Studi Cinta Islami

30 1 0
                                        

Akhirnya aku kembali lagi kesini, ke kampusku 4 tahun yang lalu, dimana aku pernah hampir saja menyesal karena kupikir aku salah jurusan. Aku kuliah jurusan Teknik Informatika, meskipun aku tidak terlalu tertarik akan hal-hal yang berbau teknologi. Memang, dulu aku memilih jurusan ini karena desakan orangtua, karena mereka pikir jurusan ini cocok untukku. Meskipun ini salahku juga, tidak memikirkan mau melanjutkan kemana saat lulus SMA nanti, tapi sudahlah, memang sudah terjadi. Lagipula banyak keuntungan yang bisa diambil selama kuliah di kampus ini. Karena disini lebih terkenal dengan ilmu keislamannya, jadi orang lain mengira lulusan dari sini pasti sudah pintar urusan agamanya, jadi ada tuntutan untuk mempelajari ilmu agama secara dalam, baik itu jurusan agama ataupun umum.
Tiba-tiba ponselku berdering, "Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikum salam, ini dengan bapak Latif?" Terdengar suara orang yang meneleponku.
"Iya, saya sendiri, ada apa?"
"Maaf pak, saat ini saya sedang rapat hingga jam 5 sore dengan para staf. Bapak bisa tunggu di lobby Fakultas Teknik tidak?"
"Baiklah, saya tunggu di Fakultas ya." Jawabku.
"Mohon maaf baru memberitahu. Terimakasih ya pak, wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Aku melirik jam tangan berwarna biru yang terikat di pergelangan tangan kananku. Masih pukul 4. Aku pun memutuskan untuk berkeliling dulu, lagipula Fakultas Teknik, fakultasku dulu, terletak di bagian belakang, jadi tidak ada salahnya untuk berjalan -jalan. Melewati Student Center, terlihat masih sama seperti dahulu. Banyak mahasiswa-mahasiswa duduk di lantai, membentuk beberapa lingkaran. Masing-masing kumpulan memiliki pembahasan khusus. Ada yang membahas tentang kegiatan kampus, komunitasnya, ataupun ada juga yang melakukan prospek Multi Level Marketing. Aku terkadang tertawa sendiri mendengar konsep ini, karena mereka rata-rata mengincar orang yang masih muda, terutama mahasiswa, mungkin karena semangat kerjanya tinggi.
Di depan Perpustakaan Utama, aku berhenti sejenak melihat suasana yang ada disekitarku. Banyak mahasiswi lalu lalang. Inilah salah satu alasan mengapa aku memilih kuliah disini. Dari dulu aku suka melihat wanita berhijab. Menurutku, wanita berhijab lebih sopan dibandingkan dengan yang tidak berhijab. Meskipun ada beberapa diantara mereka yang menganggap berhijab sebagai kewajiban dari kampus, dan diluar kampus mereka melepasnya, tetapi itu tanggung jawab mereka sendiri, bukan urusanku. Lagipula dari penampilan juga bisa terlihat, apakah mereka memakai hijab dengan benar atau tidak.

Pukul 16.20, aku sampai di Fakultas Teknik, tempat aku berjanji untuk bertemu dengan kenalanku. Saat melewati pintu masuk, aku merinding. Bukan karena ketakutan, tapi karena teringat akan semua kenangan yang pernah aku alami disini, terutama saat aku menyatakan perasaanku kepada wanita yang saat itu paling kucintai. Wanita yang menurutku salehah, baik, dan cerdas.
Aku langsung duduk di tangga dekat lobby sambil mengenang masa-masa kuliahku dulu, terutama tentang kebiasaan kami di kampus. Pada saat aku kuliah, jika selesai kelas terakhir, sebagian diantara kami masih ada yang tetap didalam kelas. Ada yang belajar, me-review pelajaran hari itu, diskusi mengenai tugas kampus, ataupun hanya sekedar memanfaatkan fasilitas wi-fi yang disediakan. Bahkan jika satpam kampus belum menyuruh kami pulang, kami bisa sampai larut malam berada disitu.
Salah satu mata kuliah favoritku adalah Studi Islam yang memiliki 4 SKS dan terbagi dalam dua semester. Dosen kami, Profesor Hisyam, memberikan tugas kepada kami untuk membuat makalah tentang Sumber-Sumber Ajaran Islam, yang dibagi per kelompok kemudian dibahas satu persatu. Mungkin menurut sebagian orang, dosen ini termasuk dalam kriteria dosen pemalas, sehingga mereka kurang maksimal dalam pengerjaan makalahnya. Awalnya juga menurutku begitu, tapi aku punya pendapat pribadi mengenai hal ini.
Pada Studi Islam 1, beliau memberikan tugas kepada kami untuk membuat makalah tentang masa-masa pemerintahan Rasulullah dan Khulafaurrasyidin. Saat itu, kelompok temanku yang membahas tentang masa transisi kepemimpinan Rasulullah dengan Khulafaur Rasyidin baru selesai menjelaskan materinya, dan menanyakan apakah ada yang ingin bertanya. Karena tidak ada yang bertanya, akhirnya Profesor Hisyam menanyakan tentang detail bagaimana kejadiannya saat itu, mengapa bisa terpilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai Khalifah menggantikan kepemimpinan Rasulullah. Karena temanku tidak bisa menjawab, beliau akhirnya menanyakan kepada yang lain, apa ada yang bisa menjawab. Aku dan teman-temanku yang lain diam saja, entah karena bosan ataupun mengantuk.
Saat beliau ingin menjelaskan, salah seorang diantara kami mengangkat tangan, "Saya akan mencoba untuk menjawabnya pak."
Aku yang sedang iseng mencoret-coret buku catatanku langsung melihat asal suara itu. Aya, teman sekelasku, satu diantara sedikit wanita yang masuk jurusan Teknik Informatika, mengacungkan tangan dan berdiri.
Kemudian Aya menjelaskan tentang proses transisi kepemimpinan waktu itu, mulai dari wafatnya Rasulullah, terjadinya keributan sesama muslim karena perdebatan dalam menentukan siapa pengganti selanjutnya, hingga terpilihnya Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai penerus tonggak kepemimpinan umat Islam sepeninggal Rasulullah.
Temanku yang selalu datang pada mata kuliah Studi Islam mungkin tidak heran akan cara Aya menjelaskan, karena memang dalam beberapa pertemuan sebelumnya, terkadang ia ikut membantu menjelaskan materi yang kurang dipahami. Tapi bagiku yang baru kali ini melihat cara Aya menjelaskan sesuatu, sangat menarik untuk disimak.
Kulihat sekilas Profesor juga tersenyum sambil menyimak penjelasan Aya yang cukup panjang. Dan begitu Aya selesai berbicara, Profesor menambahkan beberapa hal yang belum dijelaskan Aya, mulai dari keributan antara pendukung Abu Bakar Ash-Shiddiq dan pendukung Ali bin Abi Thalib hingga Abu Bakar yang awalnya menolak untuk dicalonkan kemudian bersedia menerimanya. Akupun kagum mendengar penjelasan beliau yang sangat detail, hingga seakan-akan kita berada di zaman itu dan menyaksikan semuanya. Memang tidak percuma gelar Profesor yang disandangnya, pikirku.
Mulai dari situlah aku tertarik untuk mengikuti mata kuliah Studi Islam. Waktu pergantian semester aku takut tidak diajar lagi oleh Profesor Hisyam pada mata kuliah Studi Islam 2, tapi Alhamdulillah aku berkesempatan lagi mengikuti mata kuliahnya.
Di Studi Islam 2, aku sekelompok dengan Aya. Diluar jam kuliah, kamipun banyak berdiskusi mengenai tugas makalah kami berikutnya yaitu tentang karakteristik dari masing masing sumber ajaran Islam. Sebenarnya kalau disebut berdiskusi pun tidak dianggap begitu, karena aku lebih banyak mendengarkan Aya dalam menjelaskan sesuatu. Pengetahuannya akan Islam memang cukup luas, hingga aku pernah iseng bertanya padanya, "Ay, kamu lulusan pesantren ya?"
"Kamu tahu darimana, kok bisa mengambil kesimpulan kalau aku lulusan pesantren?"
"Soalnya kamu tahu banyak tentang Islam, biasanya kan yang begitu itu lulusan pesantren, benar nggak?", kataku sambil tersenyum, tebakanku benar.
"Salah, aku lulusan SMA biasa kok." Jawabnya sambil tersenyum.
Aku langsung bengong. Aya langsung menahan tawa sambil menutup mulutnya.
"Aku serius, memang aku lulusan SMA, tapi aku suka belajar mengenai hal yang belum aku tahu, makanya aku bisa ngerti." Jelasnya setelah ia berhasil menahan tawanya.

Titik dan Garis - Kumpulan CeritaStories to obsess over. Discover now