Perjumpaan Mula-mula

63 3 9
                                        

"Tiktok jam dering alarm, pagi tak terhindarkan. Tiktok jam dering alarm impian pudar perlahan, diam-diam pagi tak terhindarkan",-

Nyanyian dari pengeras suara telepon genggam sayup-sayup terdengar di telinganya pagi itu. Nyanyian yang secara pelan mempengaruhi alam bawah sadarnya hingga terbawa ke mimpi yang tengah ia rasakan. Akhirnya Gori bangun dari tidur setelah dirasa mimpinya tidak menyenangkan lagi untuk dilanjutkan karena telah dicampuri dengan nyanyian dari Silampukau yang sengaja ia jadikan nada alarm untuk membangunkan paginya. Dengan mata setengah terpejam Gori berusaha meraih telepon genggamnya yang terletak tepat disisi kanan telinganya. Dengan lihai jemarinya menyentuh layar tanpa menatap untuk mematikan alarm paginya. Matanya dirasa pedas karena baru saja ia terlelap pukul 4.20 AM, lalu kemudian dipaksa bangun oleh alarmnya pukul 5.53 AM. Belum genap dua jam Gori terlelap, kini ia harus segera bangun. Ada sedikit rasa senang di hatinya mengingat hari ini adalah hari pertama perkuliahan di tahun ajaran baru.

Tak terasa setahun telah ia jalani perkuliahan ini, dan kini masuk tahun kedua ia kuliah. Rasa senang timbul di hatinya ketika membayangkan situasi di kampus pagi nanti, akan banyak mahasiswi-mahasiswi baru yang tentu akan menyegarkan pandangan mata. Tak pernah Gori sesemangat ini ketika kuliah pagi-pagi, rasanya ia ingin segera tiba di kampus. Bergegas Gori menuju kamar mandi --tak lupa membaca niat dalam hati-- dengan rasa senang yang sedikit muncul di hatinya setidaknya menambah semangatnya untuk mandi pagi-pagi.

Matahari mulai meninggi memancarkan sinarnya yang masih hangat dan lembut bilamana tersentuh kulit. Gori telah siap menuju kampusnya, dengan tas yang hanya berisi buku catatan dan sebatang pulpen tanpa penutup, isi tas yang bahkan dari semester awal tak pernah tergantikan hingga memasuki tahun ajaran baru ini. Berjalan ia menuju jalan raya untuk menaiki angkutan umum yang akan mengantarkannya ke kampus. Sambil berjalan sesekali Gori melirik arloji busuknya untuk memastikan ia tiba di kampus tepat waktu. Pukul 6.44 AM dia telah berada di tepi jalan raya menunggu angkutan, "masih sempat memilah-milah angkot", gumamnya dalam hati.

Setelah sepuluh kali memilih angkutan, akhirnya dia menaiki angkutan berwarna kuning untuk mengantarkannya ke pasar. Ya, tak ada angkutan yang langsung menuju kampusnya dari sini. Dia harus dua kali turun naik angkutan untuk sampai ke kampusnya. Belum jauh angkutan bejalan, dia merasakan ada yang aneh dengan angkutan tersebut. Dan benar saja angkutannya berbelok menuju ke jalan yang berbeda dengan pasar. Gori memejamkan mata sambil bergumam kesal dalam hati "Bodohnyalah! Sudah setahun menjalani ini dan sekarang bisa-bisanya salah naik angkot".

Tak serta-merta Gori turun dari angkutan itu karena ia tahu angkutan itu akan melewati persimpangan yang juga dilewati oleh angkutan yang menuju kampusnya. Gori merencanakan untuk turun di situ. Gori kecewa waktunya jadi terbuang banyak, perjalanan yang seharusnya bisa ia tempuh sekitar satu jam, kini harus molor 30 menit. Tampaknya akan gagal rencana Gori untuk tiba di kampus tepat waktu.
"Baru hari pertama udah telat aja bah, cemana kedepan kedepannya", ujarnya kesal dalam hati.
Tiba di persimpangan yang dimaksud Gori segera meminta bang supir untuk menepi, lalu ia segera turun dan memberi ongkos pada bang supir.
Kini dia berada di sisi jalan yang berlawan dengan angkutan yg menuju kampusnya. Dengan rasa kesal dia menyebrangi jalan yang dinamai dengan nama pahlawan yang berasal dari daerah yang sama dengan kampung Ayahnya itu.

Mengingat waktunya tak begitu longgar lagi, tak lama setelah menyebrang dia langsung menyetop angkutan yg dimaksud tanpa pilih-pilih. Angkutan pagi itu cukup penuh, Gori pun duduk dengan posisi yang kurang nyaman baginya. Rasa kesalnya makin menjadi. Sekitar 1.32Km angkutan melaju, Gori baru menyadari ternyata ia duduk saling berhadapan dengan seorang gadis dengan busana hitam-putih. "Maba ni pasti, manis juga keknya", berucap ia dalam hati. Rasa kesalnya pelan-pelan mereda dengan situasi tersebut, ditambah lagi earphone yang sedari tadi lekat di telinganya mulai mengeluarkan suara-suara yang mencerahkan suasana. Terputar lagu secara acak dari telepon genggamnya, kali ini lagu Jason Ranti yang terputar. Variasi Pink! Semacam kebetulan, lagu ini menceritakan tentang keresahan para lelaki melihat para perempuan yang kebanyakan berdandan, padahal lelaki lebih suka melihat perempuan itu telanjang --wajahnya. Tepat di sebelah gadis yang berbusana tadi ada seorang gadis SMA dengan wajah penuh polesan, mirip seperti apa yang dilukiskan oleh Jason Ranti dalam lagunya tersebut. Berbanding terbalik dengan gadis yang dihadapannya tadi. Gadis ini wajahnya minim polesan, hanya seadanya saja. Gori terus memperhatikan keduanya secara curi-curi, rasa kesalnya perlahan hilang dan ada rasa lucu dibenaknya. Jarang sekali ia mengamati situasi seperti ini secara langsung. Yang satu mencoba menutupi ketidakcantikannya dengan polesan polesan di alis dan bibir, yang satu sadar betul akan apa yang ada di dirinya dan terkesan tak ingin berpura-pura dengan parasnya. Yang satu matanya terus menatapi telepon genggam, yang satu sorot matanya terus lekat dengan buju yang ia pegang, gadis hitam-putih ini tampak sangat menikmati bacaannya. Sebuah perbandingan yang unik menurut Gori. Gadis yang membaca buku lebih menarik perhatiannya, Gori penasaran buku apa yang dibaca oleh gadis itu.

Senyum Segaris Seorang GadisStories to obsess over. Discover now