Prolog

41 3 0
                                        

Jika manusia dilahirkan untuk merasakan kebahagiaan,mengapa aku dilahirkan untuk merasakan kehancuran ?

Mungkin bingung,kalo ditanya kaya gitu,tapi sekali lagi,ini hidup,kamu ga bisa nentuin apa yang pengen kamu alami ataupun yang engga,susah senang,jalanin,kamu merasa dirimu paling sial di sini?lalu siapa yang paling senang?

"Menatap dandelion kadang-kadang membuat kita merasa tenang"Ujar lelaki itu sembari memetik beberapa dandelion lalu meniupnya pelan.

"Aku pastikan kamu lagi sedih ya,makanya butuh penenangan dan kesini"dia berucap lagi,aku cuma menatapnya sebentar sebelum pandanganku kembali memandang sebuah rumah rumah kayu khas berjejeran di bawah bukit.

"Maaf ya aku ganggu,aku cuma mastiin aja kalau kamu bener-bener manusia,hehe"dia terkekeh

Sial,maksudnya aku hantu gitu?

"Soalnya jarang ada perempuan sendiri disini apalagi dikit lagi matahari mulai terbenam"dia berucap terus-terusan,mengapa dia tidak pergi saja sih?dasar pengganggu.

"Namaku Hikhmal,aku pergi dulu ya ,sekali lagi maaf mengganggu"

Dia beranjak pergi,aku tidak mengalihkan pandanganku ketika dia masih jalan beberapa meter.

Dan ketika ia nyaris hilang,aku baru menengok,untuk apa dia memberi tahu namanya?toh aku tidak peduli.

Aku mengedikan bahuku,lalu berdiri dan pulang,hari sudah hampir malam,aku beranjak dan balik kevilla kayu jati milik nenekku.

Sekarang,aku sedang melihat polaroid hasil cetakan dari kameraku,bagus,aku tidak pernah bosan untuk memotret satu atau dua foto dandelion.

Lalu polaroid itu aku tempelkan di dinding kamar yang separuhnya hampir penuh dengan foto.

Bagiku itu menyenangkan.

Namaku,Intan Shanina,panggil aja Shanin,keturunan jawa dan manado dengan tinggi semampai,rambut hitam pekat dengan kulit khas pribumi.

aku tidak pernah percaya pada laki-laki,sampai sekarang,semenjak ayahku yang dulu sangat aku hormati itu beraninya berselingkuh dan lebih memilih wanita jalang itu,dan yang lebih parah,waktu itu,ketika ibuku tahu semuanya,perempuan itu sedang mengandung anak ayahku,benar-benar wanita tidak berharga diri bukan?

Bagiku ucapan lelaki hanya dusta atau kebohongan belaka,hanya ingin menggoda demi kepuasannya semata,tidak ada ketulusan di dalam hatinya.

Memang kenyataannya seperti itu.

Masih ingat juga ketika pada malam harinya aku melihat ibuku dengan wajah kusutnya dan tubuh yang makin hari makin terlihat kering.

Tatapan matanya kosong,ketika keluargaku memanggil seorang psikolog dan psikolog itu mengatakan bahwa ibuku depresi berat sehingga tidak bisa menjalankan otaknya dan beberapa anggota tubuhnya.

Peristiwa itu sudah dua tahun berlalu,tetapi kesakitan tetap sama,ibuku tetap sama,ia lebih terlihat seperti mayat hidup yang setiap hari kerjaannya memandang jendela kamar,berharap cintanya pulang.

Sebelum pergi ke ladang dandelion,biasanya aku akan menyandarkan kepalaku di pangkuan ibuku yang sedang duduk di kursi roda.

" aku tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama,mama"

"Sadarlah lagi,jangan selalu menunggu si'bajingan' itu pulang"

"Dia tidak akan pulang"

"Dia tidak punya hati"

"Mah,bangkitlah,kita tunjukan bahwa kita bisa mencari mebahagiaan tanpa ada seorang ' lelaki ' !"

Aku berucap terus menerus,seperti biasa ibuku akan menangis secara diam-diam,mukanya tua sebelum waktunya terlihat saking banyaknya beban yang ia tanggung.






HIKMALStories to obsess over. Discover now