⚠️⚠️⚠️
Kehilangan kesempatan untuk menggapai cita-citamu sendiri adalah kenyataan paling buruk bagiku. Terlahir di keluarga sederhana membuatku harus lebih giat belajar demi mendapatkan dan mempertahankan beasiswaku.
Akibatnya adalah aku kehilangan semangat saat ujian masuk universitas. Aku sudah sangat jenuh dengan belajar, makanya waktu itu aku berhenti belajar dengan harapan aku bisa lolos walau tanpa belajar.
Kupikir semua berjalan sesuai keinginanku. Tapi namanya hidup, bukankah memang semestinya berusaha?
Aku gagal.
Dan aku malu. Malu pada teman-teman terlebih lagi orang tuaku.
Maka dari itu aku meminta izin pada orang tuaku untuk hidup sendiri. Aku butuh waktu sendiri. Untungnya orang tuaku mengizinkan.
1 tahun menunggu ujian universitas selanjutnya tanpa melakukan apa-apa membuatku berpikiran untuk mencari pekerjaan. Aku kan juga butuh uang untuk hidup di Seoul.
Maka dari itu, di sinilah aku sekarang.
"Nuna!"
Aku mendengus, menoleh malas, "Berhenti memanggilku seperti itu aku bukan Nuna-mu."
Jihoon terkekeh. Ia mendekat padaku lalu mengambil botol minum yang aku pegang.
Selagi ia meneguk air, aku mengambil beberapa lembar tisu lalu mulai mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat.
Bisa menebak apa pekerjaanku?
Aku sendiri sebenarnya tak mengerti apa nama pekerjaanku ini. Aku hanya bertugas untuk menyiapkan minum, mengelap keringat, menemaninya mengobrol atau bermain game, banyak lagi. Yang jelas aku harus siap berada di sampingnya saat ia membutuhkanku.
Park Jihoon. Pemuda yang sepertinya senang sekali menjahiliku. Lihat saja sekarang ini.
Aku masih mengusap wajahnya dengan tisu dan dia hanya menunduk memperhatikan wajahku.
"Nuna,"
"Aish Park Jihoon!" decakku sebal.
Jihoon terkekeh lagi. Berhasil membuatku sebal hanya karena panggilan itu.
Kami lahir di tahun yang sama. Bahkan bulannya pun sama. Hanya saja aku lahir tanggal 18, ia 29.
Hanya berbeda 11 hari dan ia memanggilku 'Nuna'. Aku sebal mendengarnya.
"Kau pakai liptint ya?" tanyanya kemudian, mengabaikan decakkanku tadi.
Aku mengernyit, "Aku setiap hari juga pakai."
Gantian Jihoon yang mengernyit, "Tapi yang ini-"
"Apa terlalu jelas?" potongku, buru-buru mencari cermin.
Aku memperhatikan warna bibirku di cermin. Memang lumayan mencolok. Sepertinya aku terlalu banyak memakainya.
Aku hendak mengambil tisu untuk menghapusnya saat Jihoon menahan tanganku. Ia sejak tadi berdiri di belakangku.
"Sini ku bantu," ucapnya.
Ia membalikkan tubuhku dengan mudah. Kejadiannya begitu cepat saat tangan kanannya menahan tengkukku dan tangan kirinya kini menarik tubuhku lebih dekat.
Bibirnya....
Bibirnya....
Mataku masih membulat kaget, terlebih saat bibir itu bergerak melumat bibirku pelan. Gerakannya lihai sampai aku tak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali.
Ciuman itu berlangsung selama satu menit. Ia menjauhkan wajahnya sedikit. Ku kira akan berakhir di sana tapi rupanya tidak.
"Rileks saja, tak usah tegang begitu," bisiknya.
Aku mengerjap, masih diam menatap matanya yang juga menatapku.
"Tutup matamu, nikmati saja ini," ucapnya lalu mendekat lagi.
Kali ini kedua tanganku reflek mencengkram sisi bajunya saat merasakan ciuman ini semakin intens.
Ini gawat. Para member sudah menghilang entah kemana dan kami hanya berdua di ruangan ini.
Tanganku naik, alih-alih mendorong tubuhnya, aku malah melingkarkan kedua tanganku ke lehernya. Tak mau jadi munafik karena demi Tuhan dia tahu cara mencium wanita dengan baik.
🍁🍁🍁
YOU ARE READING
ECSTASY
Short Storyrandom imagines with your bias it can be fluff, angst, or maybe a smut #1 in seonghwa #2 in X1 #1 in leehangyul #1 in leebyounggon #1 in imagines #11 in ygtb ⚠️written in Bahasa yourecstasy, 2018
