Run

30 3 3
                                        

Buka mata dan bangun!
Kau,bangun!!

........................................................................

Aku terkesiap.
Mataku terbuka lebar tanpa
disuruh,cahaya lampu yang menyilaukan langsung menusuk mataku. Aku berguling tak terkontrol hingga jatuh kelantai,berdebam keras.
Aku meringis menahan sakit yang
menyelimuti sekujur tubuh.
Nafasku tak teratur,kepalaku pening bukan main. Jantungku berdetak kencang,pandanganku buram. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku sampai tubuhku sesakit ini.  Aku mengedarkan pandangan kesekelilingku walau tak dapat melihat dengan jelas.
Lantai dingin,ruangan serba putih ini perlahan terekam jelas lewat mataku. Puing-puing cahaya lampu memperjelas segalanya.
Telingaku berdenging tiba-tiba,suara berat dalam mimpiku tadi berputar-putar didalam otak tanpa jeda. Aku mengerang sambil menutup kedua telingaku,berguling dilantai hingga menabrak meja besi beroda di pojok ruangan.
PRANG!
Semuanya jatuh,berantakan dilantai. Aku melindungi kepalaku dari hujan botol-botol kaca kecil dan beberapa benda kaca lainnya. Aku menoleh,meja besi itu sudah terkapar dilantai dengan pecahan kaca dimana mana.

Lalu semuanya tenang. Suara berat itu hilang dan aku menolak untuk mengingatnya kembali. Nafasku kembali normal,walau jantungku masih berdegup kencang tanpa alasan. Aku perlahan merangkak mendekati sebuah dinding kaca di sisi kiriku. Tenagaku seolah lenyap tak bersisa,membuatku tak tahan untuk sekedar berdiri dan melangkah.
Aku merangkak perlahan,tertatih.
Dinding kaca seolah berjarak ratusan kilometer dariku,aku kelelahan sendiri dalam beberapa detik. Nafasku memburu,keringat bercucuran. Aku terkapar seketika,dipeluk dinginnya lantai.  Aku kenapa?

Sesuatu dalam diriku tiba-tiba memberontak,memaksa agar bangkit.
"Sesuatu"itu cukup kuat,mengalahkan egoku yang hanya ingin terkapar dilantai tanpa batas waktu yang jelas.
Aku mengangkat kepala perlahan,menatap dinding kaca didepanku. Kepalaku pusing,membuat pandanganku kabur. Kaca itu jernih,seolah tak pernah disentuh apapun. Aku berusaha berdiri,mengerahkan seluruh tenaga tersisa. Nyeri menyelimutiku,aku berusaha tetap berdiri walau sempat oleng hingga menabrak tempat tidur beroda disampingku.

Aku menyentuh kaca tersebut.Dingin merambat hingga ke tulang,aku memandanginya sampai menyadari sesuatu. Ada bayangan manusia berdiri disana dengan pakaian terusan selutut berwarna putih yang kebesaran. Rambut hitam panjangnya berantakan,mata hitamnya menyorot tajam tiap bayangan dikaca. Ada luka gores di pipi kirinya tepat dibawah mata. Bayangan itu pucat seperti mayat hidup. Kakinya gemetar hebat,kaca itu terlalu detail menggambarkan bayangan tersebut.
Aku mundur selangkah,dengan tatapan tetap terarah pada dinding kaca. Menatap diriku sendiri tanpa berkedip.

Itu aku. Kedua ujung bibirku terangkat perlahan,membentuk senyum tipis. Aku melihat diriku sendiri. Dan itu benar-benar membuatku merasa lebih baik.

Kepalaku mendadak sakit,ada degungan tak jelas bersahut sahutan di telingaku.
"Itu aku,"suaraku serak,dengan yakin menatap kaca didepanku. Aku meraba wajahku,mengenalinya satu persatu.
Terakhir,aku memperbaiki rambutku yang kelihatan tak terurus dengan menyisirnya menggunakan jari jariku.

Kakiku melangkah berat menuju sisi lain ruangan. Dengan berpegangan pada dinding,aku menyusuri tiap inci dinding keras ini. Berharap menemukan sesuatu untuk keluar dari sini. Jika aku bisa masuk,pasti aku juga bisa keluar.Ruangan putih ini lama lama membuatku jenuh,tidak nyaman tanpa alasan.

Aku merasakan sesuatu didinding. Ada pegangan pintu besi yang mulai berkarat. Aku menatap heran,ruangan ini kelihatan bersih dan baru,kenapa pegangan pintunya sudah karatan?

Lihatlah,pintu ini kontras sekali dengan ruangan putih bersih dan baru didalamnya. Begitu aku mendorongnya,pintu besar tersebut langsung roboh tanpa sisa. Kepulan debu dimana mana,membuatku terbatuk tanpa henti. Aku melangkahi pintu besi tersebut,meninggalkan ruangan putih tadi.

Didepanku hanya ada lorong panjang dengan lampu yang berkedap kedip.
Lantainya dingin dan berdebu,aku baru sadar kakiku tidak beralas apapun saat tak sengaja menginjak cairan kental dilantai. Aku merendah,memeriksa cairan dilantai.   Bau amisnya membuatku jijik,kakiku melangkah menjauh. Itu darah.

Lorong ini seolah tanpa ujung. Baunya yang menyengat membuatku tak nyaman. Dindingnya kotor,bercak bercak kemerahan dimana mana. Jantungku semakin tak terkontrol saat menemukan genangan darah dan seseorang berpakaian sama denganku terbaring didepan sana. Aku mendekat,bau busuk langsung membuatku mual. Dia sudah jadi mayat dengan luka menganga besar dilehernya. Dia kenapa? Siapa yang membunuhnya?

Aku berlari meninggalkan mayat tadi. Ada yang tidak beres. Aku harus pergi atau berakhir seperti dia. Aku harus keluar dari sini dan mencari tahu apa yang terjadi.

Lariku tidak sia sia. Didepanku,ada sebuah pintu. Aku mendekat,berusaha membukanya namun gagal. Pintu ini keras sekali. Pegangannya dingin. Aku menggedornya sekuat tenaga,berharap langsung roboh seperti pintu sebelumnya.

Sayup sayup suara geraman terdengar dari lorong. Bukan satu atau dua,ada lebih dari sepuluh geraman. Ada suara mendesis kasar,teriakan yang menyeramkan. Suaranya semakin dekat,bersamaan dengan sosok belasan manusia sempoyongan muncul dari balik lorong.

Mereka tak normal. Darah disekujur tubuh,berjalan seperti mabuk,tangan mereka mengenggam anggota tubuh manusia. Yang terdepan membawa kepala. Kepala mayat tadi. Dengan rakus ia memakannya hingga tinggal setengah. Kepala itu dilemparkan kearahku,percikan darahnya mengenai wajah dan pakaianku. Dan mereka mendekat.

Aku menggedor pintu,berteriak sekencangnya agar seseorang diluar sana bisa menolongku dari belasan manusia aneh ini. Mereka semakin dekat,memamerkan gigi-gigi tak terurus mereka padaku. Aku kembali menendang  pintu tanpa henti.

Mereka berjarak lima meter dariku. Ya ampun,aku harus pergi. Salah satu dari mereka mencengkram lenganku,aku refleks memukulnya dengan tanganku yang lain.

Tangannya berdarah. Aku tidak sadar sejak tadi menggenggam pisau. Aku punya senjata. Baiklah,aku bisa pakai ini untuk menyelamatkan diri. Aku berbalik,menghujamkan pisau disela sela pintu agar terbuka.

Cengkraman dileherku menguat. Aku berbalik,menusuk matanya dengan pisau. Ia terkapar,mengerang kesakitan. Aku kembali fokus membuka pintu,walau cengkraman dibelakangku semakin buas.

Pintunya terbuka bersamaan dengan cengkaraman keras dileherku. Napas
-ku terhenti,manusia aneh ini mau
membunuhku. Aku berusaha bertahan sambil berpegangan pada pintu. Aku berusaha menjauh,menendang brutal siapa saja yang menahanku.

Aku terjembab ketanah. Cahaya matahari menghangatkan tubuh,aku berbalik dan mendapati langit biru cerah tanpa awan. Pemandangan indah itu buyar saat belasan manusia zombie dibelakang menarik kakiku. Aku menendang-nendang sembarangan,merangkak sekuat tenaga menjauhi mereka. Tarikan mereka semakin keras,aku kini berpegangan pada sebuah tiang besi yang tergeletak ditanah. Kumohon,
tolong aku.

Mereka tak putus asa. Tarikan mereka semakin brutal,kuku tajam mereka baru saja melukai betisku. Aku berteriak kesakitan,meronta menjauhi mereka. Satu tendangan keras,tarikan mereka melemah. Aku bangkit,mendekati mereka dan menghujamkan pisau tepat diubun ubun salah satu zombie terdepan.

Aku akhirnya keluar. Melangkah tanpa arah dibawah teriknya matahari. Tidak ada apapun dan siapapun disini. Kosong seolah tak berpenghuni. Juga kotor,aku tidak menemukan satu sudut yang layak untuk kusinggahi.
Kakiku berada dengan aspal panas,memerah menahan panas

Aku akhirnya keluar. Dan menemukan masalah baru. Apa yang telah terjadi padaku dan kota ini?Kemana semua orang? Aku sungguh sendirian.

Aku mengelap wajahku dengan baju putih ini. Mataku menangkap sesuatu,sebuah susunan huruf yang dijahit dengan benang hitam disisi kiri baju.

Ada tulisan. Itu nama.
Nessie.
Aku terkesiap. Itu namaku.

#story
#firststory
#hopeyouenjoythestory
Thanks

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 14, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Wake UpStories to obsess over. Discover now