Hai!
Namaku Keyla Hirlly, lahir di London, Inggris. Ayahku seorang CEO Perusahaan terbesar kedua disana, ibuku sekertaris pribadinya, romantis sekali bukan? Mereka? Selalu bersama. Aku mempunyai seorang kakak, namanya Gin Stevan, umurnya 22 tahun, aku 3 tahun lebih muda darinya. Dan hari ini adalah hari istimewa ku. Hari ulang tahun yang ke-19 ku. Walau bukan di kota kelahiranku.
Paris, 1 Januari 2020
"Happy Birthday Keyla, Happy Birthday Keyla, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Keyla..."
Seruan itu membuatku terharu kini. Pesta yang tak terlalu megah tapi aku menyukainya. Hanya ada aku, ayah dan ibu ku, kakakku, sahabatku, dan kekasihku.
"Tiup Tiup Tiup,"
Mendengar itu aku pun meniup lilin berbentuk angka 17 itu. Seperti anak kecil? Aku tak perduli, kebahagian banyak caranya bukan? Dan ini kebahagiannku.
"Keyla ini kado dariku," ucap Erly, dia sahabatku.
"Terimakasih ya, kau sahabat terbaik ku,"
Aku menerima kotak berbentuk persegi panjang warna dark berpita biru lalu memeluknya.
"Sudah kah acara peluk- memeluknya?" tanya seorang lagi, dia... Kakakku,
"Hehe, sudah kok," balas ku.
"Ini dari ku, semoga suka," ucapnya singkat, memberikan kotak yang sama seperti milik Erly, warnanya saja yang berbeda, warna silver dengan pita hitam disudut kotak.
"Apa ini isinya?" tanyaku
"Kalau aku jawab ga suprise lah, nanti buka sendiri, ku tinggal ya," jawabnya, pergi kelantai atas. Mungkin ingin tidur,
"Keyla, ini dari ayah dan ibu," kini giliran ayah dan ibuku yang memberikan hadiah untukku. Cukup besar juga kadonya. Aku pun ingin membuka kado itu, tapi ibu melarang,
"Jangan dibuka dulu, nanti saja, sekarang kita makan saja," ucap ibu ku
Aku hanya tersenyum menanggapi,
Makan malam kali ini sangat berbeda untukku, dengan ayah dan ibu, serta sahabatku, kulihat kakakku juga telah menuruni tangga, ikut bergabung dengan kami.
"Keyla, bagaimana sekolahmu? Maaf ya kami jarang menanyakan keadaanmu nak," tanya ibuku disela-sela acara itu,
"Baik bu, tidak apa aku mengerti kok," jawabku
Sekarang ibu beralih memandang Erly dan kekasihku, ia tersenyum
"Erly, Kharel, terimakasih ya sudah mau menjadi sahabat Keyla," ujarnya
"Iya tante," Erly balas tersenyum
Aku senang setidaknya ada kebahagiaan yang menghampiriku kini, walau hanya sesaat.
"Tante boleh saya pinjam anaknya sebentar?" kali ini suara lain menampakkan diri, Kharel.
"Ya boleh boleh, tapi jangan lama-lama ya," jawab ibuku,
"Mau kemana?" tanya ku setelah kami keluar dari rumahku.
"Nanti juga tahu,"
Mengembungkan pipiku, itulah yang ku lakukan,
'kenapa semua orang membuatku kepo sih?' batinku
Dan disinilah kami berdiri sekarang, Eiffel tower
"Kenapa membawaku kesini?"
"Sudah dua tahun berlalu ya?" bukannya menjawab, Kharel malah balik bertanya.
"Sekarang apa do'a mu di tahun ini?" lanjutnya lagi,
"Apa penting aku memberitahu mu?"
"Jika kau mau saja," setelah menjawab itu, Kharel tersenyum, baru kali ini ia terlihat berbeda. Aku sampai lupa bertapa dinginnya dia dulu.
"Kau sangat berbeda dari dua tahun lalu,"
"Jangan mengungkit masalalu, kau tak tahu betapa sulitnya aku berdiri,"
Mendengar itu aku hanya tersenyum.
***
YOU ARE READING
New Page
Teen Fiction"Aku selalu percaya bahwa yang pertama akan menjadi yang terakhir, bisa dibilang selamanya lah," ucap seorang gadis dengan optimisnya. Keyla. "Kamu terlalu optimis, bagaimana jika tidak?" tanya temannya balik "..." Terkadang yang pertama belum tentu...
