═══ Part I ═══

15 1 0
                                        

▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃▃

┊ ┊    ┊ ┊    ┊ ┊ 

┊ ┊    ┊ ┊    ┊ ✧ 

┊ ┊    ┊ ┊    ✧ 

┊ ┊    ┊ ┊  

┊ ┊    ┊ ✧ 

┊ ┊    ✧ 

┊ ┊  

┊ ✧ 



Tulip, Red Rose, Black Rose, White Rose, Sunflower, Acacia, Baby's Breath, Succulent, Salvia, Iris, Lily, Carnation, Hibiscus, Dandelion, Cactus Flower, Amarilis, Agapanthus, Allysum, Daisy ....

Sialan!.

Aku sama sekali tidak tahu harus pilih bunga yang mana. Ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya aku membeli bunga. Dimataku semua bunga – bunga yang berada ditoko ini sama sekali tidak ada bedanya. Terlihat sangat cantik, menarik dan tentunya semua bunga ini mengeluarkan aroma yang sangat wangi sehingga membuat banyak binatang bersayap tak sanggup mengabaikannya.

Termaksud aku.

Um- tapi aku bukanlah binatang bersayap, aku manusia. Murni seorang manusia tanpa adanya campur darah makhluk lain.

Sebenarnya pikiranku sekarang ini memerintahkan agar aku membeli sebuah tunas bunga kaktus yang ditanam dipot berwarna putih dengan motif seadanya. Dan harganya pasti tidak akan menguras banyak isi di kantong dompet.

Tapi sayangnya hati dan pikiran seorang manusia tidaklah pernah sejalan. Dan sekarang, hatiku telah mengeluarkan deklarasi yang tentu saja tak akan bias ku tolak.

Hati nurani sialan ini ingin aku membeli bunga yang sangat special, untuk orang yang sangat biasa – biasa aja. Haah. Sungguh hari yang sangat sulit sekali.

"Permisi Miss, ada yang bisa saya bantu?" mata ku yang sedari tadi berlarian memperhatikan bunga – bunga didepanku secara bergantian, langsung melirik kesebelah kanan dengan ujung mataku.

Disana terdapat seorang pria, yang cukup tinggi. Puncak kepalaku mungkin hanya sebatas rahang tegasnya saja. Ku balikkan badanku menghadap kearahnya. Rahang yang tegas, bibirnya yang tidak terlalu tebal dan berwarna merah muda, hidung mancung yang sangat pas, bola mata bewarna coklat terang dan dilengkapi dengan bulu mata yang cukup Panjang tapi tidak lentik. Kemudian alis tebalnya yang membuat banyak wanita diluar sana iri karena dia tak perlu menggunakan pensil alis, dan terakhir rambutnya sedikit panjang bergelombang.

Shit!

Jika saja aku tidak dikejar waktu pasti aku sudah menariknya kedalam mobilku dan membawanya pulang.

Kemudian akan kubawa masuk kedalam kamarku. Dia sangat hot. Ku tegaskan sekali lagi,

DIA SANGAT H-O-T.

Yah, walaupun badannya tak sebagus badan para barisan mantan pacarku.

"Miss?"

"Ah... aku mencari bunga untuk sahabatku," jawabku dengan buru – buru. Aku sengaja mendongakkan kepala ku untuk menatap ekspresi pria dewasa yang sialnya sangat hot.

"Tapi aku terlalu bingung untuk memilih bunga yang mana." 

Tolong kalian jangan menghitung berapa kali aku mengucapkan kata hot!

Le FleuristeWhere stories live. Discover now