8 ᴊᴀɴᴜᴀʀʏ
15:30
Suatu sore, kita bertemu di taman surga. Di balik dedaunan, di bawah pohon yang menjulang tinggi. Aku menatapmu, kagum. Kamu menatapku, malu-malu. Perlahan aku menghampirimu, semakin dekat, lebih dekat, sangat dekat hingga wajahku tepat di wajahmu. Sontak, ada gemuruh di dadaku, rasa getar sekaligus menggetirkan.
"maukah kamu menikah denganku Ppany-ah?" bisikku.
*
Kita menjalani hari-hari dengan bahagia, sangat bahagia. Aliran sungai yang mengaliri seluruh lekuh yang ada di surga, seakan paham bagaimana cara memanjakan mata.
Kita duduk di bangku panjang, di sebelah kanan kita tumbuh bunga rimbun. Daunnya yang menguning turun bagaikan musim gugur yang ada di Jepang, tempat manusia robot tinggal di bumi.
Tentu suasana di sini lebih indah dari yang ada di Jepang. Ini surga, tempat terindah bahkan jauh lebih indah dari tempat yang ada dalam khayalan sekalipun.
*
Kamu menatapku, aku juga menatapmu. Posisi yang duduk berdampingan membuatku sangat merasa nyaman. Nyaman merasakan sandaran kepalamu pada bahuku. Nyaman membelai rambutmu yang coklat dan lurus.
Tanganku melingkar di bahumu. Sesekali jemariku menari membelai rambutmu. Mata kita menatap ke lekuh yang ada di hadapan kita. Sungai yang mengalir dari mata-mata air kecil itu terlihat sangat indah, berkilau. Kita memberi nama untuk semua yang kita temui di sini. Di surga, Tuhan memang telah memberi kebebasan pada kita. Kita bebas memberi nama tumbuhan, bunga-bunga, pohon, bahkan nama sungai sekalipun. Sesuka kita.
Kamu suka dengan malaikat.
"malaikat itu, baik" katamu.
Sungai yang mengalir di hadapan itu, salah satunya kamu beri nama sungai Hwang.
"aku ingin menjadi seperti sungai, sesulit apapun rintangan yang ia hadapi, ia akan tetap mengalir, mengaliri jalan menuju muara" ucap Tiffany.
"waeyo?" tanyaku.
"aku ingin seperti itu saja, jika nanti kita terpisah, aku akan menemanimu, sesulit dan sesakit apapun. Karena aku percaya, kamu adalah muara dari segala rasaku. Aku mencintaimu, sepenuhnya" jawabmu.
Aku mengecup keningmu, matamu memejam. Selain indah, surga adalah tempat paling romantis. Menara Eiffel belum ada apa-apanya. Udaranya, pemandangannya, suasananya, semuanya selalu bisa menjadikan kita merasakan kagum.
"aku mencintaimu, seutuhnya" jawabku mengakhiri kecupan lembut bibirku di keningmu.
Kamu menatapku, matamu menenangkan menembus batas yang ada di mataku. Setelah kecupan, selalu ada yang ingin kamu sampaikan. Namun, tak pernah bisa kamu ucapkan. Seperti ada yang tertahan di bibirmu. Aku mengerti, aku mengecup lagi keningmu. Sekali lagi, dengan lembut, dengan manja, dengan cinta.
Tak ada yang mengganggu kita. Bahkan, Tuhan pun tak mau mengusik kita. Tuhan memang Maha baik, dan Maha mengerti. Baik, memberi kita waktu untuk menikmati surgaNya. Mengerti, jika kita adalah makhlukNya yang saling mencintai. Memenuhi, dan saling melengkapi. Utuh.
Kita kembali menatap ke depan, ke atas lekuh yang dihiasi lukisan langit. Itu memang langit. Langit yang lebih indah dari lukisan alam apapun. Biru, putih salju, jingga, ungu muda, warna yang tak mampu kuhitung. Bahkan, ada warna yang tak akan pernah kita temui di bumi, mengagumkan.
Kamu memang menyukai dengan warna, apalagi warna pelangi.
"pelangi itu seperti keluarga, ada kumpulan warna yang membentuk garis-garis indah. Aku menyukainya, aku ingin nanti kita punya rumah seperti pelangi. Rumah yang penuh warna. Rumah yang dihiasi warna-warni dari cinta, dari kasihmu, dari sayangmu, dan dari malaikat-malaikat kecil penghuni rumah kita. Anak-anak kita, kelak" ceritamu antusias dengan senyum yang selalu ku rindukan.
"aku juga ingin" jawabku dengan tersenyum.
Sesaat suasana menjadi hening, beberapa menit menjelang senja. Alunan suara biola yang mendayu-dayu, mengiringi perjalanan sore masuk ke gerbang senja. Entah siapa yang memainkan dawai biola itu, mungkin malaikat pemain musik. Malaikat yang diciptakan Tuhan untuk menenangkan otak manusia yang lelah dan jengah dengan kehidupannya. Malaikat yang mengatur semua suara yang ada termasuk suaraku dan suaramu. Tuhan begitu Maha sempurna, selalu menempatkan apapun pada tempat yang seharusnya.
Kita terlena, kamu tertidur di bahuku, begitupun aku. Mataku tak bisa ditahan lagi, entah kenapa ada air mata yang memuncak di pelopak hitamku. Entah karena apa, yang aku tahu aku hanya mengeluarkan air mata saat aku tak dapat lagi mengatakan apa yang ingin kukatakan.
Kamu terlelap di bahaku, sepertinya kamu lelah.
Musik biola sang malaikat itu membuatku ikut terlelap. Surga dengan segala keindahannya, surga dengan segala rahasinya dan semua yang tak pernah terpikirkan oleh manusia, ada di sini.
Tuhan, selalu punya rahasia yang tak terjangkau oleh manusia manapun, bahkan malaikat pun tak mampu.
*
Air mataku mengering.
"bangun, Tae" suara eomma yang terdengar parau itu membangunkanku.
Aku sontak bangkit dengan rasa kaget yang masih merasuki kepalaku sehabis tidur. Kulihat mata eommaku bengkak.
Besok kita akan menikah, seharusnya. Di rumah ini, rumah yang kubeli seminggu yang lalu sebagai kado pernikahan kita.
"sabar ya, nak. Ini adalah rencana Tuhan, semoga kalian dipertemukan lagi nanti, di surga" ucap eomma memelukku dengan tangis kami yang kembali pecah.
END
