Bukit Jaya

15 1 5
                                        

Tik.. tik.. tik... suara detik jam yang terdengar di kesunyian sore itu, wanita paruh bawa sedang asik memandang pelataran rumahnya yang basah karena baru saja diguyur hujan. Aroma khas dari hujan yang selalu membawa rindu pada sebuah kebersamaan. Pemandangan di pelataran rumahnya memang menyita perhatiannya dari tadi, bukan ada yang istimewa, namun terlintas dikhayalannya dua insan yang sedang tertawa disana.
"Dah jam berapa mak?"
" Paling jam 5 pak, kok belum ada yang datang ya, kayaknya udah pada gak mau duit,"
"Gimana mau datang, hujan gitu mak"
laki-laki yang dari tadi disampingnya tengah sibuk dengan coretan angka dan tumpukan uang dengan sesekali menikmati rokok yang ada diatas mejanya.
Hari kamis memang biasanya rumah itu selalu ramai dengan kedatangan beberapa orang untuk mengambil gajian dari upahnya memotong karet. Namun sore itu tak ada satupun yang datang, membuat rasa rindu itu semakin menjadi.
"Sepi ya pak, anak-anak dah besar tinggal kita berdua aja, kemaren bapak sibuk-sibuk bikin rumah besar sekarang yang nempati kita berdua aja"
"Namanya anak-anak udah besar mak, ya biarin aja to,, cita-cita mamak jugakan yang pengen anaknya pintar, kita cuma bisa bantu doa sama transfer duit"
"Iyo pak, semoga anak-anak disana sehat semua ya pak"
ngeeeeng... motor Rx king milik paman datang dengan anaknya, memang seperti biasa mereka selalu datang untuk mengambil gajian dan sekedar ngobrol.
"Laila,, gimana kabarnya? udah kelas 5 SD sekarang ya? Dah gadis.." Wanita itu menyapa anak perempuan 11 tahun yang datang bersama paman tadi.
"Mas, berapa harga kompo sekarang (getah karet yang sudah beku/kering)?"
"Turun Mar, Cuma 8 Ribu, susah banget naik harganya tahun ini"
"Yang penting masih bisa makan ya nduk.." Paman Komar sambil tersenyum, seolah tabah dengan keadaan.
"Mar, gimana kabar emak? masih kaya kemaren?"
"Iyo Mbak, pikun ne nambah mbak, mau kekamar mandi ae lupa. Sepi yo gak ada Putri sama Akbar, udah pada berangkat ke kota ya mbak?"
"iyo mar, jumat kemaren berangkat, seminggu lah"
"Putri dah nyusun skripsi kan? diluk maneh (sebentar lagi) mantu pakde yakan laila"
"Kalau Putrinya sih gak mau cepet-cepet Mar, Alhamdulillah lah"
"Tapi kalau tiba-tiba enek seng lamar piye? (ada yang melamar gimana?) Putri kan memang gak suka pacaran, manatau diem-diem dah ada yang ngincer"
"Hahaha... yah tinggal nabung Mar, anak pertama masa gak dipestain"
Suasana pecah, hilang kesunyian tadi. Satu persatu warga mulai datang mengambil uang gajian dan bercerita santai.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 dan masih ada beberap warga yang baru datang untuk mengambil gajian.
"Ya Allah, harga Kompo turun lagi, pas masuk sekolah lagi, yang satu masuk SMP, satu lagi masuk SD, terpaksa masnya gak bisa lanjut kuliah dulu, bantuk bapaknya nderes (motong karet), hidup susah banget lek"
"Sabar mas, wes jalane koyo ngunu (jalannya seperti itu), Budi nderes saiki (sekarang)? padahal pinter lo, eman-eman"
"Wes,, gak eman-eman meneh lek, dari pada adek-adeknya gak di sekolahin, dia yang ngalah. Suwun (terimakasih) lek, wes di enteni (ditunggu) mau beli beras"
Rumah bercat biru pudar itu juga merupakan tempat keluh kesah sebagian warga disana, tak sedikit yang datang hanya sekedar bercerita atau meminjam uang.
Bapak Harjo orang memanggil pria paruh baya itu, dia memang terkenal dermawan dan ramah, hampir semua warga Desa Buki Jaya mengenalnya. Wanita yang selalu setia menemaninya bernama Darti, wanita yang terkenal pendiam dan suka ngomong apa adanya (ceplas-ceplos). Pak Harjo merupakan ketua kelompok tani Mandiri dan juga ketua RT sejak 25 tahun yang lalu, sebenarnya beliau sudah ingin pensiun, namun tak ada warga yang ingin menggantikan posisinya sebagai RT, apalagi gaji RT disana hanya 100 Ribu perbulan.
Adzan magrib berkumandang, sepasang suami-istri tersebut masuk kedalam rumah, pak Harjo langsung bersiap-siap untuk pergi ke musholah, sedangkan ibu Darti siap-siap untuk sholat di rumah, setiap gerakan sholat ia hayati, sekilas terbayang dua insan yang seminggu lalu masih terdengar suara mereka kini yang tersisa hanyalah keheningan. Setelah melakukan gerakan sholat, ia tengadahkan tangannya ia berbisik lembut pada pencipta, ia utaran rindunya untuk kedua anaknya pada pencipta, tanpa sadar linangan air mata membasahi kedua pipinya. Suaranya sangatlah lembut hingga hanya dia dan Allah lah yang tau apa yang dia ucapkan.
Selesai sholat isya pak Harjo pulang dari musholah, mereka menikmati makan malam sederhana, sayur daun ubi, lauk ikan asin dan sambal terasi, menu sederhana tapi nikmat luar biasa.
"Pak, kemaren anak mu si putri main ke bukit Jaya. Sebenarnya khawatir, dari dulu dia suka banget main-main ke alam gitu."
"Dia dah besar mak, dah tau jalan hidupnya kaya gimana, yang penting doakan aja baik-baik dianya"
"Dia persis banget kaya Bapaknya, kalau main jauh-jauh, Bapaknya kemaren main ke Malaysia tengok ae bentar lagi lulus kuliah mau pergi kemana dia. Dia itu perempuan lo pak"
"Terserahlah mak, yang penting dia masih inget sama Allah."
"Kalau di bilangin kaya gini terus".
Terkadang sudah lama kita hidup bersama dengan orang tercinta, namun tak sedikit kita berselisih hanya karena hal sepele. Terlihat seperti sebuah pertentangan, namun hakikatnya yang mereka lakukan adalah sebuah cinta dalam persepsi yang berbeda.

Cinta BermasaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora