Hai! Author up cerita baru nih sesuai janji Author kemaren sore.
Selamat membaca dan jangan lupa mampir ke work Dear Makmum , ya?
......
Nama ku Zahrana septiani Raidho. Panggil saja Ara. Aku seorang dokter bedah.
Seperti biasa setiap pagi aku akan berangkat ke rumah sakit sebagai seorang dokter. Hari ini aku ada operasi pagi sekali, mangkanya jam 6 pagi aku sudah berangkat dari rumah, ya rumah ku dan rumah sakit jaraknya lumayan jauh, kurang lebih 30 menit jika pakai motor.
Saat tiba di rumah sakit aku di kaget kan dengan seseorang yang aku jumpai di kursi tunggu depan kamar pasien yang harus aku tangani.
"Reza?" Kata ku ke pria yang notabenya sebagai calon adik ipar ku, ya walupun umurnya 2 tahun di atas aku. Eth jangan menduga tidak tidak ya, calon suami ku itu usianya 2 tahun di atas aku. Jadi usia calon suami ku itu 25 tahun. 100 buat yang nebak kalau calon suami ku kembar. Walaupun kembar aku bisa membedakan mana calon suami ku dan mana adik ipar ku.
"Em anu... em.. itu Kak. Eh."
"Anu apa Rez?"
"Dokter kita harus segera melakukan operasi. Pasien mengalami pendarahan" kata seorang suster mengejutkan ku.
"Dokter Raihan sudah di dalam?" Dokter Raihan adalah rekan ku. Dia biasa yang menemani ku melakukan operasi.
"Iya dok."
"Baik lah. Reza, aku ke dalam dulu ya?" Kata ku pamit. Yang hanya di balas Reza dengan ekspresi yang sulit aku artikan. Aku hanya mengangguk seraya bergegas ke dalam kamar operasi.
"Dokter Raihan, ba..." ucap ku terhenti ketika tau siapa pasien yang terbaring lemah di atas bed. Itu adalah Razali, calon suami ku.
"Dokter Zahra? Pasien ke kurang an banyak darah" ucap seorang suster.
Raihan? Ia tidak menggubris ku. Ia dengan telaten melakukan tugas nya.
Aku dan Raza, akan menikah 2 minggu lagi. Semua persiapan sudah di persiapkan, tapi lihat 'Dia', terbaring lemah bertaruh nyawa.
Tidak ada yang tau selain kerabat terdekat perihal acara walimah ku, karena aku ingin semuanya menjadi kejutan. Sedangkan Raihan, ia mengetahui semuanya karena Raihan adalah sepupu Raza sekaligus orang yang mempertemukan aku dan Mas Raza.
"Sudah Ra. Kau ingin membiarkan nya terus seperti ini?"
"Aku tidak sanggup Raihan" ucap ku lemah
"Terserah..." kata Raihan membiarkan terduduk di lantai. Ia melakukan semuanya tanpa memperdulikan ku.
Aku egois? Terserah. Aku memang tidak sanggup.
Siapa yang sanggup melihat orang yang di cintai terbaring lemah bertaruh nyawa, sendiri? Siapa yang tega menjahit tubuh orang yang ia cintai? Siapa yang rela melihat darah itu terus mengalir tanpa ingin berhenti? Siapa?
Aku hanya seorang manusia. Sekuat-kuatnya aku, pasti ada sisi kelemahan dalam diri ku. Aku tidak sanggup lakukan ini, tapi aku juga tidak sanggup melihat ia terus seperti ini.
Assalamualaikum
Jangan lupa vote dan comment ya, biar aku cepat lanjut in part berikutnya.
ESTÁS LEYENDO
Cinta Terikhlas
Espiritual"Apa, aku akan menikah dengan calon istri abang ku?" Ucapnya gusar lantaran mendengar permintaan dari ibu nya. . . . Silahkan baca selengkapnya di work ini ya.
