Stage One

21 8 1
                                        

Bau hujan masih tercium lembut di hidungku. Dengan riang aku langkahkan kaki ku menuju dia, Bulan. Bulan, sahabat masa kecil ku yang imut namun galak. Rumahnya hanya beda satu komplek denganku. Tidak terlalu jauh jadi aku hanya perlu berjalan dengan santai untuk sampai ke rumahnya.

"Assalamualaikum. Bulan, yuhuu~"

Tak lama kemudian pintu terbuka. Sosok wanita cantik berumur 40 tahun membuka pintu. "Waalaikumussalam. Eh, Bintang. Ayo masuk, Bulan ada tuh di kamarnya, langsung aja ke kamarnya."

"Hehe, iya makasih tante." Aku pun masuk ke kamar Bulan dan mengejutkannya.

"DAAA!" Namun lagi-lagi gagal.

"Apaan sih Bintang. Teriak-teriak gitu, sini duduk." Ucapnya santai sambil membaca novel horornya.

"Hehe, kok gak kaget sih? Udah capek tau aku tadi teriak-teriak."

"Gue udah tau lo dateng. Lo mau apa kesini?"

"Mau nanya." Bulan menatapku sambil mengangkat satu alisnya.

"Lo kesini cuman pengen nanya? Lu idup di zaman batu? Kalo lo pengen nanya doang, lewat line juga bisa." Aku meringis mendengar ocehannya itu.

"Iya, iya. Aku kesini bukan cuman pengen nanya kok. Aku kesini juga karena kangen ama sahabatku yang imut ini. Gitu aja kok marah sih." Jawabku sambil terkekeh pelan. Bulan menghembuskan napas kasar.

"Hm, jadi lo mau nanya apa."

"Bulan, nanti kalau misalnya aku pergi kamu bakal mencariku kan?"

"Nggak."

"Loh kenapa?"

"Karena saat lo pengen pergi gue bakal meluk lo erat biar lo gak bisa kemana-kemana." Hati ku benar-benar menghangat mendengat ucapannya itu. Aku lalu memeluknya.

"Kamu akan memelukku seperti ini?"

"Tidak, tapi seperti ini." Lalu dia memelukku balik dengan pelukan yang begitu erat dan hangat. Setelah itu kami tertawa bersama.

Begitulah persahabatan kami dulu. Iya dulu, saat takdir masih memihak persahabatan kami.

The Last DayWhere stories live. Discover now