Jam di atas pintu masuk kafe menunjukkan pukul 2 siang. Berbeda dengan cuaca di luar yang mendung, seakan sudah jam 5 sore. Langit gelap tapi tak kunjung mengizinkan titik-titik hujan keluar dari tempat persembunyiannya. Seakan menahan sesuatu, sebuah rahasia besar, sebuah pesan penting yang harus tersampaikan pada saat yang tepat.
Maka aku duduk di meja dekat pintu kafe itu. Kaca-kaca di sekelilingnya tak mengizinkanku merasa bosan. Orang-orang berlalu lalang di luar seakan jadi film bisu. Aku larut dalam pemandangan itu hingga dia datang.
Ya, kamu sudah datang.
Kamu seorang laki-laki kurus dengan rambut hitam yang menantang langit. Kulitmu sawo matang dengan sisa-sisa jerawat di wajah yang selalu memancarkan sinar tenang dan damai. Mata bulatmu dihiasi bulu mata lentik serupa jerapah dan alis tipis yang disebutkan sebagai nanggal sepisan oleh orang-orang Jawa. Hidungmu tak begitu mancung tapi menjadi pelengkap yang pas untuk bibir tipis kemerahan, barisan geligi kecil berwarna putih, dan dagu yang sedikit terbelah. Wajah yang enak dipandang.
Kamu melangkah santai-santai saja. Seragam putih berbahan drill yang agak mengkilat dibungkus jaket jeans warna hijau army. Tas Planet Ocean hitam dan sepatu Pantofel hitam menyempurnakan kombinasi formal-casual siang itu. Kamu menemukanku yang belum lepas dari hadirmu dan tersenyum. Tanganmu melambai riang sebelum membuka pintu masuk.
"Sudah lama, ya?" kamu meletakkan tas dan duduk di hadapanku.
Aku menggeleng. "Maaf, ya, kamu pasti sibuk."
"Ngga juga. Shift di klinik udah selesai." Kamu membuka-buka menu dan memperhatikan setiap makanan dan minuman yang ada. "Udah pesan?"
"Udah, tapi belum diantar."
Kedua alismu terangkat saat kamu kembali membolak-balik setiap halaman bergambar makanan Jepang, Korea, dan Amerika.
Aku Yasmin dan kamu Albert, pacarku. Kita berpacaran sejak kelas 2 SMA, sekitar tahun 2010. Sekarang sudah 2018. Lama, ya? Ya, orang selalu bilang begini,
"Kamu, kok, awet banget sama dia?"
"Itu pacar apa ikan asin, sih? Tahan lama bener,"
Kita berdua tak pernah menjawab. Kamu selalu tertawa lepas setiap mendengar pertanyaan itu. Sementara aku lebih sering tersipu malu. Aku sendiri tak menyangka akan melangkah sejauh ini bersamamu. Melewati hari-hari berseragam putih abu-abu, jas almamater, hingga foto bersama dengan toga hitam dan topi bertali kuning.
Aku tak pernah menyangka.
Buku menu menghalangi setengah wajahmu, tapi aku masih bisa menemukan mata hitam yang berbinar-binar membaca setiap makanan yang tertulis di sana. Alismu sesekali naik turun, mempertimbangkan apa yang akan kamu pesan. Tidak ada yang berubah di sana.
Tak sampai lama, seorang pelayan mendatangi kami dengan sebuah nampan. Segelas strawberry float ada di sana. Kamu menyebutkan makanan dan minuman yang dipesan sembari menyerahkan buku menu. Pelayan itu mengangguk-angguk. Dia berbalik, kembali meninggalkan kami berdua. Kamu mengeluarkan smartphone, memeriksa pesan-pesan yang belum terbaca. Aku memilin-milin ujung jilbabku, belum memutuskan apa yang harus kukatakan.
"Yas," kamu meletakkan smartphone di atas meja. "Kamu... apa kabar?"
"Baik. Albert apa kabar? Klinik ramai terus, ya?" jawabku.
Kamu mengangguk. "Lama, ya, ngga ke sini? Biasanya kita mampir di sini setiap Sabtu sore."
Aku coba memahami alur pembicaraanmu. "Ya, udah lama. Sejak hari itu..."
"Benar. Sejak hari itu..." kamu mendesah. "Kamu sudah menemukan jawabannya?"
Giliran aku menarik nafas dalam-dalam. Kepalaku sedikit mendongak, mencegah gumpalan air yang mulai terbentuk itu tumpah. "Sudah, Al... aku... minta maaf...."
Kamu meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Minta maaf untuk..."
"Untuk 8 tahun kemarin... Untuk setiap hari yang kita lewati selama itu... untuk semuanya..." aku mulai terisak. Pelan. Genggamanmu semakin erat.
"Aku juga minta maaf, Yas," kamu bertutur pelan. "Aku tidak akan mudah melupakannya. Hari-hari bersamamu. Hari-hari yang indah, menyenangkan. Tapi...salahku pasti banyak ke kamu."
"Al, maaf, aku... aku pikir....kayaknya, bakalan susah kalau kita masih... bersama."
"Aku tahu, Yas. Aku selalu tahu. Sejak awal bersamamu, aku tahu hari ini pasti akan datang," katamu dengan suara bergetar. "Tapi, aku tidak akan merasa seberuntung ini kalau 8 tahun lalu aku tidak memutuskan untuk bersamamu."
Aku tak tahan lagi. Gumpalan air itu tumpah seperti air bah. Kubenamkan kepala di meja. Berusaha memelankan isak dan nafas yang tersengal-sengal. Aku tak tahu bagaimana ekspresimu. Namun kurasakan tangan kurus itu menggenggamku erat sementara tangan yang lain menepuk-nepuk kepalaku. Sesuatu yang selalu kamu lakukan setiap kali aku menangis, sejak 8 tahun yang lalu. Kali ini akan jadi kali terakhir. Mungkin untuk selamanya.
Seperti kamu, aku tahu hari ini, perpisahan ini adalah hal yang pasti. Namun hatiku tidak. Biarpun sudah dipersiapkan, perpisahan tetap saja menyakitkan.
Beberapa menit setelahnya, setelah tangisku mulai mereda, pelayan itu kembali dengan makanan-makanan di atas nampan. Dari mata yang masih basah, aku menemukanmu. Kamu masih duduk di hadapanku dengan senyum dan sinar mata yang hangat dan penuh cinta. Tak ada yang berkurang di sana.
YOU ARE READING
YOU
RomanceInilah caraku mengenangmu, menghidupkan kembali memori tentangmu, memutar kembali hari-hari bersamamu. Biar kelak aku tak bersamamu. Setidaknya, aku menyimpan sisa-sisa kenangan bersamamu.
