Suara percikan api yang tak kunjung henti disertai desiran angin malam yang begitu membuai. Jika saja tak ada bangunan yang hancur di sana-sini, mungkin hanya mirip seperti api unggun perkemahan. Tapi kejahatan yang melahap malam, telah mengubah desa ini menjadi ladang mayat penuh kengerian. Puluhan, atau bahkan ratusan jasad yang telah menghitam bergeletakan begitu saja. Sungguh pemandangan yang begitu tak manusiawi di mata para penyihir itu.
Hanya ada satu orang yang berdiri mematung di depan barisan para penyihir itu. Ia berdiri di atas bangunan tua yang telah menghitam karena noda asap. Jubah hitamnya dipenuhi oleh bercak merah darah yang membekas. Wajahnya tak nampak oleh satupun dari sekian banyak penyihir yang berada di depannya. Walau mereka juga tidak butuh identitas dari orang berjubah itu, karena bagi mereka yang terpenting adalah, bunuh orang itu!
"Keparat! Kau harus membayar semua ini!" Satu dari empat belas penyihir berkata dengan penuh murka. Disusul juga dengan amarah dari jajaran penyihir di sampingnya, mereka mulai menyerang orang berjubah itu.
Orang berjubah itu masih saja berdiri di atas bangunan itu seakan tidak gentar oleh serbuan empat belas penyihir itu. Saat mereka mulai melompat dan menyerbu dari segala arah, orang itu mengucapkan sebuah kata. "Maaf."
Sebuah kata yang seharusnya tak keluar pada saat seperti itu. Karena dengan beribu kata maaf sekalipun, mereka tak akan menghentikan tekad untuk membunuhnya.
Lalu orang berjubah itupun melompat setinggi yang tak dapat diraih oleh para penyihir itu. Mengangkat tangan ke langit dimana sudah ada pedang panjang yang ia genggam. Pantulan warna api di pedang itu memberikan sinar emas yang eksotis sekaligus menyeramkan. Tubuhnya tak akan selamanya berada di atas, ia pun mulai turun, mendekati para penyihir itu dan memulai pertarungan yang mengantarkan mereka pada kematian.
Tragedi yang masih sukar dipercayai. Hanya seorang diri, dan hanya dalam satu malam, orang berjubah itu membantai semua penyihir yang ada di desa itu tanpa ada belas kasih. Yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, jasad menghitam, darah mengering, asap yang tak berapi dan atmosfir sihir yang mencekam. Malam itupun mulai disebut-sebut sebagai malam malapetaka.
Dua minggu seusai kejadian itu, dunia mulai kehilangan kepercayaannya untuk hidup berdampingan dengan para penyihir. Manusia biasa pun terus menganggap bahwa kehadiran penyihir hanya akan terus membawa ketakutan akan kekuatan magis yang begitu mematikan. Sama halnya seperti malam malapetaka, mereka tak ingin hal itu terulang kembali. Hingga pada akhirnya, penguasa mulai mengikis keberadaan penyihir dari peradaban dunia.
***
ESTÁS LEYENDO
ATRAMENTOUS : The Black Pearl
FantasíaTerkadang orang yang kita sayangi dapat lenyap begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Begitu juga yang dirasakan oleh Lucas di kenangan tergelapnya. Kenangan tentang malapetaka di malam terburuk dalam sejarah dunia monokrom. Tetapi di masa...
