Impian Rifa, Bagas, dan Penulis By Hafgacitrakay

115 14 3
                                        


Telapak kaki hadap langit. Kepala hadap depan. Badan hadap bumi. Kaki terus berputar. Siku bertumpu di lantai. Telapak tangan genggam buku cerita. Hey! Ini penjabaran yang terlalu panjang. Singkatnya, Rifa dalam keadaan badan tengkurap sambil baca buku.

Paham, kan?

Yah, dan musik masih berdentang. Lagu-lagu jaman sekarang, yang bisa bikin kepala guncang-guncang. Para DJ jadi semakin kaya, karena para remaja mengidolakannya. Lagu lagi syantik, Aisah Jamilah, pilih mamah muda, dan lagu hip-hop lain. Semua serba jedug-jedug.

Kamar tingkat dua yang menghadap jalan, namun kedap suara. Ini sangat menguntungkan bagi Rifa yang memang hobi menyalakan musik dengan volume keras.

Anehnya, ia tak suka keramaian, ia tak suka diganggu, tapi ia suka dengan musik kencang. Musik kan juga keramaian?

Bagi Rifa berinteraksi dengan orang lain itu menyebalkan jika orang yang kita ajak bicara responnya tak sesuai dengan kehendak hati kita. Bahkan dengan keluarganya, Rifa bicara seperlunya. Tertawa sekedarnya. Namun ia juga tetap sayang keluarganya.

Jadi keramaian yang dibicarakan tadi maksudnya adalah Rifa tak terlalu suka diajak bicara, tapi ia tidak terganggu oleh musik atau suara gaduh. Ya, kurang lebih begitulah tabiat Rifa.

Brak!

"Astaghfirullah!" teriak Luna—adik Rifa—yang baru membuka pintu kamar kakaknya dan mendapati telinganya hampir jebol, jantungnya hampir copot. Ia juga spontan membanting pintu kamar kakaknya.

"Apa sih, dek. Banting-banting pintu."

"Maaf, Luna reflek banting karena kaget."

"Kenapa gak ketok pintu dulu?"

"Udah ketok sampe tanganku memar, nihhh nihhh... kakak aja yang gak denger."

"Iya, maaf. Kenapa?"

"Liburan bulan depan jalan ke Malang yuk," ajak Luna antusias.

"Sama mama, sama papa?"

"Enggak. Sama temen-temenku aja."

"Kalo udah sama temen kamu kenapa mesti ngajak kakak?"

"Biar ... biar diizinin, hehe." Luna cengengesan.

Rifa berdecak. "Ya udah keluar sana. Aku mau tidur."

Luna tertawa girang. "Sip, kak."

***

Gelombang suara pemberitahuan keberangkatan masuk ke telinga Rifa. Diproses oleh saraf dan dikirim ke otak. Otak memberi perintah untuk berdiri dan menyiapkan barang.

Kereta muncul dari arah barat, dan berhenti tepat di hadapan stasiun. Semua masuk dan duduk di kursinya masing-masing.

Luna membawa tiga temannya—Sarah, Nivia, dan Helen. Dan seperti yang ia bilang kemarin, ia membawa kakaknya—Rifa.

Kebetulan, nomor tempat duduk mereka berhadapan. Satu kursi lebar yang bertuliskan untuk tiga orang dan satu kursi yang lebih sempit untuk dua orang. Luna duduk dengan Rifa, dan tiga temannya duduk dalam satu kursi yang sama.

"Huh, akhirnya kita liburan!" seru Luna sambil mengayun-ayunkan kakinya.

"Iya nih, akhirnya," kata Sarah.

Dan ya, keempat sekawan itu terus asik bercanda ria meninggalkan Rifa yang kini terlelap karena semalam begadang baca novel.

***

Setelah dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di Malang Kota Baru. Mereka melangkahkan kaki keluar stasiun ke pinggir jalan raya untuk memberhentikan bus. Kebetulan sekali, bus lewat saat mereka baru mencapai pinggir jalan raya, jadi mereka langsung naik dan tak perlu menunggu lama.

ALL ABOUT DREAMSWhere stories live. Discover now