-Prolog-

29 4 5
                                        

Lagi, dan lagi. Lelaki itu menggenggam buku kuning kecil di tangannya tanpa berniat untuk membukanya. Menurutnya, membuka buku kuning kecil itu sama saja dengan membuka kenangan pahit yang sudah ia kubur dalam-dalam.

Bersama fajar yang kian menunjukkan dirinya. Bersama dinginnya bulan November yang menusuk tubuhnya. Bersama secangkir teh yang ia sesap dalam-dalam untuk menimbulkan secercah rasa hangat. Dan bersama kenangan yang selalu ia simpan rapi di dalam hatinya.

Wanita yang tak pernah ia temui sejak 6 tahun lalu. Sejak ia memilih untuk pergi dibandingkan meminta maaf kepadanya. Dan saat itu pula, hunusan-hunusan panah menjelang fajar setelah sholat Tahajjudnya, ia hunuskan satu persatu atas namanya.

Bukankah do'a adalah penyaluran rindu yang paling dalam?

Mereka bertahan dengan prinsip masing-masing. Namun, do'a yang sama. Yaitu, meminta dipertemukan kembali walau hanya untuk melihat langkah kakinya.

Hunusan panah mereka saling beradu ketika malam mulai mendekati fajarnya. Hunusan panah mereka mengatas namakan satu sama lain.

Lalu, ketika panah mereka berpapasan? Bisakah panah mereka saling menyatu? Bisakah mereka menghunuskan dua panah menjadi satu dalam waktu yang sama?

Lebih baik, lelaki itu kini berdiri, meninggalkan balkon kamarnya kemudian bersiap menghadap Ilahi. Lagi.

~~~

Jazakumulloh yang sudah baca😊

My first story, minta koreksi jika ada kesalahan😊

Hunusan Panah Menjelang FajarHistórias para pegar e não largar. Descubra agora