-Last Scene-
Cast : Park Chanyeol, Via Kim (OC), and etc. || General || AU, Romance || Oneshoot || Author @Rissa_Noviany (sweek)
.
Happy reading and krisar please ;-)
***
Semilir angin menerpa seraut wajah seorang pemuda tampan di atas mean di bibir pantai. Netranya yang terpejam menandakan dirinya tengah menikmati aroma khas air asin yang terbentang luas. Tangan keduanya menangkring di antara saku.
Chanyeol bergeming ketika sepasang tangan melingkar di perutnya. Sang empu mengetahui siapa gerangan seseorang yang nekat memeluknya dari belakang saat ini.
"Oppa ...," ujarnya lembut. Raut wajah Chanyeol masih datar dari sebelumnya, "... besok kita sudah akan pulang. Apa Oppa akan terus begini?"
"Vi ...." Chanyeol menatap sendu seorang gadis di hadapannya sekarang. "Harus seberapa lama aku lagi aku harus menunggu Oppa?" Via, gadis itu menangis sesenggukan.
Bahunya terguncang menahan tangis sedari tadi. Ia sudah bosan tersenyum dipaksa. Ia sudah bosan berkata baik-baik saja. Ia sudah bosan mencoba mengerti. Ia ... Bahkan ia sudah bosan berharap Chanyeol bisa menerimanya. Via ingin Chanyeol sadar, bahwa ....
"Maafkan aku, Vi." Gadis berambut sebahu itu direngkuh dan melepas tangis dalam dekapan Chanyeol. Biasanya Via bukan sosok gadis yang lemah, rapuh dan payah seperti saat ini. Ia lebih suka memendam rasa kecewanya terhadap Chanyeol yang masih enggan membuang jauh-jauh perasan cinta tak terbalasnya pada mantan kekasih.
Lebih dari 10 menit keduanya larut dalam susana laut yang lengang. Chanyeol pun masih betah mengelus surai hitam Via, hingga ia merasa benar-benar tenang.
***
"Pakai ini. Jangan makan ingusmu," tutur Chanyeol bercanda sembari mengulurkan sehelai tisu. Via menerimanya hanya berdecak sinis. Candaan Chanyeol begitu receh. Mengiyuhkan.
"Aku serius tadi. Maafkan aku ..." Tatapannya lurus memandang laut lepas yang tembus dari kaca mobilnya. Via menoleh ke arah Chanyeol. Ia ingin melihat ekspresi apa yang dipakai ketika berucap kalimat beberapa detik lalu itu. "... dan aku akan mencoba ..." Kini beralih tatap pada Via. "... mencintaimu." Kedua netra Via yang masih terlihat sedikit memerah berkedip berkali-kali.
Bahkan ketika Chanyeol menggenggam satu tangannya, tubuhnya kaku. Hanya menatap Chanyeol dengan bola mata siap terjatuh kapan saja.
"Bantu aku, Vi. Aku tahu kamu sudah hampir menyerah kepadaku. Kamu boleh berhenti saat ini juga. Karena aku yang akan datang padamu. Jadi, izinkan aku ... Melakukannya." Chanyeol begitu jahat. Bahkan pipi Via masih basah sebab tangisan beberapa jam yang lalu, kini ia makin membuat pipinya banjir air mata.
Tangan Chanyeol terulur menghapus dengan ibu jarinya. Mengusapnya berkali-kali. Hingga tangan satunya ikut bertengger di sisi lain. Mengangkat wajah Via agar keduanya saling berpandangan. Jelagat sepekat malam milik Chanyeol seakan mengode meminta jawaban. Via tahu, bahwa yang harus ia lakukan ialah mengangguk, menyetujui.
Entah sejak kapan kedua tangan Via telah berpundak di bahu Chanyeol. Saling beradu tatap dengan Via yang tengah menenangkan dirinya. Jantungnya hampir saja copot dari tempatnya, sebab perkataan Chanyeol yang begitu membuat perutnya menggelitik bahagia.
Dalam hati Chanyeol rasa ia telah jatuh cinta pada suara isak tangis Via. Bahkan tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya hendak mendarat pada suatu tempat. Via bingung akan apa yang harus ia lakukan. Intuisinya mengatakan bahwa ia harus menutup netranya, menunggu apa yang akan Chanyeol lakukan.
Hingga suara ketukan kaca mobil menghentikan segalanya. Keduanya berdecak kesal pada seseorang yang telah sangat menggangu. Dengan reaksi sebal Chanyeol menatap ke arah luar. Ia memandang tak percaya seorang gadis berdaster hijau polos beraut datar, yang alhasil mendorongnya keluar mobil.
Cut!
"Padahal adegannya sedikit lagi selesai. Kenapa tiba-tiba Ahjumma itu mengacaukanya?" Seorang yang diyakini sutradara itu memegang toa di tangannya frustrasi. Ia hampir saja gila sebab adegan akhir bakal jadi filmnya harus terganggu dan terulang kembali. Bahkan ini sudah yang take kesepuluh.
"Aku 'kan sudah bilang, kamu duduk aja di sana sebentar. Padahal tadi scene terakhir," ujar Chanyeol mengusap pipi seseorang yang dipanggil Ahjumma tadi.
"Chanyeol-ah. Lebih baik, untuk seterusnya kau tak usah membawa istrimu syuting! Merepotkan saja," ujar asisten sutradara bernada tak suka.
Seketika Chanyeol mengamati ekspresi bersalah istrinya. Ia geram. Terdengar, para staf yang lain membisikkan kalimat tak mengenakan hingga membuat sang istri menunduk menahan tangis.
"Kalian semua berhenti menyalahkan istriku! Apa yang kalian lakukan, hah? Berbisik-bisik tak jelas. Apa kalian tak melihat? Istriku sedang hamil! Kalian seharusnya memaklumi hal tersebut. Dasar hewan tak berperikemanusiaan. Ayo, Rissa Sayang, kita pulang!"
"Ah, kamdongnim! Syutingnya kita lanjut lagi sampai Istriku melahirkan yah. Bye!"
...
-TAMAT-
Apa kalian syuka? Gimana ceritanya? Absurd 'kan? Heheheu. So, kalian harus mau tak mau beri krisar. WAJIB. Jangan komen NEXT karena ceritanya sudah TAMAT! Thanks all :*
YOU ARE READING
Last Scene [Oneshoot]
Fanfiction"Bantu aku, Vi. Aku tahu kamu sudah hampir menyerah kepadaku. Kamu boleh berhenti saat ini juga. Karena aku yang akan datang padamu. Jadi, izinkan aku ... Melakukannya." Chanyeol begitu jahat. Bahkan pipi Via masih basah sebab tangisan beberapa jam...
![Last Scene [Oneshoot]](https://img.wattpad.com/cover/153568869-64-k335569.jpg)