Park Jihye mempunyai seorang kakak bernama Park Jihoon, mereka berdua hidup yatim piatu karena ibu mereka telah meninggal setelah melahirkan Jihye dan ayah mereka meninggal ketika Jihye duduk dibangku kelas 5 sekolah dasar. Jihoon seorang kakak yang baik dan bijaksana namun ia mempunyai satu kekurangan yaitu matanya buta dari lahir. Sehingga ia selalu menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Jihye dilahirkan dengan sempurna, dan ia sangat menyayangi kakaknya. Di umurnya yang sangat muda ia mencari kerja part-time setelah pulang sekolah, untuk membantu kakaknya mencari nafkah. Jihoon hanya seorang guru di sekolah adiknya sendiri. Ia adalah seorang guru musik, pekerjaan sampingannya adalah sebagai gitaris untuk live show di cafe-cafe.
Di tahun ini, Jihye memasuki Sekolah Menengah Keatas. Dia masuk di sekolah tempat kakaknya bekerja. Pada awalnya dia mendapatkan banyak teman karena ia supel, suka membantu teman yang kesusahan, dan pintar. Dia sangat ingin melihat cara mengajar kakaknya, oleh sebab itu dia selalu menunggu hari dimana ada pelajaran musik. Jihye tidak menceritakan kepada teman-temannya bahwa ia memiliki kakak yang mengajar di sekolah tersebut. Ketika di hari Jihoon mengajar musik di kelas Jihye tiba, karena mereka berada di kelas awal. Maka Jihoon melakukan perkenalan diri serta dia juga menceritakan tentang keluarganya. Dan ia bercerita bahwa ia sangat menyayangi adiknya, ia menyatakan bahwa adiknya berada di kelas tersebut yaitu Jihye. Semua murid-murid di kelas itu kaget kemudian mereka tertawa. Jihoon pun bingung, begitu juga dengan Jihye.
Setelah pelajaran musik berakhir, tiba waktunya istirahat. Ketika istirahat Jihye diejek oleh teman-temannya karena ia memiliki kakak yang buta. Dan ia sangat emosi pada saat itu, dia menangis ketika mendengar semua ejekan itu. Bagaimana bisa dia sekolah jika diejek terus setiap hari seperti ini, pikirnya. Seusai sekolah selesai, Jihoon datang ke kelas Jihye untuk mengajak adiknya pulang bersama sambil meraba-raba untuk menggenggam tangan adiknya. Ketika ia sudah dapat menggenggam tangan adiknya, Jihye langsung menghempaskan tangan kakaknya dengan kasar. Jihye langsung lari keluar dari kelasnya sendirian sambil membendung air matanya. Dia sangat malu karena ia mempunyai kakak yang buta, dia tidak mempunyai teman di sekolah. Baginya itu semua karena kakaknya. Ketika sampai di rumah, ternyata Jihoon sudah sampai duluan di rumah, dia mendengar suara pintu terbuka pertanda adiknya telah pulang. Jihoon bertanya kepada adiknya kenapa tadi ia menghempaskan tangannya dan tidak mau pulang bersama dengannya? Adiknya pun berkata bahwa dia diejek karena mempunyai kakak yang buta dan dia tidak mempunyai satupun teman, dia sangat malu.
Jihoon ikut sedih mendengar kisah dari adiknya, ini semua salahnya. Seharusnya dia tidak bilang bahwa Jihye adalah adiknya sehingga Jihye tidak perlu malu dan tidak akan diejek oleh teman-temannya. Satu hari setelah kejadian itu, keesokan harinya Jihye harus sekolah lagi dan harus menghadapi teman-temannya yang sangat menyebalkan. Setiap hari dia harus menghadapi teman-teman yang seperti ini. Ia tidak tahan lagi, Jihoon pun mendengar tangisan adiknya setiap hari setelah adiknya pulang sekolah. Tiba-tiba Jihye menghampiri Jihoon, ia meminta Jihoon untuk berhenti menjadi guru musik di sekolahnya. Jihoon pun kaget bagaimana bisa dia resign dari kerjanya itu karena dia terikat oleh kontrak kerja, jika dia resign maka dia harus membayar uang dengan jumlah yang banyak kepada pihak sekolah. Sedangkan ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar itu semua jika dia resign dari pekerjaannya.
Jihoon pun keberatan atas permintaan adiknya, Jihye. Karena ini merupakan pekerjaan utamanya untuk menghidupi dia dengan adiknya. Jika ia resign, dia harus kerja apa? Apalagi sekarang mencari pekerjaan untuk orang seperti Jihoon itu sangat susah. Namun Jihye tidak mau tahu, pokoknya dia ingin permintaannya itu dikabulkan oleh kakaknya. Jihye sangat marah kepada kakaknya, ia melempar tongkat kakaknya ke luar apartemen melalui jendela. Kemudian Jihye langsung pergi ke kamarnya untuk meluapkan emosinya dan ia membanting pintunya. Jihoon pun kaget, kenapa adiknya berubah menjadi seperti ini. Padahal sebelumnya Jihye sangat perhatian dan selalu membela dirinya. Karena tongkat nya dibuang, Jihoon tidak bisa pergi kerja. Ia hanya berdiam diri di rumah dan sangat menyesali perbuatannya. Dia sangat sedih dengan perubahan sikap adiknya.
Keesokan harinya, tiba-tiba handphone Jihoon berdering, dia mendapat kabar dari rumah sakit bahwa Jihye mengalami kecelakaan ketika Jihye hendak akan menyebrang. Dan keadaan adiknya sekarang sedang kritis. Jihoon pun sangat panik, ia langsung keluar dari apartemennya dan mengetuk pintu tetangganya untuk meminta bantuan. Jihoon meminta bantuan tetangganya untuk menuntun dia ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, Jihoon langsung memegang tangan adiknya, adiknya pun siuman. Jihye meminta maaf kepada Jihoon, dia sangat menyesal dengan segala perbuatannya akhir-akhir ini. Sebagai permintaan maaf, Jihye ingin bertukar posisi dengan Jihoon. Ia ingin bertukar mata dengan kakaknya, dia ingin merasakan penderitaan yang kakaknya alami selama ini. Dan matanya tersebut dipindahkan ke mata Jihoon, agar Jihoon bisa melihat dunia yang begitu indah ini. Jihoon terharu dengan permintaan adiknya tetapi ia tidak bisa melakukan ini semua, ia tidak tega jika adiknya harus buta seperti dia. Tetapi ini permintaan terakhir adiknya karena adiknya terkena geger otak berat akibat benturan keras ketika ia ditabrak. Sehingga adiknya didiagnosa bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Dengan berat hati, Jihoon pun mengabulkan permintaan adiknya. Mereka pun menjalankan operasi bersama. Tiga hari kemudian, ini adalah kali pertamanya Jihoon melihat dunia. Namun ia langsung pergi menghampiri adiknya, kini Jihye yang mengalami kebutaan. Jihoon langsung memeluk Jihye, dia mengelus muka adiknya. Dia memuji kecantikan adiknya, dan Jihye pun bilang maka dari itu dia ingin menurkarkan matanya dengan Jihoon agar Jihoon bisa melihat kecantikannya, canda Jihye.
Mulai dari detik ini Jihye bilang bahwa dia akan sangat merindukan muka Jihoon. Namun setelah berbelas-belas tahun, dia sudah sangat puas melihat muka kakaknya. Tiga bulan terakhir, Jihoon selalu menemani Jihye kemana pun yang Jihye mau. Namun Jihoon tidak pernah merasa malu kalau dia mempunyai mata yang buta, toh mata yang dia miliki sekarang adalah mata adiknya. Tiba-tiba Jihye menggenggam tangan kakaknya, Jihoon. Dia mengucapkan banyak terima kasih kepada Jihoon, dan ia meminta maaf lagi atas perbuatan fatalnya pada waktu itu. Kemudian Jihye langsung terjatuh dan tidak menyadarkan dirinya. Jihoon pun panik dan langsung membawa Jihye ke rumah sakit. Ketika sampai di rumah sakit, Jihye tidak berhasil diselamatkan. Karena kanker otaknya sudah berada distadium akhir. Jihoon memeluk jasad adiknya, dia menangis dengan keras.
Tiba saatnya pemakaman Jihye, saat ceremony pemakaman Jihye berlangsung. Jihoon hanya diam saja. Kini ia tinggal sebatang kara, seusai pemakaman Jihye dia berdiam diri sambil memegang batu nisan yang menuliskan nama Jihye. Jihoon berjanji, dia akan menjadi orang yang sukses agar seluruh anggota keluarganya yang telah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa dapat bangga dengan dirinya. Terutama adiknya Jihye, dengan mata milik Jihye ini dia akan menggunakannya dengan baik untuk berkarir menjadi seorang pemusik.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Letting Go (One Shot)
Ficção AdolescenteCast: - Park Jihoon as Jihoon - Park Jihye as Jihye
