Prolog

3 1 0
                                        

     Saat pulang sekolah, aku hanya diam melihat mejaku yang dipenuhi coretan-coretan kata-kata kasar yang tertulis disana. Kelas sudah sunyi bagaikan rumah tidak berpenghuni, cuma tinggal aku sendirian melihat mejaku yang dipenuhi coretan sedari pagi. Aku hanya anak SMA yang sebentar lagi akan lulus, lulus dengan harapan mempunyai kebahagian seperti anak lainnya. Ini baru awal semester genap dan Aku selalu mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temanku dari awal masuk kelas ini. Menyakitkan, itu yang dirasakan hatiku sekarang. Keputusasaan selalu menghampiriku sebab tidak ada yang mau menyemangatiku lagi, kecuali keluargaku.

        "Aku ingin mati.." Gumamku yang perlahan kacamata milikku dipenuhi embun akibat menangis, cuma menangislah yang bisa membuatku tenang dan berusaha untuk bersabar.

     CREEKK!
     Pintu kelas dibuka tiba-tiba, aku langsung memalingkan wajahku kesamping hingga rambut pendekku menutupi wajahku dengan sedikit menundukkan kepala. Suara langkah kaki orang itu mendekati diriku, kepalaku dielus lembut oleh tangannya. Aku perlahan memberanikan diri untuk memadang kearahnya. Ternyata, Jey si ketua kelas sedang terseyum menatap kearahku.

        "Jangan menangis, besok aku ganti mejamu dengan yang baru." Jey menarik kursi disampingku agar dekat denganku lalu ia duduk disana.
        "Terima kasih." Jawab diriku yang masih diiringi dengan isak tangis.
        "Maaf ya, aku tidak bisa menjadi ketua kelas yang baik untukmu." Jey melepaskan kacamata milikku dan meletakkannya diatas meja.
        "Tidak apa-apa, ini sudah nasibku."
        "Sabar, aku akan berusaha untuk menjagamu. Jangan menangis lagi, Hanna kan cantik." Kedua tangan Jey menangkup pipi gadis yang sedang menangis ini yaitu diriku. Ibu jarinya mengusap lembut air mata yang membasahi pipiku.
        "Terima kasih banyak." Aku berhenti menangis saat aku tau kalau ada Jey yang akan menjadi perisai untukku.

     Aku sudah dekat dengan Jey sejak awal masuk kekelas ini. Jey baik, bahkan Jey adalah orang yang selalu membelaku serta menjadi sandaran untukku dikala sedih. Jey selalu ada untukku. Aku selalu terhibur dan bersemangat setelah mengenal Jey. Walaupun diriku selalu dibully, Jey tidak terlalu memikirkan hal itu.

        Kata Jey "Hanna, aku tidak terlalu peduli tentang mereka. Mereka cuma iri padamu karena Hanna adalah gadis cantik. Anggap saja mereka akan mendapatkan karmanya setelah membullymu. Ingatlah Hanna, aku selalu disini untuk menjadi sandaranmu dan akan selalu ada untukmu."

     Karena Jey selalu ada untukku, rasa sukaku padanya perlahan tumbuh. Tetapi, Jey belum tau perasaanku. Aku takut kalau Jey tau aku suka padanya, dia akan menghindar perlahan dan menjauh meninggalkanku dengan perasaan yang sia-sia padanya.

        "Jey." Aku menyandarkan kepalaku dibahu kanannya yang berada disampingku.
        "Hm?" Tangan kiri Jey merapikan rambutku agar wajahku tidak tertutupi oleh itu.
        "Aku cantik?" Tangan kanan Jey mengusap kepalaku.
        "Cantik."
        "Darimananya yang cantik?" Tangan kananku menurunkan tangan kiri Jey seraya menggenggamnya dengan erat
        "Cantik. Hanna itu imut, pakai kacamata, putih, senyumnya manis, rambut pendek berponi, pipinya tembem dan lain-lain. Termasuk tipeku." Jey menggodaku sambil menahan tawa melihat wajahku yang memerah setelah mendengar ucapannya.

     Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah ini, perasaanku menjadi gugup dan senang tercampur aduk. Jey, aku menyayangimu. Aku senang bisa bertemu denganmu.

I Just Want To Be HappyHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora