"Aku tidak tahan. Sungguh nasib yang malang".
Sepasang kaki telanjang nampak berlari terseok menembus gang per gang perumahan. Rambut pirangnya berkibar tertiup angin. Air mata tak hentinya membasahi pipi. Kata dan perlakuan bejat itu masih tertanam dalam kepala sang gadis. Hatinya hancur berkeping.
*Flashback*
"Kamu harus pergi dari rumah ini sebelum kujadikan kau pemuas nafsuku". Kalimat yang membuat Lyesa terhenyak di ruang tamu. "Ayah, apa yang kau katakan? Apakah Ayah mabuk?". Lyesa bertanya lembut dengan senyum manis yang menghiasi bibir ranumnya.
"Apakah kau sudah tuli jalang?" Medley berkata dengan melotot. Seakan bola matanya akan meloncat keluar. Tatapan Medley yang teduh tapi juga kejam itu sangat menakutkan. Lyesa berdiam diri masih mencerna situasi macam apa yang sedang terjadi.
Medley mendekat dengan gaya mengintimidasi, tanganya terulur menarik rambut si pirang ke belakang, menyeret si pirang keluar dari ruang tamu menuju pintu rumah yang amat besar. Lyesa merengek kesakitan. Seperti mimpi bila Medley berlaku kasar pada gadis kecilnya.
"Dasar wanita sialan. Kamu hanya menjadi beban hidupku". Medley berkata dengan mendorong Lyesa ke lantai. Hanya dengan kalimat pendek itu, cukup mengoyak hati yang sudah rusak milik Lyesa. Bulir air mata turun dari matanya yang berbulu lentik.
"Apa yang kau katakan? Kau benar-benar mabuk ayah". Lyesa berkata setelah Medley melepas cengkeraman rambutnya. Belum sempat melangkahkan kakinya untuk menghampiri Medley, kakinya berhenti seketika mendengar kalimat menohok lainya.
"Sebenarnya aku bisa mengirimmu ke rumah bordil, tapi dengan tubuh yang belum terisi seperti itu kamu tidak akan laris". Medley berkata dengan nada mengejek.
Matanya mengamati tubuh Lyesa dengan menilai. Sementara si gadis pirang hanya termenung dengan perkataan sang ayah yang menyakitkan. Perbuatan Medley sudah melampaui batas.
Sekilas Lyesa menatap sang ayah yang terlihat khawatir dengan menatap ke arah pohon disamping rumah. Diikutinya arah pandang Medley disana. Tidak ada apapun disana selain kegelapan.
Medley beralih menatap gadis yang tersungkur didepanya. Tatapan mata mereka beradu. Tapi Medley memalingkan kepalanya kesamping. Seketika matanya berair, tangan mengepal, dan rahang mengetat tanpa sepengetahuan Lyesa.
"Ayah, aku tahu kamu sedih. Tapi Ayah tidak bisa seperti ini. Ibu pasti sedih melihat ayah kacau. Ayo kita masuk yah". Lyesa bangkit dengan bertumpu pada kedua lututnya, dia berkata sambil meraih tangan Medley yang semakin mengeras. Terlihat jelas Medley seperti menahan amarah.
"Dasar wanita jalang! Beraninya kau menyentuh kulitku dengan tangan kotormu". Medley menangkis tangan Lyesa dengan kasar, hingga Lyesa terjerembab ke lantai yang dingin untuk yang kesekian kalinya.
Banyak hal yang perlu dipertanyakan Lyesa. Bagaimana bisa ayahnya yang dulu begitu hangat berubah menjadi sosok yang amat menyeramkan. Sejak kejadian yang menimpa ibunya, ayahnya memang berubah. Tapi tidak separah ini.
Dengan kasar Medley menyeret rambut Lyesa kembali kedalam. Entah apa yang akan dilakukan pada Lyesa. Pintu depan dibantingnya hingga meninggalkan celah vertikal yang amat kecil.
"Ayah, Lyesa mohon lepaskan rambut Lyesa. Sakit". Lyesa terus meronta minta dilepaskan. Air mata bercucuran melewati pipi mulusnya. Dirasakan genggaman tangan Medley agak berkurang tapi dia tetap menyeret Lyesa menuju kamar tamu dilantai bawah yang terletak tepat dibawah tangga.
Pintu berdembam dengan keras. Rasanya begitu sakit didalam hati Lyesa. Jambakan itu tidak seberapa dibanding rasa sakit yang timbul karena ulah seorang ayah yang menganiaya anak sendiri.
Medley menghempaskan tubuh kecil Lyesa ke lantai dekat ranjang ruang itu. Tubuh kecil itu terasa sakit. Lututnya nampak membiru karena sering tersungkur. Medley menatap dengan iba tapi terus mengumpat dan menyeret Lyesa ke atas ranjang.
"Ayah, apa yang ayah lakukan?". Lyesa semakin takut dengan ulah sang Ayah yang terus mendekati Lyesa keranjang. Dia terus menatap putri sulungnya yang baru berusia 15 tahun. Dengan tatapan yang nampak seperti khawatir, tapi juga takut.
Langkahnya jelas terlihat ragu. Tapi dia meyakini hanya cara ini yang harus dilakukan. Lyesa semakin merapatkan tubuhnya ke kepala ranjang. Lututnya didekap dengan kedua tangan. Air mata tanpa hentinya keluar membasahi pipi. Ayahnya bukan seperti ayahnya. Dia Iblis.
Ranjang berderit karena tubuh besar Medley yang merangkak mendekati Lyesa. Dengan kasar dia menyeret kaki Lyesa. "Ayah, apa yang ayah lakukan?".
Lyesa semakin ketakutan, dia meronta sekuat tenaga. "Ayah lepaskan Lyesa. Ayah aku mohon".
Tangan mungilnya terus memukul dada bidang Medley tanpa hasil. Plakk. Tamparan keras mendarat di pipi kiri Lyesa. Tangisnya semakin pecah. Terasa panas, perih, sakit.
Diikatnya kedua tangan Lyesa dengan dasi diatas kepala. Kedua kaki ditindih dengan kaki besar Medley. Tubuh Lyesa terus menggeliat tanpa hasil. Medley melepas pakaianya sendiri yang sudah berantakan karena amukan Lyesa. Tidak peduli dengan rintih kesakitan Lyesa.
Medley dengan paksa melorotkan gaun tidurnya hingga telanjang. Perasaan malu, takut, dan kecewa berkecamuk bagi Lyesa. Lyesa hanya bisa pasrah dengan menutupi matanya dengan tangan yang diikat. Sungguh amat lelah hati dan tubuhnya. Biadab. Medley begitu bajingan.
Dengan paksa dan terasa sangat kasar bagi Lyesa manakala Medley merenggut mahkota kewanitaanya. Hal yang sangat dijaga Lyesa dengan aman. Hati Lyesa sudah terkoyak dengan sempurna. Hancur. Begitu hancur.
Setelah melakukan aktifitasnya Medley bangkit memungut pakaianya yang berserakan. Dia memakai pakaian tanpa menoleh kearah Lyesa yang meringkuk lemah.
Lyesa menutupi tubuh polosnya dengan selimut diujung ranjang."Kenapa ayah melakukan ini padaku? Lyesa bukan pelacur, Lyesa hanyalah gadis kecil 15 tahun." Lyesa berkata dengan iba. Menatap pria berumur 51 tahun itu.
Medley menatap dengan mata menyesal. Tanpa sepengetahuan putrinya, air mata jatuh menuruni pipi tegasnya. Diusapnya bening-bening air mata kesedihan dengan punggung tanganya.
"Sudah seharusnya kamu melayaniku seperti ini. Kamu harus membalas budi orang yang memungut gadis kucel sepertimu. Hal penting yang kamu harus tahu, kamu bukan putriku gadis kotor." Medley berkata sembari merapikan pakaian yang dipakainya.
"Kamu memang bukan ayahku. Kamu hanyalah bajingan. Brengsek. Kamu brengsek Medley". Lyesa menarik tubuhnya menggelung. Bantal yang menjadi saksi biksu kebejatan Medley sudah basah kuyup karena air mata.
Lyesa mengeluarkan kalimat yang seperti bergumam. "Putri? Aku pun tidak sudi menyandang status sebagai putrimu. Lebih baik aku mati daripada menikmati hidup dengan adanya hidupmu."
Medley hanya berkacak pinggang mendengar gumaman Lyesa. "Baguslah kamu menyadari statusmu. Sudah seharusnya kamu seperti itu. Tidak ada kelayakan hidupmu sebagai putriku". Medley melangkahkan kakinya keluar tanpa menoleh Lyesa yang berwajah muram.
Lyesa bangkit dengan menahan derai air mata. Dipakainya gaun yang berserakan dipinggir ranjang. Menatap dengan luka yang dalam bercak-bercak darah diatas sprei warna jingga.
"Ibu, seharusnya ibu tidak pergi. Ibu hanya menyisakan penderitaan untukku. Bagaimana bisa aku hidup seperti ini." Lyesa meratapi nasib malang yang menimpanya. Tubuhnya luruh kelantai.
30 menit sudah terlewati. Diangkatnya tubuh mungil itu dengan bertumpu kaki rapuhnya. Lyesa melangkahkan kakinya dengan gontai, terasa amat sakit pangkal pahanya. Langkahnya tertatih menahan nyeri.
Ditujunya kehidupan baru diluar sana. Dengan pikiran yang kacau, dan hati yang hancur Lyesa hanya berjalan tanpa arah.
*Flashback off*
Lyesa meninggalkan rumah bertingkat dibelakangnya. Tanpa menoleh kebelakang dia terus melangkahkan kakinya kedepan. Tidak ada lagi sisa kehidupan dibelakangnya.
