Stranger

434 59 4
                                        

Namaku Im Yoona, anak bungsu dari dua bersaudara. Saat ini duduk dibangku kelas 3 SMA.

Libur sekolah telah tiba dan saat ini aku sedang berkemas untuk pulang kekampung halaman orangtuaku. Orangtuaku asli Daegu, berbicara tentang orangtuaku rasanya tak lengkap jika tak menceritakan silsilah-eaaa perjalanan hidup mereka.

Di Daegu, rumah ibu dan ayahku bersebelahan alias bertetangga. Jadi tak heran jika mereka sudah berteman sejak masih menggunakan popok. Ayah bilang jika mereka akan saling menangis jika salah satu ada yang sakit-romantis sekali. Mereka selalu bersekolah disekolah dan kelas yang sama. Saat masa kuliah mereka mengambil fakultas yang berbeda dan itu pertama kalinya mereka berpisah, meskipun begitu mereka tetap bertemu dirumah.

Setelah lulus, ayah mendapat panggilan kerja ke ibukota Seoul sedangkan ibu awalnya diBusan. Namun setelah setengah tahun di Busan, ibu dipindahkan ke Seoul. Dan disitulah akhirnya mereka bertemu lagi. Setelah menjalin hubungan cukup lama mereka memutuskan untuk menikah. Setelah menikah mereka kembali ke Seoul.

Saat mengandung kakak, ayah menyuruh Ibu untuk berhenti bekerja. Dan itu berlangsung sampai aku lahir kedunia dan berumur 10 tahun sedangkan kakak berumur 13. Saat itu ibu mendapat panggilan kerja lagi dan memilih mengambilnya. Dan selama 9 tahun ini Ibu sangat menikmati kesibukannya di kantor dan dirumah.

-

Setelah selesai berkemas aku membaringkan tubuhku dikasur empukku. Biasanya, jika kami akan pulang ke Daegu, aku dan kakak akan saling mengganggu dengan mengambil barang masing-masing dan menyembunyikannya. Tujuannya adalah agar kami semakin lama berkemas dan ayah yang akan menyiram kami dengan air karna bangun kesiangan.

Dan aku baru merasa kesepian setelah ditinggal seminggu oleh mereka dirumah sendirian. Seminggu ini benar-benar sibuk karna aku harus menghadiri les tambahan karna sebentar lagi ujian. Karnanya aku harus merelakan jatah liburku lebih singkat dibanding yang lain.

Aku belum pernah pulang ke Daegu sendirian. Jika ayah dan ibu tak bisa pulang ke Daegu, maka aku akan pergi berdua dengan kakak menaiki bus.
Jika kami pergi berempat, kami akan naik mobil ayah. Ayah tak mengizinkan kakak membawa mobil sendiri tanpa ayah duduk disampingnya meskipun kakak sudah memiliki SIM.

Itu karna dulu, saat kakak baru saja mendapatkan SIM dan kami pulang ke Daegu. Kakak yang diberi kepercayaan ayah untuk menyetir karna saat itu sudah memasuki kawasan pedesaan dan sebentar lagi kami akan sampai. Namun, dengan bodohnya kakak malah menyeruduk seekor domba yang tengah memakan rumput di pinggir jalan. Alhasil, domba itu mati mengenaskan dan ayah harus mengganti rugi pada pengembala domba itu.

Aku juga bingung bagaimana bisa kakak menabrak domba yang sedang anteng dipinggir jalan, karna saat itu hanya ada mobil kami yang melintas, dan domba-domba itu sedang diam bukannya yang lari-lari menyebrangi jalan. Huh entahlah, mungkin dia sedang lelah hihi.

-

Pagi menjemput dan aku segera bangun untuk membersihkan rumah, itu memang sudah tugasku untuk membersihkan bagian dalam rumah, sementara kakak bagian luar, ibu memasak dan ayah mencuci.

Kebiasaan ini sudah diterapkan sejak ibu mulai bekarja lagi. Ayah sengaja tidak menggunakan asisten rumah tangga, agar kami tak malas.
Namun, kupikir bukan hanya itu, kami juga bisa bertambah dekat dengan saling bercanda dipagi hari meskipun kami harus saling berteriak karna posisi kami yang berpencar dirumah. Hehe...

Setelah semua rumah bersih dan membuang sampah aku bergegas bersiap karna hari sudah semakin siang. Setelah siap, aku segera keluar rumah dan mengunci pintu. Ternyata sudah ada kak Taehyung-teman kak Junmyeon didepan rumahku dengan mobil sedannya.

Kami memang cukup dekat karna ia yang suka main kerumah, terkadang juga ia suka menjemputku di sekolah atau tempat les.
Kakak bilang, kak Taehyung menyukaiku, namun aku tetap bersikap biasa saja meskipun tau fakta tersebut agar tak terjadi salah paham.

StrangerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang