"Kadang sihir tak pantas dipelajari. Bagaimana tidak, Sekolah Aegisall baru saja hancur berkeping-keping. Katanya, hal itu ulah seorang Penyihir Tetragena," ucap seorang ibu-ibu pada anak remajanya.
Aku melirik ke arah percakapan tersebut. Kulepas tudung jaketku dan menyisir asal rambutku dengan tangan.
"Tapi, sihir memang berguna, dan seharusnya-" protes si anak terpotong
"Memang, sihir itu netral, tapi ada saja berita yang membuat penduduk tidak tenang."
Hah, argumen ini takkan selesai jika mereka terus melontarkan pendapat masing-masing.
Aku menaruh tongkat sihirku di saku dan kembali berjalan. Kota Vardewald, kota penghasil tongkat sihir terbanyak di benua. Kira-kira sekitar 4.100 tongkat baru dihasilkan setiap harinya. Kota ini juga merupakan tempat aku lahir.
Gadis berambut pendek tomboy berwarna coklat tua tengah berlari berlawanan arah denganku. Namun, tunggu sebentar. Dia bukan berlari tak tahu arah. Sweter merah mudanya yang bermotif buah pisang dihantam udara.
Liena Victorell.
Gadis itu mengenakan sebuah kacamata bulat-seperti tokoh Harry Potter-dan jin biru tua, pakaian khasnya. Sepatu hitam keputih-putihan miliknya menendang bumi. Ia menghampiriku, lalu berkata, "Alvin, ke mana saja kau? Daven dan Jesstyn sudah menunggu di perpustakaan kota."
Gadis itu terengah-engah. Aku akan membelikannya minuman. "Lien, kau mau minum apa? Aku traktir," ujarku.
"Benarkah? Asyik, terima kasih, Leyl! Aku mau Root Beer botol itu saja," ujarnya. Namun, aku tahu bahwa ia orang yang perutnya sensitif. Aku mencegahnya meminum Root Beer.
"Lien, kau ini. Kemarin kan penyakit magmu kambuh lagi, sedangkan waktu hari Rabu, kau tidak masuk kelas, katanya mulas," cegahku.
"Oh ayo lah, kan tidak ada hubungannya dengan sakit magku," ucapnya memelas dengan centil, "Ya, Leyl? Leyl kan baik, tampan, pintar, berpengertian ...."
Sebenarnya, makhluk ini sudah biasa melancarkan jurus itu, tapi entah kenapa aku malah memanjakannya. Aku menurutinya dan membiarkan dia memilih hal yang ia ingin-dan merugikan dirinya.
"Yaaaah, baiklah. Kau boleh ambil Root Beer itu."
"Oke! Terima kasih, Leyl."
Sesaat, aku mengambil Milk Tea dan berjalan ke arah kasir. Liena mengikutiku dan menyerahkan minumannya padaku. Saat kulirik Liena, ia mengecek ponselnya. Aku yakin ia sedang menghubungi Daven dan Jesstyn, lalu menyuruh mereka membeli minuman dahulu.
Uangku habis 18 Fol. Setelah selesai membayar, aku meraba plastik belanjaanku dan menyerahkan Root Beer milik Liena. Kami berjalan menyusuri trotoar kota. Sesekali aku menengok pepohonan dan angkasa.
*
Sepuluh menit kemudian, aku dan Liena tiba di perpustakaan kota. Suasana sepi, aroma buku usang, minuman, dan tempat duduk serta meja yang nyaman. Perpustakaan kota ini seperti kafe saja. Daven dan Jesstyn melambaikan tangannya di tempat duduk dekat jendela.
Setelah celingak-celinguk, aku dan Liena pun mendatangi Daven dan Jesstyn. Jesstyn terlihat kesal saat melihat aku dan Liena yang memegang botol minuman. "Kalian tidak membelikanku, ya?" ujarnya kesal.
Liena, orang itu pasti tertawa saat Jesstyn mengucapkan kalimat kecemburuan itu, sedangkan Daven memotong waktu membacanya untuk melihat argumen kami bertiga. "Kalian sudah pesan?" kata Liena.
"Sudah, Alvin kau dapat Matcha Latte. Lien, kau dapat Espresso. Jesstyn minum teh lemon hangat saja, dan aku coklat hangat," jelas Daven.
"Dave, kita cari minimarket, yuk. Aku mau minum," kata Jesstyn.
"Hah? Kau kan sudah pesan teh lemon hangat," jawab Daven.
"Iya, tidak apa-apa. Yuk."
"Jess, kami barusan beli minum karena Lien terengah-engah di jalan. Kutraktir dia minum, aku pun sekalian beli," tanggapku.
"Iya, iya. Aku tahu kok, aku hanya bercanda," balas Jesstyn.
Lien dan aku pun duduk di kursi. Aku bersebelahan dengan Jesstyn, sedangkan Lien dengan Daven. Daven melanjutkan bacanya, sedangkan aku, Liena dan Jesstyn membahas tentang lagu karangan kami. Liena mulai melantur tentang kami berempat yang akan menjadi bintang grup band.
Namun, aku menyudahi obrolan kami, lalu mengambil novel fantasi. Jesstyn dan Lien memintaku untuk mengambil sebuah novel petualangan dan komik. Setelah sampai di meja, aku memberikan buku-buku tersebut. Kami mulai membaca dalam kesunyian.[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Dancing Atmosphere
FantasySeribu mimpi milik Alvin tandas sudah, oleh karena seorang penyihir Tetragena. Pola serangan yang santai dan dingin membuat teror semakin menjadi-jadi. Saat itu, Alvin hanyalah seorang penyihir muda. Namun segalanya berputar, seakan mendorong Alvin...
