Hari-hari yang Lucy lalui selama ini hanyalah kekosongan belaka. Sejak dia SMP dia memang tidak banyak memiliki teman. Banyak yang beranggapan kalau dia hanya membawa beban, merepotkan, terkadang dia dianggap perusak hubungan orang dan teman-teman Lucy banyak yang mulai menjauhinya.
Kini Lucy selalu sendirian, tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya. Dia memang selalu dapat kelompok saat kerja kelompok, namun itu semua hanyalah alasan teman –temannya agar terlihat baik oleh guru-guru mereka. Saat bekerja kelompok pun. Lucy memang memberikan tanggapannya, tapi tidak seorangpun mau mendengarkannya.
'Untuk apa aku disini?'
Semenjak itu Lucy pun kembali diam dan tak banyak komentar. Dia hanya memerhatikan teman sekelompoknya berpresentasi, dia hanya menundukan kepalanya dan tidak mempedulikan apapun.
Meski selalu sendirian dan sering di fitnah. Lucy tetap menjalani harinya dengan iklas. Dia tidak pernah menanggapi perkataan orang tersebut, tapi terkadang perkataan tersebut juga membuat beban pikiran Lucy bertambah.
Lucy selalu berharap agar kejadian saat SMP tidak terulang kembali di SMA. Namun harapan tidak sesuai kenyataannya, kini Lucy kembali merasakan kesepian dan bahkan Lucy malah menjadi sasaran bully-an.
Setiap pagi Lucy harus membersihkan mejanya yang selalu penuh sampah dan coretan spidol. Saat jam istirahat dia harus menahan diri ketika dia dibicarakan dan dilempari kertas oleh murid-murid lain dan saat jam olahraga berakhir dia harus merapihkan dan menyimpan peralatan olahraga dengan rapih di gudang, lalu dia juga harus menahan dingin ketika di banjur oleh teman-temannya setelah meletakan peralatan olahraga digudang.
Lucy tidak bisa melawan mereka, bagi Lucy jika mereka melakukan ini artinya mereka merasakan kehadirannya di sekolah. Meskipun sebenarnya Lucy merasa tersiksa dan selalu menangis di atap sekolahnya sambil memankan biolanya, melukiskan kisah hidupnya melalui alunan musik dengan sebuah harapan kalau semua yang dia alami kini akan mendapat hikmah dan akhir yang bahagia.
--------
Favorit Fadlan adalah duduk di bawah pohon besar di belakang sekolah sambil bermain gitarnya dan mendengarkan alunan musik biola dari atap sekolah. Musik biola dengan nada yang menggambarkan keputus asaan seseorang. Fadlan selalu mengiringi nada itu dengan gitarnya dan dia selalu penasaran siapa sebenarnya orang yang selalu bermain biola dengan nada keputus asaan itu? Jika dia mengetahuinya, dia ingin sekali berkenalan dan melakukan duet dengannya.
Setiap kali jam Istirahat saat menuju taman belakang sekolah, Fadlan diam-diam suka mencari tahu siapa sosok itu. Namun jika diperhatikan, ada sepuluh orang lebih di sekolah ini yang jago bermain biola. Tapi, dari sepuluh orang, Fadlan hanya mengenal lima orang saja dan tak satupun dari mereka yang bermain di atap sekolah, mereka menjelaskan hanya bermain saat jam ekstrakulikuler saja. Fadlan semakin penasaran dengan sosok itu.
Esoknya, Fadlan sedang duduk di bawah pohon, seperti biasa. Namun kali ini, dia begitu serius menatap ke atap sekolah. Dia sengaja memerhatikan atap sekolah agar bisa melihat sosok itu. Tak lama, Fadlan mendapatkan sosok yang memainkan alunan musik itu. Dia seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang terurai, dengan postur tubuh yang indah bergerak menari kecil mengikuti alunan musik yang dia mainkan. Dia terlihat cantik, meski samar. Di pertengahan lagu, tiba-tiba dia menghentikan permainannya dan menangis. Fadlan tidak tau kenapa dia begitu sedih. Jika dia mengenal sosok itu, ingin sekali Fadlan menenangkannya agar dia tidak bersedih lagi.
--------
YOU ARE READING
Me and You [HIATUS]
Teen FictionAlunan nada musik yang mempertemukan kita dan rasa egois membuat kita menjauh
![Me and You [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/149713836-64-k589578.jpg)