Suasana di sekitar terasa mencengkam, hutan rimba dengan jurang di sekitarnya terlihat gelap tanpa pencahayaan alam. Aniq kecil yang baru berumur 8 th mengamati tempat ia berdiri sekarang, terpancar dari sinar matanya rasa takut dan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba ia berada di tempat kelam ini. Suara-suara binatang liar menambah kesan horor hutan rimba. Aniq melangkahkan kakinya ragu, ada harap di hatinya untuk bisa keluar dari hutan rimba.
Saat tiba di pinggir jurang, Aniq melihat setitik cahaya di balik gunung, ia juga mendapati sebuah jembatan yang membentang ke seberang, ada bangunan besar di depannya. Ia yakin bangunan itu sebuah istana, seperti yang pernah ia lihat di flm-flm atau game. Game? Oh iya, ia baru ingat. Istana itu sungguh pernah ia lihat di dalam game yang sering ia mainkan di layar monitor warnet. Persis, mirip, tidak ada duanya, itu memang istana yang sama. Tapi, kenapa dia ada disini?
Belum sempat Aniq menerka jawaban dari pertanyannya sendiri, tiba-tiba dari dalam istana terdengar teriakan anak laki-laki yang menggema hingga ke pelosok hutan rimba. Teriakan itu memilukan, terdengar khas seseorang meminta pertolongan. Aniq terkesiap, ia melihat jembatan di depannya, untuk sampai ke istana, ia harus menyebrangi jembatan itu. Tanpa berpikir panjang, Aniq segera berlari menyusuri jembatan yang jaraknya tidak pendek itu. Tepat saat itu, saat ia tidak menyadari bahaya di depannya, tiba-tiba bayangan berjubah hitam terbang menghampirinya, tidak hanya satu, dua, bahkan ada tiga. Aniq memekik ketakutan setelah menyadari kehadiran makhluk menakutkan itu. Tapi ia masih memiliki keberanian dengan melayangkan tinjunya saat makhluk berjubah itu siap menerkamnya. Ajaib, makhluk berjubah hitam itu langsung jatuh terlempar jauh dengan tinjuan Aniq.
Aniq terperangah, ia terkejut dengan kekuatannya sendiri. Ia bingung, dari mana ia dapatkan kekuatan sekuat ini, seingatnya dia hanyalah wanita mungil yang lemah. Tapi apa ini, milik siapa kekuatan ini?
Suara teriakan terdengar lagi, membuat Aniq tersadar dan segera berlari melanjutkan misinya. Di depan istana Aniq menarik dan melepas nafasnya dalam-dalam. Ada takut, tapi ia yakin bisa menghalau bahaya apapun yang menghalanginya. Aniq memasuki istana itu hati-hati, benar saja, belum lebih dari lima langkah sesosok makhluk lain menghadangnya. Kali ini lebih besar, tidak melayang seperti makhluk berjubah diatas jembatan tadi. Aniq mendongakkan kepalanya untuk melihat makhluk yang tubuhnya setinggi rumah bertingkat sepuluh itu.
"Bagaimana aku bisa melawan makhluk besar ini?",gumam Aniq kebingungan. Aniq tersenyum penuh arti setelah berpikir sebentar, ia punya ide cemerlang. Segera ia berlari hati-hati menuju sisi kaki kanan raksasa itu, setelah menaiki kaki raksaaa itu Aniq menarik tusuk konde yang menggelung rambutnya, dengan cepat ia mengangkat tusuk kondenya dan menusukkannya pada punggung kaki raksasa. Raksasa itu menjerit kesakitan, ia mengibas kakinya dan membuat Aniq terlempar ke lantai, hempasan itu membuat Aniq meringis memegangi dadanya yang sesak.
Raksasa itu murka, ia menatap marah kearah Aniq setelah mencabut tusuk konde yang menancap di kakinya. Ia merundukkan dan menggapai tubuh Aniq yang masih tersungkur. Aniq tak bisa mengelak, ia belum sempat berdiri saat tangan raksasa itu membawa tubuhnya. Aniq berteriak ketakutan, ia memejamkan matanya, wajah raksasa itu sangat mengerikan, hitam, dan ada banyak luka mengoreng di wajahnya. Dari tubuh raksasa itu mengeluarkan bau yang tidak sedap, Aniq sampai harus menahan nafasnya agar tidak mencium bau raksasa itu.
Setelah berada di ketinggian yang tidak Aniq tahu berapa meter, raksasa itu melempar tubuh Aniq tinggi sekali, tubuh Aniq melayang dan siap jatuh mendarat di lantai yang keras.
"Aaaaàa....tolong...", Aniq menjerit berusaha meminta pertolongan. Aniq benar-benar mendarat di lantai, tapi ajaibnya ia tidak merasakan apapun, tidak ada rasa sakit. Setelah sadar, ia mengerjapkan matanya dan mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Tadinya ia berpikir akan jatuh diatas lantai yang keras, ternyata di tempat ia terjatuh ada sebuah karpet ajaib yang menahannya dari benturan keras. Syukurlah, Aniq menghela nafas lega. Ia melihat ke sisi kanannya dan mendapati seorang remaja laki-laki yang masih terus menatap tajam ke arah raksasa. Remaja laki-laki itu mengeluarkan pedangnya saat raksasa itu mulai menyerangnya. Ia melemparkan pedangnya ke arah raksasa, tiba-tiba pedang itu berpendar dan berubah menjadi ribuan pedang yang menusuk sekujur tubuh raksasa. Raksasa itu menjerit, ia mengerang kesakitan, tapi ia tak bisa berkutik. Tubuhnya yang berlumur darah kemudian limbung dan berdebam jatuh kelantai.
Remaja laki-laki itu beralih menatap Aniq, ia tersenyum.
"Kamu tidak pa pa?",tanya remaja laki-laki itu. Aniq mengangguk dan membalas senyum remaja laki-laki itu.
"Kamu siapa? Apa kita pernah bertemu? Sepertinya kamu tidak asing di mataku", tanya Aniq beruntun. Masih dengan senyuman remaja laki-laki itu menjawab.
"Perkenalkan, aku pangeran kesepian", Aniq terkejut mendengar jawaban laki-laki itu.
"Jadi, kamu pangeran dalam game itu?"
"Ya, game yang sering kamu mainkan", Aniq terperangah, ia tidak percaya ini.
"Mulai sekarang kamu mewarisi kekuatanku, kamu adalah bagian dari hidupku", ujar pangeran kesepian. Tiba-tiba langit terlihat sangat terang, warna-warni pelangi berkilauan, membuat Aniq menutup matanya dengan punggung tangan. Setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi, yang ia tahu sekarang ia sudah ada di sebuah ruangan yang di penuhi dengan komputer. Aniq mengerjapkan matanya dan melihat ke depan. Layar monitor komputer menampilkan sebuah game yang happy ending ' THE POWER OF THE RAINBOW'
YOU ARE READING
THE POWER OF THE RAINBOW
FantasyDia seorang gadis cantik dengan tubuh mungil yang baru saja lulus S1 fakultas psikologi dan masih berusaha mencari pekerjaan. Semua orang yang baru sekali bertemu dengannya sering salah mengira ia gadis imut yang baru menginjak study di SMP, yahh...
