Pelajaran 1 - Introspeksi Diri

86 3 0
                                        

Ibu, mendengarnya membuat hati ini terenyuh. Siapa yang tidak takjub akan hati lembutnya? Kesabaran dan keteguhan yang tidak pernah aku temukan pada manusia yang kulihat secara zahir di dunia yang fana ini.
Ibu, dia tidak pernah memaksaku untuk melakukan hal yang terlampau berat bagiku. Inginnya hanya satu. Anaknya bahagia. Hei ibu, tahukah bahwa kebahagiaanku adalah saat melihat senyum tulusmu?
Kata ibu, aku harus berintrospeksi diri. Aku masih ingat cerita saat aku masih kecil lho! Jadi..
Aku itu adalah anak kecil yang penuh rasa ingin tahu. Terkadang sembrono. Sampai ibuku memarahiku. Lalu, tiba di saat puncak kemarahan ibuku.
Pantas lah beliau marah, anaknya dinasihatin njawal terus.
"Kamu nih dinasihatin njawab terus," ucapnya di ujung letih seusai membersihkan rumah.
"Kamu itu harus introspeksi sayangku, anak mamah yang cantik. Introspeksi itu berkaca diri," lanjutnya.
Sontak aku diam. Iya lah aku diam, baru pernah aku mendengar kata selucu itu. Introspeksi.
Lalu ingatanku berlanjut saat aku sedang duduk di kursi kayu sekolahku. Di sebelahku ada murid baru yang bernama Nadine. Aku sering bertengkar dengannya. Sampai suatu saat, Nadine berkata,
"Kamu kalau dibilangin njawab terus ya? Kamu kalau di rumah selalu njawabin orang tua kamu ya kalo dibilangin?," sahutnya.
Ngerti seko ndi aku ngono kuwi, batinku.
And since that aku lebih berhati-hati. Aku rajin untuk berintrospeksi. Jazakillahu khayran mama, aku bakal ingat terus perkataan mama.
Dan pas sudah besar, aku menemukan kata baru yang membuatku lebih tertarik dengan kata itu. Muhasabah.
Boom syakalaka. Eitt. MasyaaAllah maksudnya. Yaps, mulai saat itu dan sampai tuaku di bumi, insya Allah akan aku tanamkan untuk selalu bermuhasabah diri. Menghisab dosa-dosaku, sebelum akhirnya semua pergerakanku disidang di yaumul hisab.
Aku menantangmu kali ini. Sudahkah kamu bermuhasabah diri?
Jika kamu hari ini bangun kesiangan, apakah kamu cukup dengan menyesal dan mengakhiri harimu dengan bermalas-malasan?
Atau kamu bertekad, menuliskannya, mendidik dirimu untuk tidak mengulanginya lagi?
Aku yakin kamu termasuk ke dalam cluster kedua.
The last.
Tetaplah berbakti kepada orang tuamu, bermuhasabah dirilah, dirimu pantas untuk bahagia.

=====
✍🏻 Asy-Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafizhahullah

📫 Pertanyaan:

كيف تتم محاسبة النفس في رمضان؟

Bagaimana menyempurnakan muhasabah diri pada bulan ramadhan?

🔓 Jawaban:

تتم محاسبة النفس، كل يحاسب نفسه يتذكر أعماله، ويتذكر ما صدر منه من الذنوب، ومن المخالفات، فيتوب إلى الله، وكل يعرف نفسه، كل يعرف عمله

Muhasabah diri bisa sempurna dengan cara setiap jiwa mengintrospeksi dirinya masing-masing, yaitu mengingat amalan-amalan yang telah dia lakukan, mengingat dosa-dosa yang telah dia perbuat dan juga segala bentuk penyelisihan terhadap (syariat Allah), yang kemudian dia bertaubat kepada Allah.
Dan masing-masing orang mengetahui keadaan dirinya dan mengetahui tentang amalannya.

🌎 Kunjungi || http://forumsalafy.net/muhasabah-diri-di-bulan-ramadhan/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Birrul WalidainWhere stories live. Discover now