Prolog

9 0 0
                                        

Seperti malam sebelumnya, semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Zaelani, pria yang kerap disebut ustad itu tengah berceramah di acara pernikahan seorang saudara di tetangga desa. Sedang Li Yi Xin sang istri tengah sibuk membujuk anak sulungnya untuk makan.

Namun mereka—Andre dan Zhang Jing— kedua anak itu tengah berdebat tentang tajwid di Mushala rumah.

"Mei... Kalau nun, ketemu huruf zai itu berarti ikhfa. Ya dibacanya samar dong...!" tegur anak berambut coklat.

"Loh... emang tadi aku bacanya gimana? Orang bener juga!" protes sang adik tak mau kalah.

Andre, anak pria berambut coklat itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hingga posisi pecinya tak lagi berarturan. Kebiasaannya kala lelah menghadapi Zhang Jing yang sedikit ngeyel. "Coba deh Mei baca ulang, keke dengerin lagi. Siapa tau keke yang salah," pintanya lembut.

Gadis kecil bermata sipit itu mengangguk patuh. "Bismillahirrahmaanirrahim... Innaanzalnahufiilailatilqadr."

"Hmmm tuh kan!" Andre kecil kembali bersuara.

"Innaangzalnahufilailatilqadr." Sang adik mengulang, "gitu, ya? Bener nggak?" Tanyanya.

"Bener, gini baru adik keke yang pinter...!" Anak pria itu mencubit hidung sang adik gemas.

"Ih Keke...! Sakit tau...!" protesnya sebal.

"Assalamualaikum...!" Suara lantang dari ruang tamu itu membuat gurauan keduanya terhenti.

Zhang Jing segera berlari kecil menuju sumber suara, diikuti langkah malas Andre di belakangnya.

"Waalaikumsalam, Pa. Kita baru aja selesai ngaji, keke tadi yang ngajarin," sapanya ceria.

"Loh... Emang Mama ke mana, Mei?" tanya pria yang dipanggil Papa itu.

"Mama lagi bujuk Ciece makan di kamarnya." Kali ini Andre yang bersuara.
Zaelani, sang papa menatap anak lelakinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Lalu segera pergi menuju kamar anak sulungnya.

"Ma! Gimana sih kamu? Bukannya ngajarin Meimei ngaji! Malah ngeladenin anak satu ini!" Teriakkan lantang sang Papa menggema.

Tubuh kecil Zhang Jing meringsut ketakutan, sudah lama sang Papa tak lagi terdengar semarah ini sejak satu bulan kondisi sang kakak membaik. Namun entah apa yang membuat kakak pertamanya itu kembali buruk.

"Heh Bajingan! Berhenti maki-maki Mama saya! Emangnya kamu ini siapa?!" hardik suara lain disertai bunyi dentuman benda yang jatuh ke lantai.

"Dasar anak setres! Saya ini Papa kamu! Kamu nggak pantes ngomong seperti itu!"

"Hahaha... Papa kamu bilang?! Di mana kamu saat dulu saya kecil? Papa mana yang tega meninggalkan anaknya yang masih dalam kandungan?! Dasar laki-laki gila! Hahahahaa...!"

Air mata Li Yi Xin—sang istri— tak lagi terbendung. Ia memeluk erat putri sulungnya itu. Sedang laki-laki yang biasa disebut Papa—Zaelani—pergi meninggalkan keduanya, melewati Zhang Jing dan Andre yang tengah menggenggam tangan satu sama lain dengan wajah penuh rasa takut.

Zhang Jing menyeka air yang jatuh di ujung pelupuk mata, sembari berbisik pada sang Andre kecil, "Keke... Kapan Ciece bisa sembuh lagi?"

Namun Andre kecil tak menjawab, sebagai gantinya. Ia memeluk tubuh kecil ringkih itu erat.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 08, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The ReasonStories to obsess over. Discover now