| 🌀Ainvier🌀 | Prologue |

139 10 39
                                        

Cahaya senja menenggelamkan aktivitas dan juga kesibukan umat manusia sebagai makhluk di permukaan bumi. Langit berwarna orange dipadu lembut merah muda tampak selaras dengan setitik cahaya diujung pandangan mata yang ingin segera menghilang dari atas sana. Gadis berkaos putih sedang berdiri di atas balkon kamar rumahnya yang menghadap barat itu sambil memerhatikan setiap rinci detik-detik suasana indahnya matahari terbenam.

Gadis itu menopang dagu dengan tangannya yang bertumpu diatas pagar balkon. Ia menguap lebar dan mengerjap beberapa kali padahal jam baru menunjukkan pukul enam sore. Ia memiringkan kepalanya untuk menyamankan posisinya sampai sebuah suara menginterupsinya.

"Lah bocah, disuruh kebawah tuh!, daritadi dipanggil diam aja kaya patung monumen!" suara seorang remaja laki-laki yang berdiri santai sambil bersandar pada bingkai pintu balkon yang terbuka dengan memegang apel yang sudah digigit di tangan kanannya.

"Iya kak, iya" jawab gadis yang biasa dipanggil Ailna tersebut tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

Hening beberapa saat dan Ailna masih tetap bergeming di tempatnya. Remaja laki-laki yang juga kakak Ailna pun masih asyik mengunyah apel yang dibawanya. Bosan menunggu adiknya yang lama diam seperti anak durhaka yang dikutuk menjadi batu, akhirnya remaja laki-laki itu menyeringai sendiri dan berteriak dengan kata-kata dari ide yang terlintas otaknya.

"MA! AILNA NENDANG PISANG DARREL SA-!" teriak laki-laki bernama Darrel tersebut dengan seringaian jahil di wajahnya. Namun, belum selesai teriakkannya menggema ke seluruh ruangan langsung dipotong.

"Eh, apaan sih!. Fitnah banget Darrel, ih!" sela Ailna kesal.

Ailna langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju laki-laki bernama Darrel tersebut. Ailna mengacung jari telunjuknya tepat didepan wajah kakaknya itu.

"Lo kan kesini bawa apel, bukan pisang!, pake nuduh gue yang nendang. Gue nggak ngapa-ngapain juga daritadi!" cerocosnya lagi sebelum laki-laki didepannya sempat berbicara.

Darrel melongo.

"Serah lo dah!. Heran gue, lo polos banget, elah" ucap Darrel sambil berlalu dari kamar adik perempuannya yang masih sibuk mencerna kata-katanya.

Ailna yang masih menatap punggung kakaknya dengan bingung beralih menatap jam digital yang berada diatas nakas tepat disebelah tempat tidurnya. 18.15. Ailna langsung menutup pintu kaca balkon kamarnya dan menuju pintu putih yang terbuka untuk keluar dari kamarnya yang bernuansa putih dengan sentuhan warna biru muda dan ungu itu.

Ailna menyusul Darrel yang berada di tangga menuju ke lantai satu rumah yang terbilang besar itu dan menuju ke meja makan persegi panjang yang ada dirumah mereka. Seorang wanita cantik berusia 40-an keatas tersebut duduk salah satu sisi meja sambil membantu menyiapkan hidangan yang tersaji disepanjang permukaan meja yang terbilang cukup panjang dan lebar tersebut.

Satu orang lagi seorang wanita paruh baya yang sibuk membawa makanan dari dapur dan menaruhnya diatas meja dengan sigap. Wanita paruh baya itu berdiri di sudut meja itu lalu tersenyum melihat kedatangan dua remaja yang ikut bergabung di meja makan tersebut.

"Mas Darrel dan mbak Ailna mau minta diambilkan sesuatu?" tanya wanita paruh baya yang bernama Ratna tersebut.

"Nggak ada kok. Thanks, Bi Ratna." jawab Darrel.

Bi Ratna meninggalkan meja dan menuju dapur. Darrel dan Ailna langsung mengambil tempat duduk di sisi seberang wanita yang ikut tersenyum melihat mereka berdua.

"Ada apa, ma?" tanya Ailna tanpa basa-basi.

Wanita itu hanya tersenyum lembut dan menoleh menatap Darrel.

AINVIERStories to obsess over. Discover now