No Escape

460 40 22
                                        


-Yoongi Pov-

Aku berlari sekuat tenaga, namun sosok itu terus saja mengejarku dan hampir mendapatkanku.

Aku menoleh kebelakang saat memastikan jarak antara aku dan sosok itu. Namun nihil, dia tidak ada. Padahal dengan jelas dia sangat dekat denganku. Namun aku tidak peduli dan tetap melanjutkan lariku untuk menghindar dari sosok itu.

Dan saat aku menolehkan kepalaku untuk melihat kedepan, saat itu juga aku menghentikan langkahku. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia sudah ada dihadapanku beberapa meter dari tempatku bediri. Dan dengan sekejap, dia sudah ada tepat dihadapanku menatapku tajam dengan matanya yang semerah darah.

"MIN YOONGI!!"

Mataku mendadak terbuka.

Nafasku terengah-engah kala aku dapat terbangun dari cengkraman mimpi burukku. Tubuhku berkeringat di tempat tidurku yang hangat. Mencoba mengatur deru nafasku agar menormal. Mimpi buruk yang terlalu klise untuk di ingat dan terlalu nyata jika dirasakan.

Kulihat diluar jendelaku langit tampak kelabu menguning oleh cahaya matahari pagi yang mulai terbit di ufuk timur.

Tok Tok Tok!

Tok Tok Tok!

Terdengar pintu kamarku di ketuk-ketuk secara paksa. Membuatku cukup terkejut dari keheningan pagi dikamarku.

"Yoongi! Bukaaa~" Sahut seorang wanita dengan suara yang meninggi tidak sabar -Lebih tepatnya terdengar marah. Ku ranjakan kakiku untuk menuju ketukan tersebut.

Dapat kulihat seorang wanita paruh baya tampak berkacak pinggang ketika aku membukakan pintu. Matanya membulat tajam -menatapku geram.

"Kau ingin menjadi anak pemalas ya?"
Tangannya menjambak rambutku tiba-tiba.

"aaah~ sakittt. ampun bibi!"

Jambakannya semakin menguat, seakan menarik akar-akar rambutku.

"Ya! Apa kau lupa dengan tugasmu yang sudah kukatakan kemarin, hah? Carilah kayu bakar dihutan sebanyak-banyaknya!!!" Bentaknya dihadapan wajahku yang meringis memegang jambakan rambutku.

"Kau ingin kedinginan saat musim dingin tiba, eoh?" Tandasnya semakin membentakku.

"Ne, bibi. Aku ingat. Baik, aku akan melaksanakannya" jawabku menyetujui perintahnya. Ia melepaskan tangannya pada jambakan rambutku.

Ia mendengus meremehkan. "Anak baik! Kalau begitu siapkanlah makanan terlebih dahulu untuk pagi ini"

"Ne, bibi" tandasku menurutinya.
aku menunduk. -takut jika ia melakukan hal kasar lagi pagi ini padaku.

"Ya! Yoongi, aku ingin arak lagi untuk pagi ini!" ujar seorang lelaki paruh baya menidurkan kepalanya dengan mata terpejam di atas meja ketika aku menghidangkan makanan, -Pamanku. Jelas-jelas ia sudah cukup mabuk dalam keadaan seperti itu setelah semalaman menegak begitu banyak arak. Benar-benar pemabuk berat.

"Mianhae, paman. Sepertinya arak didalam poci sudah habis kau minum semalam"

Paman menggebrak meja makan dengan marah. Membuatku terlonjak kaget.
"Apa! Aku tidak ingin tahu! Kau harus menyediakan arak lagi untukku!"

"Ya! Yoongi! Apa kau sudah mencuci semua baju ku, hah?" Kali ini hentakkan pertanyaan dari seorang gadis yang seumur denganku memasuki ruang makan.

"Aku baru mencuci setengahnya, maaf Seulgi" jawabku meminta maaf karena perintahnya belum sempat ku kerjakan secara sempurna. Ia menjambak rambutku kasar.

No EscapeWhere stories live. Discover now