'Dimana aku?'
Suara itu terdengar menggema dalam ruang hampa tanpa batas.
Zassssshhhhh zaasssshhhh
Pemuda itu mengatupkan mulutnya rapat. Sayup-sayup ia mendengar gemerisik dedaunan, bergerak sealun dengan sang bayu yang tengah menari beriring dingin yang sesekali menusuk pori-pori kulitnya yang putih langsat.
Pemuda itu membuka matanya, menelisik setiap sudut benda yang tertangkap matanya. Matanya mengerjap, menyesuaikan lensa matanya dengan cahaya sekitar.
'Dimana aku?'
Tanyanya lagi pada deretan gedung yang nampak kosong itu.
Ia menundukkan kepalanya, mencari jawaban atas pertanyaannya.
Pupil matanya membesar saat mendapati pemandangan di bawahnya. Ia memundurkan tubuhnya segera begitu meyakini bahwa ia akan mati apabila terjatuh dari tempat yang kini mampu ia kenali.
'Rooftop?'
Pemuda itu mengernyitkan keningnya.
'Tapi kenapa?'
Hiks.... Hikss...
Pemuda itu terkesiap saat mendengar sayup suara tangisan. Tubuhnya memberikan reflesk yang begitu buruk hingga membuat tubuh kekarnya mematung saat ia begitu ingin berlari menjauh dari sana.
Entahlah, suara itu terasa menyakitkan dan memberikan sinyal kengerian yang amat sangat di setiap isakannya.
Hiks... hiks...
Pemuda itu, dengan sekuat tenaga berusaha menggerakan tubuhnya yang seakan merekat kuat pada lantai semen itu. Bulir-bulir peluh mulai menyelimuti dahinya, terkadang mengalir mulus membelai wajah rupawannya.
'Kumohon'
Pintanya pada kedua kakinya yang terasa kaku.
Panik.
Pemuda itu semakin panik saat suara itu mulai terdengar jelas. Rasa takut yang berusaha ia tahan tumpah ruah memenuhi wajah rupawannya.
Hikkkkkksss.... hikkksss....
'Ak...'
"Jimin-ah..."
Guncangan pelan pada tubuh kekarnya, membuat lenguhan pelan keluar dari bibir pink pemuda yang masih bergulat dengan selimutnya itu.
"Park Jimin!"
Suara cempreng yang memenuhi telinganya kini membuatnya dengan setengah hati mendudukkan dirinya.
"Kau mau tidur sampai kapan, eoh? Apa kau tidak sekolah? Kau mau membolos lagi? Yang benar saja? Kau itu sudah 18 tahun. Setidaknya.... YAK! JANGAN TIDUR LAGI KUBILANG! BANGUN!"
Jimin, ia kembali tersentak saat teriakan suara cempreng itu seakan berusaha merusak gendang telinganya. Ia yang berniat untuk kembali merebahkan dirinya terpaksa bangun dari posisinya dan berjalan ke luar kamarnya mengikuti permintaan seorang gadis berseragam sekolah dengan name tag Park Chaeyoung itu.
Jimin melangkah gontai menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya. Ia menarik handuk yang tersampir di samping pintu kamar mandi dan melangkah masuk mengabaikan Chaeyoung yang masih sibuk mengomelinya dengan suara cemprengnya.
***
Pemuda bername tag Park Jimin itu berjalan santai menuju gerbang sekolah yang sudah ramai oleh para siswa yang berdatangan. Sesekali ia akan melihat ke arah jalanan atau tembok tinggi pembatas sekolahnya yang membuat sekolah tempatnya menuntut ilmu itu terkesan begitu eksklusif.
Jimin terlihat tak peduli dengan beberapa siswa yang menaruh minat padanya atau suara klakson mobil yang sesekali meminta untuk memberi jalan. Mobil-mobil yang ia yakini adalah pengantar para pangeran dan puteri yang kebetulan juga bersekolah dengannya. Jimin tetap berjalan acuh sampai sebuah tangan menarik lengannya berbalik.
Jimin sedikit tersentak saat tangan kurus itu tengah menariknya untuk mendekat padanya. Ia hanya diam saat mengetahui siapa pemilik tangan yang dengan kurang ajarnya menariknya. Ia hanya menatap gadis itu, Park Chaeyoung, yang masih sibuk mengomelinya. Sesekali ia mendongak, menatap ke arah jalanan, mengabaikan semua omelan Chaeyoung sebelum kobaran api yang sedari tadi menyala, melahap gadis yang begitu disayanginya itu.
Jimin menurunkan tas ransel yang sedari tadi tersampir di pundak kanannya. Ia hanya diam membisu, membiarkan Chaeyoung membetulkan seragamnya yang asal-asalan. Menghabiskan hari-hari bersama gadis mungil di depannya ini membuatnya tak merasa risih saat tangan kurusnya berkeliaran di tubuh kekarnya.
Chaeyoung berjalan mengitari Jimin, meraih tas ransel pemuda itu dan meminta pemuda itu memakainya di kedua pundaknya.
"Ini baru benar. Ayo!!"
Ajak Chaeyoung sambil menarik kembali tangan kanan Jimin.
Jimin hanya terdiam, membiarkan gadis bermarga Park itu menarik -menyeret- nya pergi. Ia hanya merasa begitu bahagia karena melihat senyum manis gadis yang mengisi hari-harinya itu.
***
"Aku dan Nayeon ingin berjalan-jalan dulu nanti. Kau tahulah urusan wanita. Jadi, ijinkan aku pada Appa, Okay?"
Jimin menoleh, menatap Chaeyoung yang menatapnya dengan pandangan memohon.
"Hm."
Setidaknya Jimin menjawabnya kan?
Tak berapa lama, ia mendongak, menatap bangku yang terletak tepat di belakang bangku Chaeyoung. Bangku itu selalu kosong selama beberapa hari, bahkan hari ini.
"Dia kemana?"
Kalimat yang ia harap hanya untuk dirinya itu berhasil lolos dari bibir tipisnya. Chaeyoung pun berbalik, menatap arah pandang Jimin yang tak lepas dari bangku kosong itu.
"Hm? Siapa?"
Jimin mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir sexy adik kembarnya itu.
"Yang duduk di belakangmu."
Chaeyoung berbalik, menatap pemuda bermarga Park yang masih setia menatap bangku kosong itu.
"Ha?"
Chaeyoung mengerutkan keningnya. Ia menunduk, menatap penuh tanya Jimin yang menatapnya juga penuh tanya dalam konteks yang berbeda.
"Mi..."
"Ah, sudahlah. Aku mau pergi dulu. Bye Princess."
Chaeyoung hanya melongo saat kakak kembarnya itu melangkah keluar kelas meninggalkannya.
Chaeyoung mengalihkan pandangannya pada bangku kosong yang terletak tepat di belakang bangkunya itu. Tatapannya teduhnya mendadak berubah sendu.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Missing You (Out) [END]
Fiksi Penggemar"Aku. Akan. Selalu. Menemukanmu. Dimanapun. Dan kapanpun." "Jika suatu saat kau tidak bisa menemukanku bagaimana?" "Kalau begitu cari aku." Aku akan menemukanmu, Min Yoongi. Cerita ini murni dari imajinasi saya sendiri. Apabila ada kesamaan cerita...
![Missing You (Out) [END]](https://img.wattpad.com/cover/151697950-64-k885853.jpg)