Apes (1)

605 26 5
                                        

Apes. Hari ini semua yang aku kerjakan selalu berakhir dengan kata apes. Heran sekali, tidak ada satupun yang sempurna. Aku jadi teringat tentang ramalan bintang pada majalah yang aku baca minggu lalu. Ratu kesialan benar benar nongkrong disampingku.
Apes!

Minggu-minggu ini seharusnya aku sedang happy-happynya sekolah soalnya semester awal kelas tiga SMP baru dimulai. Tapi dasar apes, aku malah bete dikelas. Hanya aku, Im nayeon, yang ditempatkan dikelas ini. Apes, teman-teman segerombolanku semuanya berada dikelas yang berbeda dan hanya aku sendirian disini.
Sana dan mina, kenapa sih kamu bisa sekelas lagi dan aku sendirian!

Anak anak dikelasku yang baru ini kurang asyik. Mereka cuma belajar dan belajar. Obrolannya juga tidak seru, soal latihan test ujian SMU atau kursus ini itu. Bosan. Sampai minggu kedua ini aku masih belum dapat teman yang cocok untuk bermain atau sekedar ngobrol di jam istirahat. Dasar apes, terpaksa aku langsung pulang kalau sekolah sudah bubar. Sayang kegiatan es-kul untuk kelas tiga SMP ditiadakan, kalau es-kul masih ada pasti aku tidak akan sebete ini.

"Sudahlah, mau apa lagi? Pulang kerumah dan melanjutkan menulis novel!"
Aku memang ingin menjadi pengarang novel. Ada pendapat yang mengatakan bahwa untuk menulis novel, hal pertama yang penting adalah menikmati pengalaman hidup, dan untuk soal itu, rasanya aku cukup tahu lho. Walaupun baru kelas tiga SMP, boleh dibilang aku kaya akan pengalaman. Makannya hari ini aku bergegas pulang untuk melanjutkan novel cinta yang sedang kutulis. Ketika aku membuka pintu,

"Eh, nayeon, selamat datang."

"Eomma! Ada apa? Tumben?"
Aku perhatikan diatas meja ada secangkir teh. Eomma sedang menikmati teh disiang hari. Agak aneh sedikit. Eomma-ku lebih tepat sebagai seorang sahabat dari pada seorang eomma. Aku bisa curhat segala rupa, belajar dandan atau nonton bareng. Mana ada eomma seperti punyaku. Kalau untuk urusan ini memang aku tidak apes. Nama mamaku Im yoona, cocok sekali dengan karakternya yang periang seperti cahaya matahari ketika musim panas tiba.

"Hey, mana salam kamu? Kok malah kamu bilang 'tumben'? Biarpun begini eomma juga orangtuamu lho!"

"Ah, ya. Aku pulang! Tapi kalau dibilang tumben memang betulkan?"
Jelas saja aku bilang 'tumben' pada eommaku. Tidak biasanya eomma pulang siang-siang seperti ini. Aku tinggal hanya berdua dengan eomma. Setahun yang lalu appa memutuskan untuk mengelola restoran dan tinggal di mansion yang ada didekat restoran. Saat liburan kadang-kadang aku makan siang bareng appa.

"Maaf, ya. Tapi eomma akhir-akhir ini benar-benar sibuk sekali"

"Cuma bercanda! Aku sendiri nggak keberatan kok, kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah ini sendirian." aku berusaha menghibur eomma yang kelihatannya sudah menghadapi rasa bersalah.

Setelah kepergian appa, eomma kembali bekerja dikantor desain seperti saat sebelum menikah. Menurutku, eomma adalah desainer yang terampil meskipun tidak terlalu terkenal. Tugasnya adalah memandu bagian iklan atau majalah.sejak mulai bekerja lagi eomma semakin bersemangat. Matanya bersinar-sinar kalau membicarakan sebuah desain baru. Baju yang dipakainya pun selalu setelan yang apik keluaran channel. Aku sangat bangga punya eomma seperti itu. Tapi sekarang eomma semakin sibuk, pekerjaanya menuntut perhatian lebih, jadi eomma mulai agak pulang larut. Kadang-kadang eomma pulang sewaktu aku sudah tidur dan paginya, saat aku berangkat sekolah eomma biasanya masih tertidur nyenyaknya. Walaupun tinggal serumah, aku pernah beberapa hari tidak bertemu dengan eomma . aneh tapi nyata, kan!

"Anak manis, eomma minta maaf ya kalau semua pekerjaan rumah diserahkan begitu saja pada nayeon."

"Mau bagaimana lagi? Eomma sibuk, sih? Sepi juga kalau makan makanan yang dihangatkan di microwave sendirian....."
Wajah eomma jadi sedikit mendung. GAWAT! Harus dinetralisir, nih.
"Bukan begitu eomma. Nayeon nggak bermaksud seperti itu lho."

My dreamStories to obsess over. Discover now