna milik sekolah, sedang duduk diantara siswa dan siswi yang sedang ramai berbincang-bincang, tertawa, serta perasaan yang menegangkan menunggu hasil pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi. Menggunakan kebaya dengan warna mocca yang terlihat manis. Adit mengenakan kemeja dengan warna yang sama sepertiku karna memang kita satu jurusan. Dengan dasi berwarna mocca dan juga jas hitam yang melengkapinya menjadi terlihat semakin tampan. Dari dulu hingga saat ini, dia memang selalu bisa membuatku terpesona.

Hari ini, mamah yang mendampingiku hadir diacara ini. Dan, sangat disayangkan, ketika Adit bercerita padaku bahwa tidak ada salah satu dari orang tuanya yang bisa memenuhi undangan hari ini. Bunda dan Papihnya memiliki jadwal yang sangat padat, tidak bisa menyisihkan sedikit waktunya untuk acara ini. Para orang tua wali murid memenuhi tempat duduk yang berbeda dari para murid.

Aku dan Adit duduk berdampingan, walaupun ketika kelas 12 kita tak lagi sekelas, beruntung kita masih bisa duduk berdampingan diacara pelepasan ini. Padahal, tempat duduk sudah diatur sesuai kelasnya. Entah apa yang dilakukan Adit, dia bisa duduk disampingku.

Tak banyak yang kami bicarakan, selain perasaan senang karna sebentar lagi kami akan benar-benar lulus dan resmi menjadi alumni. Aku masih belum siap untuk meninggalkan masa putih abu-abuku, banyak kisah yang baru aku temukan di putih abu-abu. Kisah cinta, persahabatan, semuanya terasa lekat di masa putih abu-abu. Di putih abu-abu pula salah satu mimpiku dengan tak terduga dapat terwujud, yaitu bisa mengenal dekat idola ku. Bahkan detik ini, aku menjadi bagian di hatinya.

Adit sedang asik menyaksikan pentas seni yang menjadi pembuka acara pelepasan hari ini.

Aku menatapnya, lantas tersenyum.

Ketika dulu aku hanya bisa menatapnya di layar kaca, kini aku bisa melihat dia secara nyata.
Ketika dulu aku hanya bisa mengaguminya, kini aku bisa memilikinya.
Ketika dulu aku hanya bisa mendengarkan suaranya melalui speaker ponsel maupun layar kaca, kini aku bisa mendengarnya secara langsung, mendengar alunan melodi yang dia nyanyikan.
Ketika dulu aku hanya menjadi bagian dari beribu-ribu orang yang mendambakannya, kini aku bisa menjadi kekasihnya. Menjadi salah satu orang yang beruntung di muka bumi ini. Dan semua itu terwujud di masa putih abu-abuku.

Saat ini mataku terasa panas. Seperti ada yg memaksa ingin keluar.

Sudah dua tahun aku bersamanya. Namun aku masih tidak percaya. Apakah ini sebuah mimpi? Jika iyah, tolong jangan bangunkan aku. Aku tidak ingin mimpi indah ini berakhir.

Lebih baik aku mimpi terus saja, dari pada aku harus kehilangan kamu.

"Ciee! Dari tadi liatin aku yah?"

Aku dikejutkan.

"Ih engga!"

"Kamu kenapa?"

"Emang kenapa?"

"Kamu nangis?"

Ah, sial! Hanya merenungkan hal kecil seperti itu saja, membuat airmataku menetes tanpa sadar.

"Engga ko."

"Jangan nangis, nanti make up nya luntur loh!" Ucapnya menggodaku.

Aku hanya tersenyum.

"Kita ga akan pisah kan dit?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontarkan dari mulutku.

Adit masih terdiam, menatapku.

Lantas tersenyum. Hanya tersenyum. Tidak ada jawaban.

"Huhh! Kira-kira kita lolos gak yah masuk UI?" Aku mengubah pertanyaan.

"Aku yakin kamu lolos!"

"Aku? Kita dong harusnya!"

Dia hanya tertawa kecil.

"Cantik banget sih!" Kali ini dia mengalihkan pembicaraan. Aku yakin sekali ada yang disembunyikannya.

"Kamu udah bilang begitu lebih dari sepuluh kali tau!"

"Hehehe."

"Kamu bakal jadi dokter cantik nanti! Aku takut banyak saingan nih!" Lanjutnya setelah tertawa lagi.

"Yee saingan gimana? Aku kan udah jadi milik kamu!"

Walaupun sekolahku memang lebih memfokuskan untuk bekerja, tak sedikit yang ingin melanjutkan untuk kuliah. Termasuk Aku, lebih memilih untuk melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi dengan jurusan kedokteran yang ingin aku geluti, selain memang tidak berbakat di bidang Akuntansi, aku ingin mewujudkan cita-cita ayahku yang ingin salah satu dari anaknya menjadi dokter. Ketika Kakakku tidak lolos saat tes dijurusan kedokteran, Aku menjadi satu-satunya harapan ayahku. Dan Aku, tidak keberatan untuk mewujudkan itu. Jika memang semesta berpihak padaku.

"Janji dulu sama aku?"

"Janji apa?" Aku bingung.

"Kalo misalnya kita terpisah. Kamu gaboleh sedih. Oke?"

Aku tidak mengerti mengapa kalimat itu Adit ucapkan. Jelas saja aku sangat berat menerima janji itu.

"Hey!" Selagi aku masih menatapnya, dia kembali berbicara.

"Kita ini cuman manusia biasa yang bisanya hanya nyusun rencana. Urusan rencana itu terjadi atau engga kita gak bisa mastiin, sayang." Ucapnya sambil menatapku dengan sendu.

"Ko kamu ngomong begitu? Kaya udah pasti kita bakal pisah aja!" Ketusku.

Adit tertawa samar.

Dia mengusap pucuk kepalaku, dan mengabaikan perkataanku.

-----

29 Maret 2019.

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian (☆)
Part 1 akan dipublish besok!
Jam 19.00 Wib.

Story Of Love #2Stories to obsess over. Discover now