gingsul

14.9K 611 48
                                        

"Hahaha."

Suara tawa dua orang gadis yang ikut membaur dengan kebisingan warung makan Ayam Geprek malam ini. Tak lagi tampak wajah lelah keduanya setelah kegiatan Theater yang rutin mereka lakukan. Hanya pancaran kebahagiaan menghiasi dua wajah cantik bak bidadari ini.

Gracia segera mengambil gelasnya dan menghabiskan sisa air minumnya. Tenggorokannya lumayan seret karena sedari tadi tak hentinya tertawa dengan celotehan absurd seorang Shani.

Merasa minumnya kurang, Gracia menolehkan kepalanya, berniat untuk memesan air minum lagi.

"Minum punya aku aja. Kamu lagi seret atau kehausan, sih?" tanya Shani, seraya menggeserkan minumnya yang masih lumayan penuh ke hadapan Gracia.

"Hehehe, tadi seret trus kehausan," cengir Gracia menerima minuman Shani. Kali ini dia minum dengan lebih santai. Seperti menikmati rasa dari gelas gadis di depannya itu.

Padahal sudah sering berbagi minum, bahkan makanan pun. Tapi tetap saja, ia merasa ada yang salah dengan detak jantungnya. Apalagi dengan tatapan yang diberikan gadis yang lebih tua darinya itu. Entah kenapa dia merasa, malam ini pandangan Shani seolah tak lepas darinya. Bahkan dari sejak mereka sampai di Theater tadi siang.

Gracia menurunkan gelas minuman dan balik menatap Shani bingung.

"Kamu kenapa dari tadi ngeliatin aku terus? Ada yang salah sama wajah aku?" tanya Gracia. Merasa jika ada yang aneh pada wajahnya, Gracia mencoba mengambil cermin dari dalam tasnya.

"Gak, kok," Shani lebih dulu menggenggam tangan Gracia sebelun ia sempat menjangkau tasnya. "Gak ada yang salah sama wajah kamu."

Gracia semakin menunjukkan wajah bingung, yang malah terlihat semakin lucu. Membuat Shani gemas ingin mencubit pipi gembul sahabatnya itu.

"Aku merhatiin gigi kamu. Kalau aja aku gak tau kamu itu punya gingsul, aku pasti bakal ngira gigi kamu ompong."

Gracia mengerjapkan mata beberapa kali.

"Aaw-aw-aw-aw Gre! Sakit!"

Gracia mendengus kesal setelah memberikan cubitan di lengan Shani. Otomatis melepaskan tangan Shani yang sedari tadi menggenggam tangannya.

"Ssshhh sakit, Gre. Duh, ampe merah gini. Pasti bentar lagi biru-biru nih lengan aku," keluh Shani, mengusap-usap bekas cubitan Gracia.

"Biarin! Kamu ya,  tega banget bilang aku ompong. Emang kamu kira aku udah nenek-nenek apa, giginya ompong," cemberut Gracia.

Melihat raut lucu itu lagi, rasa sakit di lengannya seolah sembuh begitu saja. Tangannya kembali menggapai tangan sebelah gadis di depannya yang menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Kan aku bilang kalau, tapi kamu gak ompong, 'kan? Lihat sini dong, Gre," panggil Shani lembut, karena Gracia mengalihkan wajahnya dari Shani.

Gracia merasakan tangan Shani yang menggenggam lembut tangannya. Lagi, jantungnya tiba-tiba saja berdetak aneh. 'Ni jantung kenapa, sih!'

"Gre."

"Iya, apa?"

"Idih, ketus amat, sih mbak. Lagi ada tamu ya?" goda Shani, mencolek dagu Gracia.

"Iiihh kamu apa-apaan, sih!" merasa jengah, tapi detak jantungnya malah semakin berulah.

"Kamu tau gak, kenapa orang Jepang malah bangga dengan gingsul mereka, sementara orang Korea dan bahkan mungkin hampir semua orang di dunia ini menginginkan gigi yang rapi?"

Gracia terdiam mendengar perkataan Shani. Tak mau memberi respon, karena masih kesal.

Shani hanya memamerkan senyumnya karena didiamkan.

CapacityStories to obsess over. Discover now