Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

001.Prolog

11 2 0
                                        

Kenapa harus dia ?

Hembusan angin pagi menyentuh lembut pipi gadis jangkung itu, suara kendaraan pagi selalu menyapa telinganya. Mata cokelatnya yang indah, membuat wajahnya terlihat manis dengan rambut hitam panjangnya.

Olive Valeria, biasa disapa Olive. Ia gadis pintar dengan nilai diatas rata-rata. Menjadi siswi yang punya banyak saingan di setiap kelas. Namun, tak jarang ada juga yang membencinya.

"Olive, gak jadi ke perpus ?" Panggil temannya membuyarkan ia dari lamunannya.

"Oh, duluan aja. Gue mau ke toilet dulu bentar." Balasnya dengan tersenyum tipis, temannya pun mengangguk kemudian berlalu pergi.

Olive melangkah pelan menuju toilet, ia mengedarkan pandangan pada lapangan sekolah. Tampaknya anak XI B sedang mengambil praktek, ia menghela nafas pelan kemudian melangkah lagi.

"Eh Liv !" teriak guntur menghampirinya dari arah berlawanan, Olive mendelik kaget. Masalahnya Guntur tidak sendiri, dia sedang bersama si kutu Rehan.

"Lo gak ke perpus ?" Ujarnya pada gadis itu, Rehan disebelahnya hanya menatap Olive tak minat.

"Mau pergi, tapi mau ke toilet dulu. Anak-anak udah pada kesana kok." Balasnya sambil melirik Rehan takut, guntur mengangguk paham.

"Yaudah kita duluan yah, atau Rehan mau nungguin lu kali," celetuknya dengan menyengir tanpa dosa, Rehan melotot kaget tak terima.

"Bacot lu." ujarnya pedas, guntur mendelik. Olive menelan ludah pahit, udah biasa dengan perlakuan Rehan. Kemudian mereka berlalu pergi.

Rehan itu saingan Olive dari SD di kelas, mereka berdua hidupnya cuma rebutin posisi juara satu sama dua. Dulu pas Rehan juara satu, Olive tetap mengucapkan selamat pada cowok jangkung itu, tapi semenjak Olive juara satu, Rehan jadi dingin sama Olive. Suka ngomong kasar. Emang salah kalo juara kelas ?

***

Olive membolak balikan halaman buku yang ia baca, memastikan rumus yang ia pake sudah benar. Ia sesekali mendecak kesal, karena tidak menemukan rumus untuk soalnya.

Olive mengedarkan pandangannya mencari seseorang, ia tersenyum tipis melihat Rehan duduk tidak jauh dari mejanya.

Ia pun menarik pelan kursi di depan Rehan membuat cowok itu mendecih.

"Lu tau rumus ini gak han ? Kayak susah bangat, padahal gue udah hitung pake rumus yang ibu Naya kasih tapi tetap gak dapat hasilnya," jelasnya dengan frustasi, Rehan menghela napas kesal.

"Lu kan juara satu, kenapa soal gitu aja gak tau ?" ujarnya kesal, Olive menganga kaget.

"Lagian lu sama gue gak sedekat itu, buat ngerjain tugas sama-sama." Ujarnya lagi kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan pindah tempat duduk.

"Kenapa sih tuh anak, masih marah gara-gara gue juara satu ?" katanya dengan nada sedih.

Seseorang menyenggol lengannya membuat ia menoleh, menampilkan Rendi yang tersenyum manis padanya. Olive melongos.

"Kenapa muka lu jelek gitu sih ? Habis diapain sama si kutu ?" Tanya cowok hidung mancung itu, Olive menidurkan diri dengan beralaskan lengan.

"Gak tau," ujarnya masih menghela nafas, Rendi menepuk kepala Olive dengan pena ditangannya membuat gadis itu menoleh padanya.

"Dia masih kesal sama lu kali, gara-gara lu ngambil posisi juara satunya dia." Ujar Rendi sambil celingak-celinguk, takutnya Rehan mendengarnya.

"Lah. kan gue gak tau bakalan juara satu, lagian beda nilainya cuma satu aja, kenapa dia harus marah bangat sama gue ?" Cerocosnya kesal sendiri, Rehan terkekeh pelan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 06, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RIVALStories to obsess over. Discover now